Gibran Turun ke Barus: Sekolah Terdampak Banjir Sumut Butuh Perbaikan Cepat, Bukan Sekadar Janji
Baca dalam 60 detik
- Wapres Gibran Rakabuming meninjau langsung SMA Negeri 1 Barus di Tapanuli Tengah yang masih memprihatinkan pascabanjir, dengan sejumlah ruang kelas beratap seng dan rasio buku pegangan siswa yang timpang.
- Kunjungan ini menegaskan prioritas pemerintah pada pemulihan infrastruktur pendidikan dan kebencanaan di Sumatera Utara, menyusul banjir besar akhir 2025 yang melumpuhkan aktivitas belajar-mengajar.
- Perhatian eksekutif diharapkan memicu percepatan realokasi anggaran dan perbaikan menyeluruh, namun tantangan koordinasi antarlembaga masih menjadi ujian bagi efektivitas pemulihan jangka panjang.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming menginjakkan kaki di SMA Negeri 1 Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (pekan ini), memastikan perbaikan sekolah yang sempat terendam banjir setinggi satu meter pada akhir 2025 benar-benar berjalan, bukan hanya menjadi wacana di atas kertas.
Kunjungan mendadak ini menyoroti kesenjangan antara janji pemulihan dan realitas di lapangan. Di sejumlah ruang kelas, atap seng masih menjadi pemandangan umum, sementara rasio buku pegangan siswa jauh dari kata ideal. Pertanyaan spontan Wapres kepada seorang guruโ"Buku paketnya cuman satu?"โmenguak fakta pahit: setiap meja yang dipakai dua siswa hanya mendapat satu buku paket. Kondisi ini menggambarkan betapa jauhnya fasilitas pendidikan di daerah bencana dari standar yang layak.
Teti Situmeang, guru yang juga memegang tanggung jawab perpustakaan sekolah, mengungkapkan butuh waktu berminggu-minggu untuk membersihkan sisa-sisa banjir. Ribuan buku di perpustakaan rusak dan terpaksa dibuang karena tak lagi dapat digunakan. "Semoga nanti ada segera buku baru dan perbaikan sekolah terus berjalan," ujarnya dengan nada penuh harap. Pernyataan ini menjadi cermin kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.
Kunjungan Wapres bukan sekadar seremoni. Ia datang ke Sumatera Utara untuk meninjau langsung penanganan pascabencana di tiga wilayah: Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga. Fokusnya jelas: memastikan proses transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan berkelanjutan tidak tersendat. Pemerintah menargetkan pembangunan infrastruktur yang tidak hanya mengembalikan fungsi, tetapi juga memperkuat ketahanan kawasan terhadap bencana serupa di masa depan.
Bagi publik Indonesia, khususnya masyarakat Sumatera Utara, kunjungan ini membawa angin segar sekaligus pekerjaan rumah besar. Di satu sisi, perhatian langsung dari pimpinan nasional menjadi sinyal bahwa pemerintah serius menangani dampak bencana. Di sisi lain, publik menunggu aksi nyata: kapan atap seng diganti, kapan buku-buku baru tiba, dan kapan sekolah-sekolah lain yang bernasib sama mendapat perlakuan setara. Pertanyaan krusial yang menggantung: apakah pemulihan ini akan merata atau hanya berhenti di sekolah yang sempat dikunjungi?
Pemulihan pascabencana memang tidak bisa instan. Namun, kehadiran Wapres memberikan harapan baru bagi warga yang selama ini bergulat dengan puing-puing banjir. Pertanyaan besar yang kini mengemuka: apakah pemulihan ini akan menjadi momentum untuk membangun kembali sekolah-sekolah yang lebih tangguh, atau hanya sekadar menambal kerusakan yang ada? Jawabannya akan menentukan apakah generasi muda di Tapanuli Tengah dapat kembali belajar dengan tenang, tanpa dibayangi ketakutan akan bencana susulan.



