Tottenham Tak Perlu Menyesal Gagal Dapatkan Ndiaye: Kudus Sudah Jadi Jawaban di Lini Serang
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur kehilangan Iliman Ndiaye ke Manchester City pada bursa musim panas, tetapi mereka memiliki Mohammed Kudus yang dianggap lebih unggul.
- Rekor Kudus di Premier League lebih impresif dengan 29 kontribusi gol dari 85 penampilan, dibandingkan Ndiaye yang hanya 19 dari 68 laga.
- Kudus, yang sempat cedera, diprediksi menjadi pembeda bagi Spurs saat kembali pulih, bahkan disebut sebagai peningkatan kualitas dari Ndiaye.

Bursa transfer musim panas lalu menjadi saksi drama perebutan pemain antara Tottenham Hotspur dan Manchester City. Di tengah hiruk-pikuk deadline day, Spurs harus merelakan Iliman Ndiaye direbut The Citizens dengan nilai transfer mencapai ยฃ65 juta. Namun, keputusan itu mungkin bukan sebuah kehilangan besar, sebab Tottenham sudah memiliki Mohammed Kudus yang justru dianggap sebagai versi lebih baik dari pemain asal Senegal tersebut.
Ndiaye, yang kini berseragam Manchester Biru, memang tampil memukau bersama Everton musim lalu. Kemampuan dribelnya yang lincah membuatnya menempati peringkat kedua di Premier League untuk jumlah dribel sukses. Mantan rekan setimnya, Kiernan Dewsbury-Hall, bahkan menyebutnya sebagai salah satu pemain terbaik di liga. Namun, catatan produktivitasnya menjadi sorotan: dalam 68 penampilan di Premier League, ia hanya mencetak 15 gol dan 4 assist. Musim lalu, ia hanya berkontribusi pada sembilan gol dalam 32 pertandingan, angka yang tidak terlalu istimewa untuk pemain dengan harga selangit.
Di sisi lain, Kudus menunjukkan performa yang lebih konsisten sejak tiba di Inggris. Pemain asal Ghana itu telah mengoleksi 29 kontribusi gol (15 gol dan 14 assist) dari 85 laga Premier League. Bahkan, saat bekerja di bawah asuhan David Moyes di West Ham United pada musim 2023/24, Kudus langsung nyetel dengan mencetak delapan gol dan enam assist. Angka tersebut melampaui pencapaian terbaik Ndiaye dalam semusim penuh di Everton yang hanya sembilan kontribusi gol.
Perbandingan keduanya kian menarik ketika melihat kemampuan dribel. Kudus tercatat rata-rata melakukan 3,8 dribel sukses per pertandingan pada musim 2023/24, angka yang jauh di atas rata-rata Ndiaye yang hanya 2,3 pada musim lalu. Kecepatan dan kekuatan Kudus saat membawa bola membuatnya menjadi mimpi buruk bagi bek lawan. Meski musim ini ia sempat terganggu cedera, potensinya untuk menjadi pembeda di lini serang Tottenham tidak perlu diragukan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga transfer ini memberikan pelajaran menarik tentang strategi klub-klub besar Eropa. Tottenham, yang juga memiliki koneksi dengan pemain Asia Tenggara melalui akademi mereka, tampaknya lebih memilih membangun skuad jangka panjang dengan pemain seperti Kudus yang sudah terbukti di liga terkeras di dunia. Sementara itu, Manchester City berani membayar mahal untuk potensi Ndiaye yang mungkin akan berkembang pesat di bawah asuhan Pep Guardiola.
Keputusan Tottenham untuk tidak memaksakan diri mendapatkan Ndiaye juga bisa dilihat sebagai langkah bijak. Dengan kehadiran pemain seperti Savio dan Omar Marmoush yang baru direkrut, serta Kudus yang siap kembali dari cedera, lini serang Spurs justru terlihat lebih menakutkan. Jurnalis Gary Al-Smith pernah menyebut Kudus sebagai "generasi talenta", dan jika ia mampu tampil konsisten, bukan tidak mungkin ia akan menjadi ikon baru di Tottenham Hotspur Stadium.
Pertanyaannya kini, akankah Kudus mampu membuktikan diri sebagai upgrade sejati atas Ndiaye ketika keduanya bertemu di lapangan? Atau justru Ndiaye yang akan bersinar di Manchester dan membuat Tottenham menyesal? Musim ini akan menjadi jawabannya.



