Misi Penyelamatan di Nepal: Dua Pekerja Selamat dari Terowongan PLTA yang Terkubur Longsor
Baca dalam 60 detik
- Setelah banjir bandang dahsyat di perbatasan Nepal-Tibet, dua pekerja berhasil dievakuasi hidup dari terowongan pembangkit listrik tenaga air yang terkubur material longsor.
- Tim penyelamat internasional menggunakan teknik triangulasi dengan peta topografi lama dan citra satelit untuk menemukan titik masuk yang terkubur, kemudian menggali terowongan kecil untuk menjangkau para korban.
- Operasi penyelamatan masih berlanjut karena puluhan pekerja lainnya diperkirakan masih terjebak di dalam, dengan tim menargetkan mencapai 'zona Goldilocks' di bagian atas pembangkit.

Dua pekerja yang terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Trishuli 3A di Nepal berhasil diselamatkan pada Jumat lalu, setelah upaya penyelamatan yang digambarkan sebagai 'tumpukan keajaiban' oleh seorang ahli terowongan internasional. Arnold Dix, presiden International Tunnelling and Underground Space Association yang terlibat langsung dalam operasi ini, mengungkapkan bahwa proses evakuasi tersebut penuh dengan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bencana banjir bandang yang melanda kawasan perbatasan Nepal-Tibet pekan lalu telah menewaskan sedikitnya 1.300 orang dan mengubah lanskap secara drastis. Terowongan PLTA yang sebelumnya berada di lereng bukit kini terkubur di bawah tanah, sehingga tim penyelamat harus bekerja ekstra untuk menemukan titik masuk yang tepat. "Saya belum pernah tahu operasi penyelamatan di mana Anda harus mencari pintu masuk terowongan yang tadinya di atas bukit, kini berada di bawah tanah. Bisa dibayangkan besarnya longsor yang menutup pintu masuk itu," ujar Dix kepada BBC.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Dix dan timnya menggunakan kombinasi teknik rekayasa, peta topografi lama, citra satelit pascabencana, rekaman video helikopter, serta penanda permukaan seperti tiang listrik. Dengan data itu, mereka melakukan triangulasi untuk memperkirakan posisi pintu masuk, lalu mulai menggali. Setelah berhasil menemukan pintu masuk, tantangan berikutnya adalah menemukan para korban yang masih hidup di dalam terowongan yang dipenuhi lumpur dan batu-batu besar, beberapa di antaranya lebih besar dari mobil.
Karena terowongan tersumbat total, tim penyelamat terpaksa menggunakan bahan peledak untuk membersihkan material, sebuah langkah yang sangat berisiko. "Kami biasanya tidak pernah menggunakan bahan peledak karena berisiko melukai orang yang terjebak dan juga tim kami sendiri," jelas Dix. Dia memuji tentara Nepal yang dinilai melakukan pekerjaan luar biasa dalam mengendalikan ledakan dengan presisi agar tidak mengguncang struktur terowongan. Selain itu, mereka juga menemukan bahwa terowongan masih dipenuhi air, sehingga para penyelamat menggali serangkaian parit dari terowongan ke sungai di luar untuk mengalirkan air.
Setelah berhasil mengeringkan sebagian area, mereka menggali lorong kecil seukuran tubuh manusia di bagian atas puing-puing. "Keuntungan dari lokasi ini adalah kami bisa memanfaatkan atap terowongan asli sebagai atap lorong kecil kami. Ini juga mengurangi risiko banjir," kata Dix. Pada Jumat dini hari, tim mendengar suara yang diduga berasal dari para korban. Setelah meneriakkan "jangan khawatir, kami di sini untuk menyelamatkan Anda", mereka mendengar jawaban samar "oke". Tak lama kemudian, Sanjaya Shah dan Kabir Maharjan berhasil dikeluarkan dalam keadaan hidup.
Meski berhasil menyelamatkan dua orang, operasi penyelamatan masih jauh dari selesai. Dix memperkirakan timnya telah menggali sekitar 60 meter dari pintu masuk, dan masih perlu menggali 150 meter lagi untuk mencapai pembangkit listrik yang berada jauh di dalam gunung. Para penyelamat berharap material longsor tidak sampai menghantam pembangkit, karena jika itu terjadi, "akan ada segala macam komplikasi โ siapa pun di pembangkit bisa tertimpa batu dan lumpur atau bisa terendam banjir".
Tim di lapangan masih menghadapi bahaya besar. "Di depan, bahkan sekarang, kami bisa saja menemukan air yang bisa menenggelamkan orang yang menggali. Kami juga menghadapi risiko banjir susulan dari luar, sehingga air bisa datang dari belakang. Jadi ada risiko menghadapi air dari kedua ujung," ungkap Dix. Meski demikian, keberhasilan penyelamatan Jumat lalu memberi semangat baru bagi tim. "Ini sebuah kelegaan besar, kami berada di jalur yang benar. Ini memberi kami energi baru bahwa pemikiran kami tentang cara melakukan penyelamatan berhasil... kami belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya," katanya.
Dix menyebut timnya kini bergerak menuju apa yang dia sebut sebagai "zona Goldilocks", yaitu area di bagian paling atas pembangkit listrik yang dianggap lebih ramah bagi kehidupan. Di zona tersebut, terdapat ruang yang memungkinkan para korban bertahan hidup. "Kami berhasil mengeluarkan dua orang. Jika kami bermain di kasino, sebagian orang mungkin berkata sudah waktunya berhenti, tapi kami bilang permainan terus, saatnya melawan bandar," ujarnya penuh tekad.
Operasi penyelamatan di Nepal ini menjadi sorotan global, mengingat kompleksitas dan risiko yang dihadapi. Bagi Indonesia, bencana serupa juga mengancam wilayah rawan longsor dan banjir, terutama di daerah pegunungan. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan teknologi dalam penanganan bencana, serta perlunya kerjasama internasional dalam situasi darurat. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah tim penyelamat berhasil menjangkau lebih banyak korban sebelum waktu habis?



