Kyrgios Terima Sanksi Satu Bulan Usai Positif Kokain, Karier di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Petenis Australia Nick Kyrgios resmi menjalani larangan bertanding satu bulan setelah sampelnya mengandung metabolit kokain, dengan hukuman yang dipangkas karena ia mengikuti program rehabilitasi.
- Kasus ini mencuat di tengah karier Kyrgios yang terus diganggu cedera, dan ia kini berada di peringkat 918 dunia setelah hanya tampil dalam empat pertandingan tunggal musim ini.
- Keputusan ITIA yang hanya menghukum satu bulan memicu perdebatan tentang konsistensi sanksi doping, terutama jika dibandingkan dengan kasus Jannik Sinner dan Iga Swiatek.

Petenis Australia, Nick Kyrgios, akhirnya boleh kembali berkompetisi setelah secara resmi menerima sanksi larangan bertanding selama satu bulan akibat uji positif kokain. Hukuman yang dijatuhkan Badan Integritas Tenis Internasional (ITIA) itu berakhir Kamis lalu, membuka peluang bagi petenis berusia 31 tahun tersebut untuk kembali ke lapangan di tengah sorotan publik yang masih tajam terhadap masa depannya di dunia tenis.
Kasus ini berawal dari sampel yang diambil saat turnamen Mallorca Open pada Juni lalu. Hasil laboratorium menunjukkan adanya benzoylecgonine, metabolit kokain, dalam tubuh Kyrgios. Kepada penyidik ITIA, ia mengaku mengonsumsi kokain di sebuah klub malam di Magaluf pada 20 Juni dini hari, hanya dua hari sebelum ia menjalani pertandingan pertamanya di turnamen tersebut. Kekalahan straight set dari rekan senegaranya, Adam Walton, menjadi penampilan terakhirnya sebelum skandal ini mencuat.
Meski menghadapi ancaman larangan maksimal tiga bulan, hukuman Kyrgios diringankan menjadi satu bulan setelah ia menunjukkan bukti telah mengikuti program perawatan yang dimulai pada 28 Agustus. ITIA, setelah berkonsultasi dengan ahli independen, menerima argumen bahwa konsumsi kokain terjadi di luar masa kompetisi. Selain larangan bertanding, ia juga kehilangan hadiah uang sebesar 6.570 euro atau sekitar Rp 113 juta.
Bagi pengamat tenis Indonesia, kasus Kyrgios menjadi pengingat bahwa integritas olahraga tidak pandang bulu, sekaligus menyoroti betapa rentannya atlet terhadap tekanan mental dan fisik. Di Tanah Air, di mana tenis tengah berkembang dengan munculnya petenis muda seperti Aldila Sutjiadi, kasus ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya pendampingan psikologis bagi atlet. Federasi Tenis Indonesia (Pelti) pun dapat meninjau ulang program pembinaan untuk memastikan aspek kesehatan mental menjadi prioritas, bukan hanya prestasi di lapangan.
Kyrgios bukanlah nama asing dalam kontroversi. Sepanjang kariernya, ia kerap menuai kritik akibat ulahnya di lapangan, mulai dari menghancurkan raket, melontarkan kata-kata kasar, hingga bersitegang dengan wasit. Pada 2023, ia mengakui telah menyerang mantan kekasihnya, meski lolos dari hukuman pidana. Ia juga pernah menuai kecaman karena dianggap melontarkan pernyataan misoginis dan sempat membagikan unggahan dari influencer kontroversial Andrew Tate. Di sisi lain, ia dikenal vokal mengkritik sistem anti-doping tenis, menyebut penanganan kasus Jannik Sinner dan Iga Swiatek sebagai sesuatu yang "memuakkan" dan tidak adil.
Di balik citra kontroversialnya, Kyrgios juga pernah membuka diri tentang perjuangannya melawan masalah kesehatan mental. Ia mengaku pernah berpikir untuk bunuh diri dan menjalani perawatan di rumah sakit jiwa di London setelah kekalahan di Wimbledon 2019. Cedera lutut dan pergelangan tangan yang berkepanjangan membuatnya hanya mampu memenangkan dua dari delapan pertandingan sejak awal 2023. Dalam pernyataannya di Instagram, ia mengungkapkan betapa sulitnya menerima kenyataan bahwa kariernya mungkin akan segera berakhir. "Tubuh saya tidak mampu melakukan apa yang diharapkan pikiran saya," tulisnya.
Prestasi Kyrgios tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia pernah menembus final Wimbledon 2022, meski kalah dari Novak Djokovic, serta meraih gelar ganda Australia Terbuka bersama Thanasi Kokkinakis. Total tujuh gelar tunggal ATP menjadi bukti kualitasnya. Namun, dengan sanksi yang baru saja dijalaninya dan kondisi fisik yang rapuh, pertanyaan besar kini menggantung: apakah Kyrgios masih punya sisa tenaga untuk kembali ke puncak, atau justru kasus ini menjadi babak pamungkas dari karier yang penuh gejolak?
Ke depannya, keputusan ITIA untuk menyamakan hukuman Kyrgios dengan Swiatekโyang juga satu bulanโsementara Sinner mendapat tiga bulan, akan terus memicu perdebatan tentang konsistensi sanksi. Bagi Kyrgios, yang pernah menyebut sistem integritas tenis "mengerikan", ironi ini seakan menjadi bumerang. Publik tenis Indonesia, yang semakin antusias mengikuti perkembangan tenis dunia, tentu akan mengawasi apakah Kyrgios mampu membuktikan bahwa dirinya masih layak diperhitungkan, atau justru kasus ini menjadi akhir dari perjalanan seorang petenis yang tak pernah bisa lepas dari kontroversi.



