Alpukat India: Dari 'Buah Anjing' Menjadi Primadona Pertanian Modern
Baca dalam 60 detik
- Permintaan alpukat di India melonjak sejak 2011, mendorong petani beralih dari kopi dan lada yang terdampak perubahan iklim.
- India masih mengimpor sekitar 15.000 ton alpukat per tahun, sementara produksi domestik baru mencapai 8.000–9.000 ton, membuka peluang besar bagi petani lokal.
- Tantangan utama adalah standarisasi bibit dan teknik budidaya modern, dengan adopsi varietas unggul seperti Hass dan Pinkerton untuk mengejar kualitas impor.

Lima belas tahun lalu, alpukat di India nyaris tak punya nilai jual—buah matang yang jatuh dari pohon kerap menjadi pakan anjing, sehingga dijuluki "dog fruit". Kini, buah tersebut bertransformasi menjadi komoditas pertanian yang menjanjikan, seiring melonjaknya permintaan pasar domestik dan mulai diliriknya teknik budidaya modern.
Perubahan haluan ini tak lepas dari pengaruh budaya pop. Pada 2011, aktris Bollywood Shilpa Shetty mengungkapkan penggunaan alpukat untuk perawatan kulit, yang langsung menggandakan harga buah ini dalam semalam. Sunil Bopaiah, group manager Cottanad Plantations di Wayanad, Kerala, menyaksikan sendiri ledakan permintaan itu. Perusahaannya, yang awalnya menanam alpukat hanya sebagai peneduh tanaman kopi, kini mengalokasikan 40 hektare untuk alpukat dan menargetkan panen 40–50 ton dalam beberapa tahun ke depan, naik dari 10–15 ton tahun lalu.
Kesenjangan pasokan menjadi peluang besar. Manilal Palliyath, promotor industri alpukat India, mencatat bahwa India mengimpor sekitar 15.000 ton alpukat setiap tahun, sementara produksi domestik baru mencapai 8.000–9.000 ton. "Kopi dan lada telah menderita akibat perubahan iklim, sehingga diversifikasi menjadi penting bagi petani," ujarnya. Kondisi ini mendorong banyak petani untuk beralih ke alpukat, meski tantangan teknis dan kualitas masih membayangi.
Di sisi lain, para pelaku industri kuliner masih mengandalkan alpukat impor. Hussain Shahzad, executive chef Hunger Inc. Hospitality yang menaungi empat restoran di Mumbai, mengakui bahwa alpukat lokal kualitasnya belum konsisten. "Kami telah mengeksplorasi berbagai varietas alpukat India, tetapi yang impor saat ini menawarkan konsistensi rasa, tekstur, ukuran, dan kematangan yang kami butuhkan," katanya. Meski demikian, ia menyatakan minat untuk mendukung produk lokal yang terus berkembang.
Untuk mengejar ketertinggalan, sejumlah pengusaha mengadopsi teknologi Israel. Harshit Godha, pendiri Indo-Israel Avocado Nursery di Bhopal, mempelajari industri alpukat Israel selama sebulan sebelum memulai usaha pembibitan pada 2021. Sejak itu, ia telah menjual sekitar 18.000 bibit varietas unggul seperti Hass dan Pinkerton ke berbagai daerah di India. "Israel menanam alpukat di lahan sekitar 13.000 hektare dengan curah hujan nyaris nol selama delapan bulan, sehingga teknologinya paling maju di dunia," jelas Godha. Namun, ia mengingatkan bahwa membangun kebun komersial tidak mudah—diperlukan teknik okulasi, pemangkasan agresif, dan penanaman dua varietas yang saling melengkapi untuk penyerbukan silang.
Selain mengimpor varietas asing, upaya pemuliaan alpukat lokal juga digencarkan. Dr. Ganeshan Karunakaran, ilmuwan utama di ICAR-Indian Institute of Horticultural Research (IIHR), Bengaluru, telah menghabiskan 25 tahun untuk mengembangkan dua varietas unggul dari pohon lokal. "Masalah terbesar pohon alpukat India adalah setiap pohon pekarangan berbeda secara genetik, menyebabkan kualitas buah tidak seragam. Varietas standar sangat penting untuk pasar komersial yang andal," tegasnya. Ia juga memperingatkan bahaya pembibitan tak terdaftar yang menjual tanaman sakit atau tak jelas identitasnya, yang dapat merugikan petani dalam jangka panjang.
Kisah sukses mulai bermunculan. Shiju Sebastian, petani di Wayanad, telah menanam alpukat di dua hektare lahannya sejak delapan tahun lalu. Tahun ini, ia memanen 3.500 kilogram yang seluruhnya terjual ke Bengaluru. "Petani mau menanam alpukat, tetapi mereka butuh panduan dan pasar yang pasti," ujarnya. Ia berencana menambah tiga hektare lagi, hanya untuk alpukat.
Fenomena alpukat India ini relevan bagi Indonesia, yang juga mengimpor alpukat dalam jumlah besar. Pelajaran dari India menunjukkan bahwa kombinasi riset, teknologi, dan dukungan pasar dapat mengubah komoditas tradisional menjadi primadona ekonomi. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengambil langkah serupa untuk mengurangi ketergantungan impor dan memberdayakan petani lokal?



