Katseye Pukau London Meski Tanpa Dua Personel: Bukti Popularitas yang Tak Tergoyahkan
Baca dalam 60 detik
- Grup pop Katseye sukses menggelar konser di O2 Arena London meski dua personelnya absen karena masalah kesehatan.
- Penampilan mereka membuktikan daya tarik besar di Inggris, menjadi artis paling banyak diputar di YouTube UK.
- Absennya Manon dan Sophia memicu perbincangan tentang beban kerja dan kesehatan mental di industri K-Pop.

Grup pop asal Los Angeles, Katseye, tetap mampu memukau ribuan penggemar dalam konser perdananya di Inggris, meski harus tampil tanpa dua personel inti. Dalam gelaran yang berlangsung di O2 Arena, London, Kamis malam, energi penonton nyaris tidak surut sepanjang tiga jam pertunjukan—sebuah bukti bahwa popularitas mereka di Inggris tengah memuncak meski diterpa badai masalah internal.
Dibentuk pada 2023 lewat ajang realitas online The Debut: Dream Academy, Katseye merupakan kolaborasi antara Hybe, raksasa hiburan Korea Selatan di balik BTS, dan Geffen Records, label yang menaungi Olivia Rodrigo. Dari 120.000 pelamar awal, hanya enam yang berhasil menembus seleksi ketat. Mereka menjalani pelatihan ala K-Pop yang disiplin, dan pada 2025 namanya melejit berkat single "Gnarly" dan balada "Gabriela" yang menyoroti akar Kuba-Venezuela personel Daniela Avanzini.
Namun, di balik kesuksesan itu, dua personel—Manon Bannerman dan Sophia Laforteza—harus mengambil cuti karena alasan kesehatan. Manon, penyanyi asal Swiss-Ghana, mundur pada Februari setelah mengungkapkan pengalaman rasis dan ancaman kematian yang dialaminya. Sementara Sophia menyusul pada April demi melindungi kesehatan mentalnya. Kondisi ini memicu perdebatan tentang jadwal padat yang membebani personel, sebuah isu yang kerap menghantui industri K-Pop.
Meski kehilangan dua vokalis utama, konser di London tetap berjalan dinamis. Personel yang tersisa—Yoonchae Jeong, Megan Skiendiel, Lara Raj, Daniela, dan lainnya—berusaha keras mengisi kekosongan. Mereka membawakan lagu-lagu dengan aransemen yang tetap solid, termasuk mempertahankan vokal rekaman Sophia untuk beberapa nomor, sementara bagian Manon dibawakan oleh personel lain. Penonton, yang didominasi anak muda, tampak hafal setiap gerakan dan lirik, bahkan ada yang menangis haru.
Konser ini juga menjadi ajang pembuktian kemampuan vokal mereka di tengah tuduhan lipsync yang sempat mencuat setelah pembukaan tur di Dublin. Dari pengamatan di lokasi, mikrofon para personel ternyata menyala sepanjang malam, dengan backing track hanya sebagai pelengkap. Penampilan Lara dalam lagu solo "unloveu"—yang ditulis sendiri oleh personel—menunjukkan potensi musikalitas yang melampaui sekadar pop komersial.
Fenomena Katseye menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Pasar musik Indonesia yang besar dan basis penggemar K-Pop yang kuat menjadikan grup ini punya peluang besar untuk merambah Asia Tenggara. Namun, kasus ini juga menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara tuntutan industri dan kesehatan personel. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan berlebihan bisa menjadi bumerang, seperti yang terjadi pada beberapa idola K-Pop lain yang harus hiatus panjang karena kecemasan.
Melanie C, personel Spice Girls, yang sempat berbincang dengan Katseye, memuji etos kerja mereka. "Mereka bekerja sangat keras," ujarnya. Namun, ia juga mengakui adanya "sedikit drama" yang memang lumrah terjadi pada band. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa di balik gemerlap panggung, para personel tetap manusia biasa yang rentan terhadap tekanan.
Menjelang akhir konser, Yoonchae berjanji, "Ini bukan perpisahan. Kami akan kembali." Pertanyaan besarnya, akankah Manon dan Sophia pulih dan bergabung kembali? Jika ya, bukan tidak mungkin Katseye akan segera mengumumkan tur Asia, termasuk Indonesia, yang tentu akan disambut antusias penggemar setia mereka di tanah air.



