Diplomasi Aktif Prabowo Dinilai Angkat Martabat Indonesia di Mata Dunia
Baca dalam 60 detik
- Kehadiran Prabowo sebagai tamu utama di EEF ke-11 memperkuat posisi tawar Indonesia dalam isu pertahanan, ekonomi, dan iklim.
- Peneliti menilai setiap kunjungan kenegaraan kini sarat agenda konkret, bukan sekadar seremonial.
- Langkah ini berpotensi membuka peluang investasi dan kerja sama strategis baru bagi Indonesia di kawasan Asia-Pasifik.

Langkah Presiden Prabowo Subianto yang gencar meramaikan forum-forum internasional mulai membuahkan pengakuan. Peneliti Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro, menilai kehadiran kepala negara di berbagai ajang global, termasuk yang terbaru di Vladivostok, Rusia, telah mengerek posisi Indonesia dari sekadar penonton menjadi pemain yang diperhitungkan.
Menurut Bawono, undangan sebagai tamu kehormatan di Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 pada awal September lalu merupakan sinyal nyata. โDi era Prabowo, Indonesia jauh lebih aktif dan itu membuat negara lain segan,โ ujarnya di Jakarta, Jumat. Pernyataan ini muncul setelah Prabowo menghadiri forum yang digelar 1โ4 September 2026 dengan tema pembangunan kawasan Timur Jauh untuk kesejahteraan rakyat.
Yang menarik, keaktifan ini tidak sekadar mengejar prestise. Bawono menggarisbawahi bahwa setiap perjalanan dinas Prabowo selalu membawa agenda strategis yang menyentuh kepentingan nasional, mulai dari kerja sama pertahanan dan keamanan, perdagangan, hingga perubahan iklim. Artinya, diplomasi yang dijalankan bukan untuk pamer, melainkan untuk membuka pintu-pintu kesepakatan yang selama ini mungkin sulit dijangkau.
Di tengah rivalitas negara besar, Indonesia justru mengambil posisi yang unik. Dalam pidatonya di EEF, Prabowo menegaskan kembali komitmen politik luar negeri bebas aktif. Ia bahkan menyindir perjalanan diplomasinya dengan analogi yang menarik: tahun lalu Indonesia hadir di forum St. Petersburg untuk mencari teman, kini hadir di Vladivostok untuk mengubah persahabatan itu menjadi hasil yang pragmatis.
Bagi Indonesia, manuver ini memiliki arti penting di tengah dinamika geopolitik yang kian cair. Dengan mendekat ke Rusia tanpa meninggalkan mitra tradisional seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, Jakarta menunjukkan kapasitasnya untuk menjalin hubungan yang saling menguntungkan. Bagi pelaku usaha, ini bisa menjadi angin segar: terbukanya akses ke pasar dan teknologi baru, terutama di sektor energi dan infrastruktur yang selama ini didominasi oleh aktor-aktor tertentu.
Namun, perlu dicermati bahwa gaya diplomasi yang agresif juga membawa risiko. Ketegangan antara blok Barat dan Rusia masih membara, dan setiap langkah Indonesia akan diawasi ketat. Pertanyaannya, apakah pemerintah mampu menjaga keseimbangan tanpa terjebak dalam pusaran kepentingan asing? Atau justru sebaliknya, Indonesia akan semakin luwes memainkan peran sebagai jembatan?
Ke depan, publik tentu berharap agenda-agenda yang dibawa dalam forum semacam EEF tidak berhenti pada pidato dan foto bersama. Ukuran keberhasilan sejati adalah realisasi kerja sama yang bisa dirasakan langsung oleh rakyat, baik melalui peningkatan investasi, lapangan kerja, maupun penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Satu hal yang pasti, panggung internasional kini sedang memperhatikan dengan seksama langkah Indonesia selanjutnya.



