FIFA vs UEFA: Perang Dokumen di Pengadilan AS Panas, Skema Investasi Piala Dunia Jadi Medan Tempur
Baca dalam 60 detik
- FIFA menuduh UEFA melancarkan kampanye negatif terkait rencana investasi swasta di Piala Dunia yang batal, dan meminta pengadilan AS menolak permohonan UEFA.
- UEFA menuding Presiden FIFA Gianni Infantino melakukan mismanajemen kriminal dan harga jual aset yang tidak wajar dalam skema Fifa Forward Enterprise.
- Kushner, calon investor utama, menyatakan penyesalan, sementara konflik ini berpotensi mengubah peta kekuatan finansial sepak bola global.

Perseteruan antara FIFA dan UEFA memasuki babak baru yang semakin panas. Dalam dokumen pengadilan yang diajukan di Amerika Serikat, FIFA secara terbuka menuduh UEFA melancarkan "kampanye fitnah" terhadap presidennya, Gianni Infantino, terkait batalnya rencana menjual sebagian kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta. Langkah ini merupakan respons langsung atas manuver hukum UEFA yang sebelumnya meminta pengungkapan dokumen FIFA di pengadilan AS sebagai bagian dari potensi tuntutan pidana di Swiss.
Konflik ini berakar pada skema Fifa Forward Enterprise (FFE), sebuah rencana ambisius yang dirancang untuk menarik investasi miliaran dolar ke dalam sepak bola global. UEFA, melalui pengacaranya, menuduh Infantino melakukan "mismanajemen kriminal" dan menetapkan harga yang "curang" untuk keuntungan pribadinya. Namun, FIFA membantah keras tuduhan tersebut, menyebut FFE hanyalah "proposal" yang membutuhkan persetujuan mayoritas asosiasi anggota dan Dewan FIFA.
Dalam filing pengadilan yang dilihat BBC, FIFA menegaskan bahwa UEFA justru menghindari proses demokratis dan memilih jalur kampanye publik. Tuduhan yang lebih tajam dilontarkan FIFA: UEFA diduga memiliki "motivasi ekonomi" untuk mencegah negara-negara kecil berkembang, demi melindungi dominasi klub-klub elite Eropa. FIFA berargumen, jika sepak bola di negara berkembang menguat, persaingan global akan meningkat dan menggerus pangsa pasar turnamen flagship UEFA.
Pertarungan ini tidak hanya soal legalitas, tetapi juga menyangkut masa depan tata kelola sepak bola dunia. UEFA, yang memimpin pemberontakan terhadap Infantino, juga meminta pengadilan di New York untuk memerintahkan kesaksian dan dokumen dari Joshua Kushner, tokoh ventura yang juga ipar presiden AS, serta perusahaannya Thrive Eternal. Kushner, yang sempat menjadi investor utama FFE, kini mengaku menyesal. "Kami gagal memahami dinamika politik sepak bola global," ujarnya, seraya menambahkan bahwa jika tahu akan berlarut seperti ini, mereka tidak akan terlibat.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki relevansi yang tidak bisa diabaikan. Sepak bola nasional tengah bergulat dengan isu pendanaan dan pembinaan usia muda. Jika FFE sempat terwujud, negara berkembang seperti Indonesia berpotensi menerima alokasi dana yang jauh lebih besar—hampir tiga kali lipat—yang bisa digunakan untuk membangun infrastruktur dan program pembinaan. Namun, batalnya skema ini juga berarti hilangnya peluang pendanaan alternatif di luar sponsor tradisional. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang dikenal dekat dengan kalangan investor global, mungkin bisa memanfaatkan jaringan tersebut untuk mencari sumber pendanaan lain, meski harus tetap waspada terhadap risiko tata kelola yang menjadi sorotan UEFA.
Perseteruan FIFA-UEFA juga menyoroti keretakan yang lebih dalam antara sepak bola Eropa yang kaya dan negara berkembang yang haus investasi. FIFA menilai upaya UEFA untuk menggagalkan FFE adalah bentuk proteksionisme untuk mempertahankan supremasi kompetisi Eropa. Di sisi lain, UEFA menganggap langkah FIFA sebagai pengabaian prinsip transparansi dan akuntabilitas. Pertanyaannya, apakah konflik ini akan memaksa reformasi di internal FIFA, atau justru memperlebar jurang antara dua kubu? Yang jelas, keputusan pengadilan AS dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi penentu arah perseteruan ini, dan implikasinya akan terasa hingga ke ruang rapat federasi sepak bola di seluruh dunia, termasuk Indonesia.



