Kebangkitan Toby Samuel: Dari Peringkat 2.000 ke Kemenangan Perdana di Grand Slam
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris Toby Samuel mencatat kemenangan perdananya di turnamen Grand Slam dengan menaklukkan Tomas Machac di babak pertama US Open 2026.
- Dua tahun setelah terpuruk di peringkat 2.000 dunia akibat cedera, Samuel kini menembus 100 besar ATP dan mengantongi hadiah uang terbesar dalam kariernya.
- Kemenangan ini membuka peluang Samuel untuk tampil di Australia Terbuka 2027 dan menginspirasi petenis muda Indonesia yang menempuh jalur kampus Amerika.

Kebangkitan menakjubkan petenis Inggris, Toby Samuel, mencapai puncaknya di US Open 2026. Pemain berusia 23 tahun itu meraih kemenangan perdananya di turnamen Grand Slam dengan mengalahkan mantan pemain top 20 dunia, Tomas Machac, dalam tiga set langsung, 6-2, 6-3, 6-2. Kemenangan ini bukan sekadar angka, melainkan buah dari perjalanan panjang yang dimulai dari keterpurukan peringkat dunia.
Dua tahun lalu, Samuel nyaris menghilang dari peta tenis dunia. Cedera tulang pada lengan kanannya membuatnya terlempar ke peringkat 2.000 dunia dan absen hampir sepanjang musim 2024. Namun, dengan tekad baja, ia bangkit melalui sirkuit Challenger, memenangkan 36 dari 39 pertandingan dan kembali ke 300 besar. Kini, ia telah menembus 100 besar ATP dan mengantongi hadiah uang 140.000 dolar AS, pencapaian terbesar dalam kariernya.
Perjalanan Samuel tidak lepas dari keputusan berani orang tuanya yang mendorongnya menempuh pendidikan di University of South Carolina. Di kampus, ia tidak hanya meraih gelar ganda All American, tetapi juga belajar beradaptasi dengan atmosfer pertandingan yang 'super hidup'. Sistem tenis kampus Amerika yang juga melahirkan Arthur Fery, partner gandanya di Wimbledon Junior 2019, terbukti menjadi batu loncatan efektif bagi pemain muda.
Kemenangan atas Machac terasa istimewa karena Samuel tampil sangat klinis. Ia hanya kehilangan lima poin dalam sembilan game servisnya dan sempat memenangkan tujuh game beruntun. Bahkan saat tertinggal 0-2 di set ketiga, ia bangkit dan merebut enam game berikutnya, termasuk menyelamatkan dua break point. Konsistensi ini menjadi modal berharga saat ia bersiap menghadapi unggulan ke-18 asal Ceko, Jiri Lehecka, di babak kedua.
Kisah Samuel menjadi cermin bagi pengembangan tenis Indonesia. Jalur kampus Amerika yang ia tempuh menunjukkan bahwa pendidikan dan olahraga bisa berjalan beriringan. Bagi petenis muda Indonesia yang kerap terkendala biaya dan fasilitas, model seperti ini bisa menjadi alternatif. Keberhasilan Samuel juga menegaskan bahwa peringkat bukanlah segalanya; kerja keras dan ketekunan dapat mengubah arah karier secara dramatis.
Di sisi lain, kegagalan Cameron Norrie, unggulan ke-29, menjadi pelajaran berharga. Norrie mengakui kekalahannya dari Luca Van Assche lebih banyak disebabkan oleh kesalahan sendiri. Dengan 49 unforced errors, ia merasa 'kalah dari diri sendiri'. Ini menunjukkan bahwa mental dan konsistensi adalah kunci di turnamen sebesar Grand Slam.
Dengan kemenangan ini, Samuel dipastikan akan otomatis lolos ke Australia Terbuka 2027, melengkapi penampilannya di semua turnamen Grand Slam. Ia juga akan ditemani Katie Boulter yang berhasil melaju ke babak kedua. Pertanyaannya, mampukah Samuel mempertahankan performa dan menjadi ancaman serius bagi para unggulan? Atau justru kegagalan Norrie menjadi pengingat bahwa jalan masih panjang?



