Dua Dekade Pasca-9/11: Bencana Justru Menempa Ikatan Sosial Masyarakat
Baca dalam 60 detik
- Studi menunjukkan angka perceraian di New York turun hingga 8% setelah serangan 9/11, mengindikasikan krisis justru mempererat hubungan keluarga.
- Peneliti menemukan pola serupa pada bencana besar lainnya, dari Badai Katrina hingga kebakaran Maui, di mana solidaritas komunitas menjadi kunci pemulihan.
- Para ahli memperingatkan bahwa tanpa dukungan sumber daya yang memadai, ikatan sosial yang terbentuk saat krisis dapat berubah menjadi 'komunitas korosif' yang justru memperburuk kondisi.

Dua puluh lima tahun setelah serangan 11 September 2001 yang menewaskan hampir 3.000 orang, Amerika Serikat kembali merefleksikan bagaimana tragedi nasional mampu mengubah wajah sosial masyarakatnya. Namun, di balik duka mendalam, para peneliti menemukan fenomena yang kerap luput dari sorotan: bencana justru menjadi katalis yang memperkuat solidaritas dan koneksi antarmanusia.
Katie E. Cherry, seorang peneliti pekerjaan sosial yang telah mengkaji pemulihan bencana selama lebih dari dua dekade, mengamati bahwa respons manusia terhadap katastrofe tidak selalu berujung pada perpecahan. Justru, dalam banyak kasus, masyarakat menunjukkan kecenderungan untuk saling mendekat. Survei nasional pasca-9/11 mengungkapkan bahwa sekitar separuh warga Amerika menyumbang untuk amal, dan hampir seperempatnya mendonorkan darah atau berupaya melakukannya. Lonjakan pendaftar relawan pun tercatat signifikan.
Fenomena serupa juga terlihat dalam penelitian Cherry tentang dampak 9/11 terhadap perkawinan. Dengan menganalisis data perceraian di 62 county di New York selama empat tahun setelah serangan dan membandingkannya dengan dekade sebelumnya, ia menemukan angka perceraian yang secara signifikan lebih rendah dari perkiraan. Bahkan pada 2005, tingkat perceraian di negara bagian itu masih sekitar 8 persen di bawah tren yang diprediksi. Pola ini, menurut Cherry, menunjukkan bahwa dalam krisis kolektif, orang cenderung berpaling pada keluarga dan hubungan sosial.
Insting yang sama muncul kembali saat Badai Katrina menerjang pada 2005, menewaskan hampir 1.400 jiwa dan menyebabkan kerugian lebih dari US$125 miliar. Di tengah kehancuran dan pengungsian besar-besaran, keluarga-keluarga menampung sanak saudara, sementara relawan dan organisasi dari seluruh negeri bahu-membahu. Penelitian Cherry terhadap lebih dari 7.200 anak dan remaja di Louisiana yang terdampak parah menemukan bahwa dua tahun pasca-badai, gangguan seperti perpisahan dari keluarga justru berkorelasi dengan gejala stres pasca-trauma yang lebih tinggi. Namun, dalam kerjanya dengan konselor krisis di Louisiana, ia juga menemukan bahwa mereka yang mengalami kehilangan besar justru menemukan makna dan penyembuhan melalui membantu orang lain pulih.
Bagi komunitas di kawasan Pantai Teluk, bencana bukanlah peristiwa yang terisolasi, melainkan pengalaman berulang. Setelah tumpahan minyak Deepwater Horizon pada 2010, Cherry mewawancarai 41 warga yang sebagian besar telah melalui Badai Katrina, Rita, dan Gustav. Nasihat mereka sederhana namun mendalam: bersandar pada keyakinan dan temukan kekuatan dalam komunitas. Pesan yang sama ia dengar ribuan mil jauhnya saat mengunjungi Hawaii pasca-kebakaran hutan Maui 2023. Warga yang selamat tidak berbicara tentang keselamatan individu, melainkan tentang komitmen bersama untuk membangun kembali.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa kekuatan komunitas bukanlah obat mujarab. Tanpa sumber daya yang memadai untuk membangun kembali, ikatan yang membantu orang bergerak maju justru dapat menjadi rapuh dan berubah menjadi apa yang disebut sebagai "komunitas korosif". Contohnya terlihat pada tumpahan minyak Exxon Valdez 1989 di Alaska, yang menghancurkan industri perikanan dan memicu litigasi berkepanjangan. Komunitas Cordova mengalami penurunan kepercayaan, melemahnya koneksi sosial, konflik, dan penurunan populasi yang berlangsung hingga puluhan tahun.
Bagi Indonesia, pelajaran dari bencana-bencana ini sangat relevan. Sebagai negara yang terletak di Cincin Api Pasifik dan kerap dilanda gempa, tsunami, serta erupsi gunung berapi, ketahanan komunitas menjadi fondasi penting dalam manajemen bencana. Pengalaman Indonesia dalam menghadapi tsunami Aceh 2004 atau gempa Yogyakarta 2006 menunjukkan bahwa solidaritas sosial memang muncul, tetapi sering kali tidak didukung oleh infrastruktur dan kebijakan yang memadai, sehingga pemulihan berjalan lambat dan meninggalkan luka berkepanjangan.
Menurut Cherry, pemulihan jarang merupakan pencapaian individu; ia terjadi melalui keluarga, tetangga, organisasi komunitas, relawan, dan kadang-kadang orang asing. Namun, ia juga menekankan bahwa kapasitas untuk terhubung sebenarnya sudah ada dalam diri manusia, bukan muncul tiba-tiba saat bencana. Krisis hanyalah pemicu yang mengungkapkan apa yang selama ini tersembunyi. Pertanyaannya, apakah masyarakat dan pemerintah dapat memanfaatkan momen solidaritas ini untuk membangun fondasi sosial yang lebih kuat, bukan hanya untuk tanggap darurat, tetapi juga untuk menghadapi ujian sehari-hari yang tak kalah menantang?



