To Lam Siapkan Tur Diplomatik ke Empat Negara: Strategi Hanoi di Tengah Ketidakpastian Dagang Global
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Vietnam dijadwalkan mengunjungi Rusia, Prancis, AS, dan Kanada bulan ini untuk memperkuat hubungan bilateral di tengah tekanan ekonomi.
- Agenda ini mencakup pertemuan dengan Putin dan Macron, serta pidato di Sidang Umum PBB, menandai intensifikasi diplomasi Hanoi.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya Vietnam mengurangi ketergantungan pada satu mitra dan mengamankan posisi di tengah rivalitas AS-China.

Hanoi โ Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, To Lam, dikabarkan akan memulai rangkaian kunjungan kenegaraan yang padat ke Rusia, Prancis, Amerika Serikat, dan Kanada pada bulan September ini. Langkah ini diambil di tengah upaya Hanoi untuk memperluas jaringan kemitraan strategis guna meredam dampak ketidakpastian perdagangan global yang membayangi ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor.
Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber yang memahami rencana tersebut, To Lam dijadwalkan terbang ke Moskow pada 7 September untuk bertemu Presiden Vladimir Putin. Kunjungan ini disebut bertujuan memperkuat kepercayaan politik di bidang energi, pertahanan, dan keamanan. Rusia selama ini menjadi pemasok senjata utama Vietnam dan turut terlibat dalam proyek gas di Laut China Selatan, meskipun Hanoi perlahan mulai melakukan diversifikasi sumber daya militernya.
Dari Rusia, To Lam akan melanjutkan perjalanan ke Paris untuk bertemu Presiden Emmanuel Macron. Ia dijadwalkan menghadiri KTT Luar Angkasa Internasional pada 9โ10 September. Kehadiran Vietnam di forum tersebut tidak terlepas dari deklarasi kerja sama luar angkasa yang ditandatangani Airbus Defence and Space saat kunjungan Macron ke Hanoi tahun lalu. Perusahaan-perusahaan Prancis juga dikabarkan tengah menjajaki proyek kereta api, bandara, dan pertahanan di Vietnam.
Setelah kembali sejenak ke tanah air, To Lam dijadwalkan terbang ke New York untuk menyampaikan pidato dalam debat tingkat tinggi Majelis Umum PBB yang dimulai 21 September. Meski demikian, belum ada kepastian mengenai kemungkinan pertemuan bilateral dengan Presiden AS Donald Trump. Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan jadwal Trump untuk hari-hari tersebut belum final.
Ketegangan hubungan AS-Vietnam memang meningkat akibat dorongan Trump untuk memangkas defisit perdagangan, sementara ekspor Vietnam ke AS justru mencapai rekor tertinggi. Kedua pemimpin sempat bertemu singkat pada Februari lalu, ketika To Lam bergabung dalam inisiatif "Board of Peace" yang digagas Trump. Kunjungan ke AS akan ditutup dengan lawatan ke Kanada mulai 24 September.
Bagi Indonesia, dinamika diplomasi Vietnam ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai sesama negara anggota ASEAN yang juga bergantung pada perdagangan internasional, Jakarta dapat belajar dari strategi Hanoi yang aktif menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan besar untuk menjaga stabilitas ekonomi. Di tengah ketegangan antara AS dan China, Vietnam menunjukkan bahwa negara kecil pun bisa memainkan peran dengan pendekatan "diplomasi bambu"โfleksibel namun kokoh.
Para pengamat menilai bahwa intensitas kunjungan To Lam yang luar biasa ini mencerminkan kebutuhan mendesak Vietnam untuk mengamankan pasar ekspor dan investasi. Dengan ekonomi yang sangat terbuka, Hanoi tidak bisa hanya mengandalkan satu mitra dagang. Kunjungan ke Eropa dan Amerika Utara juga menjadi sinyal bahwa Vietnam ingin memperkuat posisinya sebagai hub manufaktur alternatif di Asia Tenggara.
"Kunjungan ini adalah bagian dari strategi besar Vietnam untuk membangun kepercayaan dengan semua pemain kunci, sambil menjaga keseimbangan di tengah persaingan geopolitik," ujar seorang analis politik di Hanoi yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah langkah Vietnam ini akan diikuti oleh negara-negara ASEAN lainnya, termasuk Indonesia, dalam menghadapi tekanan ekonomi global. Atau justru akan semakin memperdalam perpecahan di kawasan? Yang jelas, dengan jadwal yang begitu padat, To Lam tampaknya ingin memastikan bahwa Vietnam tetap relevan dan diperhitungkan di panggung dunia.



