Prancis Terancam Resesi, Ekonomi Zona Euro Mulai Terpuruk
Baca dalam 60 detik
- Produk domestik bruto (PDB) Prancis berpotensi terkontraksi pada kuartal ketiga, membalikkan ekspansi tipis pada periode sebelumnya.
- Laju inflasi yang membandel dan kebijakan suku bunga tinggi dari Bank Sentral Eropa menjadi beban ganda bagi daya beli rumah tangga dan aktivitas manufaktur.
- Kondisi ini memicu spekulasi bahwa resesi kawasan euro akan lebih dalam dari perkiraan awal, dengan implikasi bagi pasar keuangan global dan prospek investasi di negara berkembang.

Prancis, ekonomi terbesar kedua di kawasan euro, berada di ambang resesi teknis setelah data terbaru menunjukkan kontraksi aktivitas bisnis yang lebih tajam dari perkiraan. Indeks manajer pembelian (PMI) komposit yang dirilis pada akhir pekan lalu merosot ke level terendah dalam 33 bulan, mengindikasikan sektor swasta negara itu menyusut untuk pertama kalinya sejak awal tahun. Angka ini memicu kekhawatiran bahwa perlambatan yang selama ini hanya terasa di Jerman kini menjalar ke negara-negara inti lainnya.
Kontraksi tersebut terutama dipicu oleh melemahnya sektor manufaktur yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor Prancis. Pesanan baru dari pasar domestik dan internasional turun signifikan, sementara tingkat kepercayaan pengusaha anjlok. Sektor jasa, yang sebelumnya relatif tangguh, kini ikut tergerus akibat turunnya permintaan konsumen yang dibebani oleh inflasi pangan dan energi yang masih tinggi. Para ekonom memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Prancis bisa terkontraksi 0,2 persen pada kuartal ketiga, setelah sebelumnya tumbuh tipis 0,1 persen pada kuartal kedua.
Kondisi ini menjadi ujian bagi pemerintahan Presiden Emmanuel Macron yang tengah berupaya menyeimbangkan anggaran di tengah tekanan sosial. Paket stimulus yang digulirkan untuk meredam dampak kenaikan harga energi mulai menunjukkan keterbatasan, sementara defisit fiskal yang melebar membatasi ruang gerak untuk bantuan tambahan. Di sisi lain, Bank Sentral Eropa (ECB) masih mempertahankan sikap hawkish dengan suku bunga acuan di level tertinggi sepanjang sejarah euro, membuat biaya pinjaman bagi rumah tangga dan korporasi semakin berat.
Bagi Indonesia, perlambatan ekonomi Eropa membawa implikasi ganda. Di satu sisi, pelemahan permintaan dari kawasan tersebut berpotensi menekan nilai ekspor komoditas andalan seperti kelapa sawit, karet, dan batu bara yang selama ini sebagian besar diserap pasar Eropa. Di sisi lain, gejolak di pasar keuangan global akibat kekhawatiran resesi dapat memicu arus keluar modal asing dari pasar obligasi dan saham domestik, memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Bank Indonesia pun dituntut untuk tetap waspada dalam menjaga stabilitas moneter di tengah ketidakpastian eksternal yang meningkat.
Namun, tidak semua sektor terdampak negatif. Pelemahan euro justru membuat produk-produk Eropa lebih kompetitif di pasar global, termasuk di Asia. Beberapa analis melihat ini sebagai peluang bagi perusahaan Eropa untuk meningkatkan pangsa pasar di kawasan yang masih tumbuh, seperti Indonesia. Selain itu, harga energi yang mulai mereda di Eropa dapat membantu menurunkan biaya produksi secara bertahap, memberikan sedikit ruang napas bagi industri manufaktur.
Pemerintah Prancis sendiri telah mengisyaratkan akan menyusun anggaran 2026 dengan fokus pada pengendalian defisit, meskipun langkah tersebut berisiko memicu protes sosial serupa gerakan "Rompi Kuning" beberapa tahun lalu. Menteri Keuangan Prancis, dalam pernyataannya, menegaskan komitmen untuk menjaga disiplin fiskal sambil tetap melindungi kelompok rentan melalui program bantuan yang ditargetkan.
Pertanyaan besarnya kini adalah apakah ECB akan bersedia mengubah arah kebijakan moneter lebih cepat dari perkiraan pasar. Sebagian besar pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama baru akan terjadi pada pertengahan 2026, tetapi jika data ekonomi terus memburuk, tekanan untuk bertindak lebih awal akan semakin kuat. Jika ECB akhirnya melonggarkan kebijakan, hal itu dapat memberikan stimulus bagi ekonomi Eropa dan secara tidak langsung mendukung permintaan global, termasuk untuk produk-produk Indonesia.



