Perawat Jepang Taklukkan 14 Puncak Tertinggi Dunia: 'Gunung adalah Tempatku Menjadi Diri Sendiri'
Baca dalam 60 detik
- Naoko Watanabe, perawat asal Jepang, menjadi perempuan Jepang pertama yang menuntaskan pendakian 14 gunung di atas 8.000 meter, sebuah perjalanan yang dimulai sejak 2011.
- Di balik prestasi itu, Watanabe mengaku justru menemukan jati diri dan penerimaan diri melalui persahabatannya dengan para pemandu Sherpa di Himalaya.
- Kisahnya menantang stereotip profesi perawat yang identik dengan pekerjaan di ruang perawatan, sekaligus menyoroti biaya finansial dan mental yang harus dibayar untuk mengejar hasrat pribadi.

Naoko Watanabe, seorang perawat berusia 44 tahun asal Jepang, menorehkan sejarah dengan menjadi perempuan Jepang pertama yang menaklukkan seluruh 14 puncak gunung di dunia yang tingginya melebihi 8.000 meter. Pencapaian yang dirampungkan pada Oktober 2024 ini bukan sekadar catatan prestasi olahraga ekstrem, melainkan juga buah dari perjalanan panjang yang diwarnai kegagalan, nyaris kehilangan nyawa, dan pencarian jati diri yang berkelindan dengan panggilan profesinya.
Bagi Watanabe, gunung bukanlah pelarian dari rutinitas, melainkan ruang di mana ia merasa paling otentik. "Gunung adalah tempatku merasa paling menjadi diriku sendiri," ujarnya saat berdiri di kaki Gunung Nanga Parbat di Pakistan pada pertengahan Juni lalu. Pemandangan puncak bersalju yang curam di hadapannya itu, menurutnya, adalah yang paling ia sukai di antara ke-14 gunung yang pernah ia daki.
Namun, jalan menuju puncak-puncak itu tidak pernah mulus. Pada percobaan pertamanya menaklukkan Everest pada 2011, Watanabe terpaksa berbalik hanya 150 meter dari puncak karena cuaca buruk. Di lain kesempatan, ia pernah tergelincir dan jatuh saat kekurangan oksigen mengaburkan kesadarannya, serta selamat dari longsoran salju di sebuah gunung setinggi 8.000 meter di China. Rentetan insiden itu tidak menyurutkan tekadnya; justru membentuknya menjadi pendaki yang lebih tangguh.
Kecintaannya pada alam bebas sudah tertanam sejak dini. Sang ibu, seorang pendaki aktif, membawanya ke kamp survival saat usianya baru tiga tahun. Watanabe kemudian menggeluti pendakian musim dingin sejak sekolah dasar dan mulai menaklukkan puncak-puncak tinggi di Pakistan ketika ia masih duduk di bangku SMP. "Mengambil tantangan baru sudah menjadi bagian dari siapa diriku," katanya.
Di balik kegigihannya, Watanabe menyimpan masa lalu yang kelam. Ia sempat kesulitan mengekspresikan diri dan menjadi korban perundungan di sekolah. Namun, menemukan teman-teman yang berbagi minat yang sama dalam pendakian membantunya menyadari bahwa hidup lebih luas dari sekadar ruang kelas. Ketika kuliah di Fakultas Perikanan Universitas Nagasaki, ia bergabung dalam ekspedisi ke puncak setinggi 6.000 meter di Nepal, di mana ia bertanggung jawab mengelola perlengkapan medis. "Aku suka mengetahui bahwa orang bisa mengandalkanku," kenangnya. Pengalaman itulah yang menginspirasinya untuk mengikuti jejak ibunya menjadi perawat dan melanjutkan pendidikan ke sekolah perawat di Prefektur Aichi.
Bahkan setelah berprofesi sebagai perawat, Watanabe tidak pernah memadamkan mimpinya untuk menaklukkan puncak-puncak tertinggi dunia. Ia rela memangkas biaya hidup dan bahkan berutang untuk mendanai ekspedisinya. Sebagai perawat lepas, ia bekerja di pusat pemeriksaan kesehatan perusahaan pada siang hari dan di panti jompo pada malam hari untuk menabung demi pendakian berikutnya. Setelah gagal di Everest pada 2011, ia kembali dua tahun kemudian dan berhasil mencapai puncak bersama para Sherpa, pemandu gunung asal Himalaya yang setia mendampingi para pendaki. Ia melanjutkan dengan menaklukkan Makalu, gunung tertinggi kelima di dunia, pada 2014, sebelum akhirnya menuntaskan seluruh 14 puncak pada Oktober 2024.
Watanabe mengakui bahwa para Sherpa adalah salah satu alasan utama ia terus mendaki. Setelah mempelajari bahasa mereka, ia bisa bercanda dan berbicara terus terang, dan melalui persahabatan itu ia menemukan sisi-sisi dirinya yang sebelumnya tidak ia kenal. Ia perlahan mulai menerima aspek-aspek kepribadiannya yang dulu tidak ia sukai. Pechhumbe Sherpa, yang mendampingi Watanabe di banyak bagian paling berbahaya dari pendakiannya, tersenyum saat menggambarkannya sebagai seseorang yang selalu bisa ia ajak berbagi. "Naoko seperti kakak perempuan bagikuโseseorang yang bisa kuceritakan apa saja," katanya.
Kisah Watanabe menawarkan perspektif yang jarang terlihat tentang dunia pendakian gunung ekstrem, yang sering didominasi oleh narasi maskulin dan pencapaian fisik. Ia menunjukkan bahwa di balik setiap puncak yang ditaklukkan, ada jaringan relasi manusia yang mendukung dan membentuk pendaki. Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini relevan mengingat popularitas pendakian gunung yang kian meningkat di kalangan anak muda, namun sering kali mengabaikan aspek keselamatan dan kesiapan mental. Watanabe membuktikan bahwa pendakian bukan sekadar soal mencapai puncak, melainkan juga tentang bagaimana proses itu mengubah seseorang.
Kini, setelah menuntaskan misi 14 puncaknya, Watanabe tengah menikmati peran barunya sebagai penulis dan pembicara. Namun, ia belum menutup kemungkinan untuk kembali ke Himalaya. "Rasanya hampir seperti aku mendaki gunung hanya untuk menghabiskan waktu bersama para Sherpa," ujarnya. Pertanyaannya, apa tantangan berikutnya bagi seorang perawat yang telah menaklukkan titik tertinggi di bumi? Mungkin, seperti yang ia tunjukkan, jawabannya bukan terletak pada ketinggian, melainkan pada kedalaman hubungan antarmanusia yang ditemukannya di sepanjang jalan.



