Dua Pekerja Selamat Dievakuasi dari Terowongan Nepal: Krisis Kemanusiaan di Balik Proyek PLTA
Baca dalam 60 detik
- Tim penyelamat Nepal berhasil mengeluarkan dua pekerja dari terowongan Trishul 3A, sembilan hari setelah banjir bandang yang memicu tanah longsor.
- Sekitar 500 pekerja masih terperangkap di terowongan proyek hidroelektrik, menyoroti kerentanan infrastruktur energi di kawasan rawan bencana.
- Bencana ini menimbulkan pertanyaan besar tentang standar keselamatan proyek PLTA di Nepal dan negara lain, termasuk Indonesia, yang memiliki risiko geologis serupa.

Tim penyelamat di Nepal berhasil menarik keluar dua pekerja yang selamat dari reruntuhan terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Trishul 3A pada Jumat (4/9), sembilan hari setelah banjir dahsyat yang memicu tanah longsor melanda kawasan tersebut. Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Brigadir Jenderal Raja Ram Basnet, mengonfirmasi evakuasi pertama, sementara anggota parlemen Shri Ram Neupane mengumumkan penyelamatan kedua melalui unggahan Facebook-nya.
Kedua pekerja ditemukan dalam kondisi hidup, meski berlumuran lumpur dan kelelahan. Rekaman televisi lokal memperlihatkan korban digendong keluar dari terowongan oleh tim penyelamat, lalu langsung diperiksa petugas medis di lokasi. Keberhasilan ini menjadi secercah harapan di tengah operasi pencarian yang masih berlangsung, mengingat skala bencana yang meluluhlantakkan Nepal pada 26 Agustus lalu.
Bencana yang diduga dipicu oleh pecahnya gletser ini telah menewaskan sedikitnya 1.259 orang di Nepal, sementara lebih dari 5.000 lainnya masih dinyatakan hilang. Di sisi perbatasan Tibet, China melaporkan 21 korban tewas dan 541 orang hilang. Namun, perhatian khusus kini tertuju pada nasib sekitar 900 pekerja yang hilang dari 12 proyek PLTA di Nepal, dengan perkiraan 500 di antaranya terjebak di dalam terowongan.
Insiden ini menggarisbawahi risiko besar yang dihadapi pekerja konstruksi di proyek infrastruktur yang berada di lembah pegunungan Himalaya. Nepal, yang bergantung pada PLTA untuk memenuhi kebutuhan energi domestik dan ekspor ke India, kini menghadapi tekanan untuk mengevaluasi ulang standar keselamatan proyek-proyek tersebut. Para ahli memperkirakan bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi bencana glasial, menjadikan kawasan ini semakin tidak terduga.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pelajaran berharga. Negeri ini juga memiliki banyak proyek PLTA dan infrastruktur di daerah rawan bencana, seperti Sulawesi dan Papua. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, saat dihubungi terpisah, menekankan pentingnya sistem peringatan dini dan protokol evakuasi yang ketat. โSetiap proyek di zona rawan longsor harus memiliki rencana kontingensi yang jelas, termasuk simulasi penyelamatan terowongan,โ ujarnya.
Operasi penyelamatan di Nepal masih terus berlanjut, dengan tim dari berbagai negara termasuk China dan India turut membantu. Namun, pertanyaan mendasar muncul: apakah pengembangan energi terbarukan harus mengorbankan keselamatan pekerja? Ataukah sudah saatnya ada standar global yang lebih ketat untuk proyek semacam ini? Nepal, dan dunia, harus segera menjawabnya sebelum tragedi serupa terulang.



