Tsitsipas Putus Hubungan Pelatih dengan Sang Ayah demi Ketenangan: Kemenangan atas Fils Jadi Bukti
Baca dalam 60 detik
- Stefanos Tsitsipas memutuskan berpisah dari pelatih sekaligus ayahnya, Apostolos, demi mencari ketenangan dan suara baru di tengah krisis performa.
- Keputusan tersebut langsung membuahkan hasil manis: ia mengalahkan unggulan 10 Arthur Fils di babak pertama US Open dan mengakhiri puasa gelar 16 bulan.
- Perubahan ini menandai babak baru dalam karier petenis Yunani yang sempat jatuh ke peringkat 80 besar, dan kini mulai merangkak naik lagi.

Stefanos Tsitsipas akhirnya menemukan kembali kepercayaan dirinya setelah mengambil keputusan radikal: memutus kerja sama pelatih dengan sang ayah, Apostolos Tsitsipas. Keputusan yang diambil tepat sebelum Wimbledon itu terbukti efektif setelah petenis Yunani tersebut menaklukkan unggulan 10 asal Prancis, Arthur Fils, pada babak pertama US Open, Senin (31/8) waktu setempat, dengan skor 4-6, 7-6(3), 6-1, 6-4.
Kemenangan ini bukan sekadar lolos ke babak kedua. Bagi Tsitsipas, ini adalah pembuktian bahwa perubahan yang ia lakukan—memasukkan Thomas Perrin ke dalam tim pelatih—adalah langkah yang tepat. Sebelumnya, ia sempat mengalami penurunan drastis, bahkan keluar dari 80 besar dunia. Namun, sejak memenangkan Swiss Open pada Juli lalu, ia perlahan bangkit dan kini menempati peringkat 53.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Tsitsipas mengungkapkan bahwa ia merasa membutuhkan 'suara yang berbeda' dan seseorang yang bisa membawa ketenangan ke dalam 'dunia tenisnya'. "Ada banyak kekacauan dan kebisingan di sekitar saya sebelumnya. Butuh waktu lama untuk menyadari bahwa saya tidak bisa terus bertahan dengan itu. Saya juga merasa saya sudah dewasa," ujarnya, seperti dikutip Channel News Asia.
Keputusan untuk berpisah dari sang ayah, yang telah membimbingnya selama 23 tahun dan membawanya ke dua final Grand Slam serta peringkat tiga dunia, bukanlah hal mudah. Namun, Tsitsipas menegaskan bahwa dinamika tersebut tidak lagi mendukung tujuannya. "Saya sangat mencintai ayah saya dan hubungan kami di luar lapangan sangat baik. Tetapi dinamika seperti ini tidak lagi melayani tujuan saya," tambahnya.
Kemenangan atas Fils, yang baru saja menjuarai Cincinnati Masters, menjadi momen penting bagi Tsitsipas. "Saya sangat gembira dengan hari ini. Ini kemenangan penting bagi kepercayaan diri saya. Ini adalah salah satu momen yang bisa saya lihat ke belakang dan berkata, 'Saya masih punya permainan yang saya cari, pukulan-pukulan saya masih ada, kualitasnya masih ada'," katanya.
Tsitsipas mengakui bahwa musim ini ia jarang tampil dalam turnamen yang dalam. "Saya tidak punya banyak penampilan dalam seperti yang saya harapkan. Kemenangan seperti ini menambah banyak hal untuk pertumbuhan pribadi saya sebagai pemain," ujarnya. Ia juga menekankan bahwa kerja kerasnya di lapangan dan gym akhirnya membuahkan hasil.
"Saya menyadari bahwa memiliki orang-orang yang kadang membawa sisi terburuk dari diri Anda, bukan yang terbaik... itu adalah hal-hal yang perlu diperbaiki." — Stefanos Tsitsipas
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Tsitsipas ini menarik karena menyoroti pentingnya faktor psikologis dan dinamika tim dalam performa atlet. Di tengah sorotan terhadap petenis muda Indonesia yang mulai merambah turnamen internasional, pelajaran dari Tsitsipas bisa menjadi inspirasi bahwa perubahan, sekecil apa pun, bisa berdampak besar. Terlebih, keputusan untuk memisahkan urusan keluarga dan profesional sering kali menjadi ujian tersendiri bagi atlet.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Tsitsipas mampu mempertahankan konsistensi ini dan kembali ke papan atas. Dengan US Open yang masih panjang, ia berpeluang untuk melaju jauh. Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana ia akan mengelola hubungan dengan ayahnya di luar lapangan, dan apakah keputusan ini akan menjadi titik balik permanen dalam kariernya.



