Rebecca Lim Buka Suara soal Perjuangan Pasca Melahirkan: Tekanan untuk 'Kembali Bugar' Itu Nyata
Baca dalam 60 detik
- Aktris Singapura Rebecca Lim mengakui pergulatan batinnya dengan citra tubuh tiga bulan setelah melahirkan anak kedua.
- Unggahan jujurnya di Instagram memicu gelombang dukungan dari sesama artis dan penggemar, menyoroti norma kecantikan yang tidak realistis bagi ibu baru.
- Pernyataan Lim menambah percakapan global tentang kesehatan mental ibu, relevan bagi ibu di Indonesia yang menghadapi tekanan serupa.

Aktris Singapura Rebecca Lim, 39 tahun, mengungkapkan perjuangannya melawan tekanan untuk segera 'kembali bugar' setelah melahirkan anak keduanya, Baby M, tiga bulan lalu. Dalam unggahan Instagram pada Rabu (2/9), ia mengaku kerap berkonflik dengan bayangannya di cermin dan merasa bersalah atas perasaan tersebut.
Lim, yang menikah dengan Matthew Webster, menulis bahwa ia menyadari hidup lebih dari sekadar penampilan fisik. Namun, sebagai manusia biasa, ia tak bisa menepis kenyataan bahwa tekanan sosial untuk segera pulih pasca melahirkan sangat nyata. "Sebagian besar, saya berjuang dengan penampilan saya di cermin. Dan saya membenci diri sendiri karena merasa seperti itu," tulisnya, seperti dikutip dari unggahan tersebut.
Dalam refleksinya, Lim juga menyentuh bahaya membandingkan diri dengan orang lain, mengingatkan bahwa 'perbandingan adalah pencuri kebahagiaan'. Ia mengakui bahwa di hari-hari tertentu, ia tak mampu berpura-pura baik-baik saja. Pesannya tegas: tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja, karena setiap orang tengah berjuang melawan pertempuran yang tak terlihat.
Unggahan Lim langsung menuai respons hangat dari rekan artis dan penggemar. Aktris Vernetta Lopez memberikan dukungan, menyatakan bahwa perasaan tersebut wajar dialami banyak orang, bahkan yang belum menjadi ibu sekalipun. Lim sebelumnya juga pernah berbagi pengalaman tentang Baby M yang sempat menjalani perawatan di rumah sakit, namun ia memilih untuk tetap berpikir positif dengan memanfaatkan waktu untuk anak pertamanya.
Fenomena ini menggema kuat di Indonesia, di mana ibu baru kerap menghadapi ekspektasi serupa untuk segera kembali ke bentuk tubuh ideal. Budaya media sosial yang menampilkan ibu selebriti yang tampak sempurna hanya beberapa minggu setelah melahirkan sering kali menjadi standar yang tidak realistis. Padahal, menurut psikolog, masa nifas adalah periode rentan yang membutuhkan dukungan emosional, bukan tekanan untuk tampil sempurna.
Pengakuan Lim menjadi pengingat bahwa kesehatan mental ibu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Di Indonesia, isu postpartum depression (depresi pasca melahirkan) masih sering dianggap tabu, padahal data menunjukkan satu dari sepuluh ibu mengalami gejala depresi pasca melahirkan. Dukungan keluarga dan lingkungan yang bebas dari penghakiman menjadi krusial dalam masa pemulihan.
Lim menutup pesannya dengan ajakan untuk merangkul diri sendiri yang baru. "Mungkin versi yang berubah ini lebih baik. Lebih lembut, namun lebih kuat dan bijaksana," tulisnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa transformasi pasca melahirkan bukanlah kehilangan, melainkan evolusi yang patut dirayakan.
Ke depannya, kisah Lim diharapkan dapat membuka ruang diskusi yang lebih sehat tentang perjalanan menjadi ibu. Apakah masyarakat Indonesia siap untuk menggeser paradigma dari tuntutan kesempurnaan menuju penerimaan diri? Pertanyaan ini layak direnungkan, terutama bagi para ibu muda yang tengah berjuang di tengah hiruk-pikuk media sosial.



