Agen Bongkar Rahasia Transfer Tonali dan Ahanor: Italia Punya Talenta, Tapi Tantangan Serie A Jelas
Baca dalam 60 detik
- Agen Sandro Tonali dan Honest Ahanor membeberkan di balik layar dua transfer terbesar Italia ke Premier League, menegaskan kualitas pemain muda Italia.
- Kepindahan Tonali ke Tottenham senilai €115 juta menjadikannya pemain Italia termahal, sementara Ahanor diboyong Chelsea dengan nilai €46 juta.
- Serie A kini menghadapi pekerjaan rumah besar: mempertahankan talenta muda sebelum mereka direbut klub kaya Premier League.

Jendela transfer musim panas lalu meninggalkan satu pesan gamblang bagi sepak bola Italia: talenta muda Negeri Pizza tidak pernah kehabisan stok. Klaim itu disuarakan langsung oleh Giuseppe Riso, agen yang menangani dua nama besar yang hijrah ke Premier League—Sandro Tonali dan Honest Ahanor. Dalam wawancara dengan Tuttosport, Riso menguraikan dinamika di balik dua kesepakatan yang mengguncang pasar, sekaligus melontarkan kritik halus kepada Serie A yang kerap kehilangan bintang sebelum sempat dinikmati kompetisi domestik.
Tonali resmi menjadi pemain Italia termahal sepanjang sejarah setelah pindah dari Newcastle ke Tottenham dengan nilai sekitar €115 juta. Bagi Riso, rekor itu bukan sekadar angka, melainkan buah dari kerja panjang dan kematangan sang pemain di lapangan. "Saya hanya melakukan beberapa panggilan telepon tambahan," ujarnya sembari tersenyum. Yang lebih penting, Tottenham sejak awal menunjukkan keseriusan luar biasa. "Ketika sebuah klub membuat Anda paham bahwa pemain adalah prioritas utama, segalanya menjadi lebih mudah," tambah Riso.
Di sisi lain, Ahanor, bek sayap berusia 18 tahun, menjadi sorotan setelah Chelsea menebusnya dari Atalanta dengan mahar €46 juta. Pemain yang baru setahun lalu menjadi pemain U17 Italia termahal kedua saat pindah dari Genoa ke Atalanta seharga €15 juta plus bonus ini, kini harus menjalani musim peminjaman di Crystal Palace sebelum benar-benar bergabung dengan The Blues pada 2027-2028. Riso menilai kepindahan ini sebagai bukti bahwa Italia masih mampu melahirkan dan mengasah talenta kelas dunia. "Jika anak semuda ini mencapai nilai pasar setinggi itu, artinya kami masih punya talenta dan tahu cara mengembangkannya," katanya.
Riso tidak menampik bahwa Premier League adalah magnet yang sulit ditolak. Ia bahkan menyebut liga Inggris sebagai "NBA-nya sepak bola" karena kemampuannya mempercepat pertumbuhan pemain. Menurutnya, pengalaman bermain di kompetisi seketat itu justru akan membuat para pemain Italia kembali ke tim nasional dengan kualitas lebih matang. Namun, ia juga menekankan bahwa Serie A harus berbenah. "Tantangan sesungguhnya bagi Serie A adalah menciptakan kondisi agar para pemain muda ini bisa berkembang di sini, sebelum akhirnya terpaksa menjual mereka," tegas Riso.
Fenomena ini bukan tanpa relevansi bagi Indonesia. Ketika klub-klub Eropa berlomba merekrut pemain muda dari berbagai belahan dunia, pelajaran berharga bisa dipetik: pembinaan usia dini yang serius akan selalu berbuah. Indonesia dengan populasi muda yang besar memiliki potensi serupa, tetapi butuh infrastruktur dan kompetisi berjenjang yang konsisten. Jika Italia saja—dengan sejarah panjang sepak bolanya—masih kesulitan mempertahankan talenta, bagaimana dengan negara yang ekosistem sepak bolanya masih berkembang seperti Indonesia?
Kepergian Tonali dan Ahanor ke Inggris memang menguntungkan secara finansial bagi klub-klub Italia. Namun, pertanyaan besarnya adalah: akankah Serie A terus menjadi ladang subur yang dipanen klub asing, atau justru mampu membangun kandang sendiri yang membuat para pemainnya betah? Jawabannya akan menentukan wajah sepak bola Italia dalam satu dekade ke depan—dan bisa menjadi cermin bagi liga-liga lain di dunia, termasuk Indonesia.



