Bruno Guimaraes: Solusi Tak Terduga Arsenal di Lini Serang?
Baca dalam 60 detik
- Arsenal memulai musim dengan sempurna, namun kekhawatiran muncul di sektor penyerangan setelah gagal mendatangkan target utama.
- Bruno Guimaraes, gelandang anyar senilai £75 juta, dinilai bisa menjadi kunci kreativitas Arsenal berkat kemampuan passing-nya yang menembus lini pertahanan lawan.
- Peran Guimaraes di posisi lebih maju diharapkan mampu mengatasi kebuntuan saat menghadapi tim bertahan rapat, mirip seperti yang dilakukan Granit Xhaka di musim 2022/23.

Liga Inggris musim ini baru berjalan tiga pekan, namun Arsenal sudah menunjukkan tajinya dengan meraih tiga kemenangan beruntun. Meski demikian, di balik start sempurna tersebut, ada kegelisahan yang menggerogoti para pendukung: bagaimana lini serang The Gunners akan bersaing di level tertinggi, terutama setelah gagal mendatangkan penyerang bintang di bursa transfer musim panas?
Kegagalan mendatangkan pemain seperti Vinicius Junior, Julian Alvarez, atau Morgan Rogers membuat direktur olahraga Andrea Berta berada di bawah sorotan. Jika pada bursa transfer pertamanya pada 2025 ia tampil impresif, tahun ini ia justru kehilangan beberapa target utama. Alhasil, hanya Christos Tzolis yang datang sebagai pemain depan, sementara empat penyerang lain—Gabriel Jesus, Ethan Nwaneri, Leandro Trossard, dan Gabriel Martinelli—pergi. Martinelli bahkan dilepas ke Al Hilal dengan nilai transfer £55 juta, rekor penjualan klub.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Pada final Liga Champions lalu, Arsenal harus mengakui keunggulan PSG yang memiliki lini serang mematikan. Kritik tajam datang dari Jamie Carragher yang menyebut Arsenal sebagai tim bertahan terbaik di Eropa, namun di sisi lain, lini depan mereka masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Pernyataan Carragher ini seolah menjadi tamparan bagi manajemen yang dinilai gagal memenuhi ambisi pelatih Mikel Arteta.
Di tengah kekecewaan itu, kehadiran Bruno Guimaraes bisa menjadi angin segar. Gelandang asal Brasil yang direkrut dari Newcastle United dengan banderol £75 juta ini memang bukan penyerang murni, tetapi statistiknya musim lalu menunjukkan kontribusi ofensif yang luar biasa: sembilan gol dan tujuh assist, catatan terbaik dalam kariernya. Angka ini bahkan lebih baik dari beberapa pemain depan Arsenal, dan hanya kalah dari segelintir pemain seperti Viktor Gyokeres atau Bukayo Saka.
Perbandingan dengan Granit Xhaka menarik untuk disimak. Pada musim 2022/23, Xhaka yang beroperasi sebagai gelandang nomor 8 mampu menjadi katalis serangan Arsenal. Kemampuannya melepaskan umpan-umpan terobosan yang menembus lini pertahanan lawan terbukti transformatif, bahkan membantu Gabriel Martinelli mencetak 15 gol. Guimaraes, dengan gaya bermain agresif dan teknis, diyakini memiliki kualitas serupa. Penampilannya saat melawan Aston Villa pekan lalu—meski hanya 19 menit—menunjukkan sekilas kemampuannya: satu umpan terukur kepada Kai Havertz yang nyaris menjadi gol.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, peran Guimaraes ini bisa menjadi pelajaran berharga. Di kompetisi domestik kita, banyak tim yang kerap menghadapi pertahanan bertahan rapat. Kemampuan seorang gelandang untuk memecah kebuntuan dengan umpan-umpan terobosan sering kali menjadi pembeda. Arsenal, dengan segala sumber dayanya, tampaknya mulai menyadari bahwa kreativitas dari lini tengah sama pentingnya dengan ketajaman penyerang.
Pertanyaannya, apakah Arteta akan berani memberikan peran lebih maju kepada Guimaraes secara konsisten? Jika ya, bukan tidak mungkin ia akan menjadi 'Xhaka baru' yang membawa Arsenal meraih gelar beruntun. Namun, jika tidak, kekhawatiran tentang lini serang yang tumpul akan terus menghantui perjalanan tim asal London Utara itu sepanjang musim.



