Jane Fonda Tak Gentar Hadapi Trump: 'Dia Tak Bisa Berbuat Apa-apa pada Saya'
Baca dalam 60 detik
- Aktris legendaris berusia 88 tahun itu menegaskan kembali komitmennya pada kebebasan berpendapat di tengah meningkatnya tekanan politik di AS.
- Fonda menghidupkan kembali Komite Amandemen Pertama, sebuah gerakan yang pernah dipelopori ayahnya untuk melawan McCarthyisme pada 1950-an.
- Ia mengamati perubahan sikap warga AS, termasuk pendukung Trump, yang mulai menolak kebijakan imigrasi dan pembangunan pusat data AI.

Jane Fonda, ikon Hollywood yang kini genap berusia 88 tahun, melontarkan pernyataan tegas di tengah hiruk-pikuk politik Amerika Serikat: ia sama sekali tidak takut terhadap Presiden Donald Trump. Dalam wawancara dengan Variety, bintang film klasik itu menegaskan bahwa Trump tidak memiliki kuasa apa pun atas dirinya, sebuah sikap yang ia sampaikan dengan tenang namun penuh makna di saat banyak warga AS merasa ragu untuk bersuara.
Pernyataan itu muncul ketika Fonda giat mengajak publik bergabung dalam Komite Amandemen Pertama yang ia hidupkan kembali pada 2025. Komite ini, yang pertama kali berdiri pada 1947, merupakan wadah nonpartisan untuk membela kebebasan berbicara dan berekspresi. Menariknya, ayah Fonda, aktor legendaris Henry Fonda, adalah salah satu anggota awal komite tersebut ketika dibentuk sebagai respons terhadap praktik McCarthyisme yang mencekik kebebasan berpendapat pada era 1950-an.
Fonda mengakui bahwa situasi saat ini tidak sama bagi semua orang. "Saya sudah menjalani hidup saya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa pada saya. Saya tidak takut," ujarnya, "tetapi itu tidak berlaku untuk semua orang, dan saya memahaminya." Justru karena itulah ia mendorong partisipasi publik dalam gerakan yang ia rintis sejak 1 Oktober tahun lalu. Ribuan anggota telah bergabung, dan Fonda menyebutnya sebagai upaya membangun komunitas yang solid.
Di luar persoalan kebebasan berbicara, Fonda menyoroti perubahan signifikan di AS yang ia sebut sebagai "pergeseran". Menurutnya, semakin banyak warga biasa yang berani bersuara, terutama karena taruhannya kini menyangkut kelangsungan hidup mereka. Ia mencontohkan ancaman AI yang bisa menggantikan pekerjaan manusia serta pembangunan pusat data yang merusak lingkungan di lingkungan tempat tinggal warga. "Republikan dan Demokrat sama-sama berdiri dan berkata, 'Tidak, Anda tidak akan menempatkan pusat data di komunitas saya,'" katanya.
Fonda juga mengamati bahwa bahkan pendukung setia Trump mulai terusik oleh kebijakan yang dinilainya kejam dan kacau. "Mereka tidak suka pemimpin mereka mengambil untung dari penderitaan dan kekejaman," ujarnya. Kritik terhadap perlakuan terhadap imigran dan kekacauan politik yang terjadi kini mulai menggema di kalangan yang sebelumnya bungkam. Ini, menurut Fonda, adalah tanda bahwa kesadaran kolektif sedang terbangun.
Bagi pembaca di Indonesia, sikap Fonda ini menarik dicermati sebagai cermin dinamika demokrasi di negara adidaya. Di tengah maraknya disinformasi dan polarisasi, keberanian seorang figur publik untuk membela kebebasan berpendapat menjadi pengingat bahwa suara individu tetap relevan. Meski konteks politik AS berbeda jauh dengan Indonesia, semangat untuk mengawal ruang demokrasi dan menolak kebijakan yang merugikan publik adalah nilai universal yang bisa dipetik.
Langkah Fonda menghidupkan kembali komite yang pernah melawan McCarthyisme juga mengundang pertanyaan: apakah sejarah akan berulang dalam bentuk baru? Dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap AI dan pengawasan digital, perjuangan untuk kebebasan sipil mungkin akan memasuki babak baru. Yang jelas, suara Fonda tidak hanya mewakili dirinya sendiri, tetapi juga kegelisahan banyak warga yang merasa hak-hak mereka tergerus. Pertanyaannya, akankah gerakan ini cukup kuat untuk mengubah arah kebijakan di AS?



