John Malkovich Menepis Spekulasi Oscar untuk 'Wild Horse Nine': Penghargaan Bukan Tujuan Utama
Baca dalam 60 detik
- Aktor kawakan John Malkovich menanggapi dingin rumor Oscar untuk perannya sebagai agen CIA dalam film terbaru Martin McDonagh, Wild Horse Nine.
- Film yang tayang perdana di Venice Film Festival ini mengangkat sisi kelam operasi intelijen AS di Chile, sebuah tema yang jarang dieksplorasi.
- Malkovich menegaskan fokusnya pada kualitas film dan kolaborasi, bukan pada kejaran penghargaan individu.

John Malkovich, aktor dengan dua nominasi Academy Award, memilih untuk tidak larut dalam riuh gemuruh spekulasi Oscar yang menyelimuti penampilan terbarunya di film Wild Horse Nine. Dalam konferensi pers di Venice Film Festival, ia menegaskan bahwa perhatian publik terhadap film garapan Martin McDonagh ini jauh lebih berarti baginya daripada sekadar peluang memenangkan penghargaan bergengsi tersebut.
Wild Horse Nine, yang tayang perdana di kompetisi utama Venice dan memperebutkan Golden Lion, mengangkat kisah dua agen CIA, Chris (Malkovich) dan Lee (Sam Rockwell), yang dikirim ke Pulau Paskah pada masa pra-kudeta militer Chile 1973. Film ini juga dibintangi Steve Buscemi sebagai kepala biro, serta Mariana Di Girolamo, Ailรญn Salas, Tom Waits, dan Parker Posey. Ini merupakan kolaborasi ketiga McDonagh dengan festival Venesia setelah Three Billboards Outside Ebbing, Missouri dan The Banshees of Inisherin.
Malkovich, yang dikenal lewat peran-peran ikonik seperti dalam Being John Malkovich dan In the Line of Fire, mengaku tidak pernah merasa berkompetisi dengan rekan-rekannya. "Saya memiliki karier panjang dan kolaborasi spektakuler dengan para penulis, sutradara, dan aktor. Saya tidak pernah merasa bersaing dengan mereka," ujarnya. Ia menambahkan, "Hal terbaik adalah film ini mendapatkan perhatian. Film ini memiliki beberapa pemain hebat, dan ditulis serta disutradarai dengan indah. Itulah yang penting bagi saya."
Di balik nuansa komedi gelap yang menjadi ciri khas McDonagh, Wild Horse Nine menyelipkan kritik tajam terhadap sejarah operasi intelijen Amerika Serikat. Sang sutradara, dalam pernyataannya yang dikutip Variety, mengungkapkan ketertarikannya pada kebenaran aktivitas CIA selama 50 tahun terakhir. "Kita tahu seperti apa KGB, tapi kita tidak mempertanyakan aktivitas CIA sebanyak yang seharusnya," tegasnya, merujuk pada intervensi AS di Guatemala, Kongo, dan Teluk Babi. Pernyataan ini membuka ruang diskusi yang jarang disentuh film arus utama.
Bagi penonton Indonesia, film ini menawarkan perspektif berbeda tentang sejarah Perang Dingin yang sering kali didominasi narasi Blok Barat. Konflik ideologi yang digambarkan, meskipun terjadi di belahan dunia lain, memiliki resonansi dengan pengalaman negara-negara berkembang yang kerap menjadi ajang pertarungan kekuatan besar. Kehadiran film seperti ini mengingatkan bahwa di balik narasi resmi, selalu ada kisah-kisah kecil yang terlupakan.
Malkovich, yang telah berakting selama lima dekade, mengaku keputusan untuk bergabung dalam proyek ini sangat mudah. "Saya pernah dikirimi beberapa naskah Martin sebelumnya, tapi tidak bisa karena komitmen lain. Ketika tawaran ini datang, saya langsung memutuskan untuk menerimanya," kenangnya. Ia bahkan menyebut karakter yang dimainkannya bersama Rockwell sebagai "dua orang bodoh", sebuah sindiran halus pada kompleksitas moral agen intelijen.
Di usianya yang ke-72, Malkovich tidak menunjukkan tanda-tanda akan pensiun. "Saya telah melakukan apa yang saya cintai sepanjang hidup saya. Saya berencana untuk terus melakukannya," katanya. "Saya tidak berencana pensiun karena saya pikir mereka akan memensiunkan saya ketika waktunya tiba. Itu tampaknya menjadi jalan alami." Pernyataan ini menegaskan dedikasinya pada seni peran, melampaui kejaran penghargaan semata.
Dengan perilisan yang dijadwalkan pada November mendatang, Wild Horse Nine diprediksi akan menjadi salah satu kandidat kuat di musim penghargaan. Pertanyaannya, akankah Malkovich akhirnya meraih Oscar pertamanya setelah dua kali nyaris, atau justru film ini akan menjadi pengingat bahwa penghargaan hanyalah bonus dari sebuah karya yang bermakna?



