Menjabat Januari 2027, Calon Menteri Singapura Shawn Loh Pilih Mendengar Dulu: Pendidikan dan Kesehatan Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Shawn Loh, yang akan menjabat sebagai Menteri Negara Pendidikan dan Kesehatan pada Januari 2027, menunda menetapkan prioritas kebijakan demi mendengarkan aspirasi warga dan pemangku kepentingan.
- Kekhawatiran utama yang ia temui meliputi biaya kesehatan lansia yang kian memberatkan serta stres berlebihan dalam sistem pendidikan yang dinilai mematikan kecintaan anak pada belajar.
- Loh, yang juga ayah empat anak dan memiliki orang tua lanjut usia, membawa perspektif pribadi dalam merumuskan kebijakan, dengan komitmen berani mengambil risiko demi perbaikan hidup warga Singapura.

Menjelang pelantikannya pada 1 Januari 2027 sebagai Menteri Negara Pendidikan dan Kesehatan, Shawn Loh justru memilih untuk tidak terburu-buru memetakan program kerja. Anggota parlemen dari Jalan Besar GRC ini sengaja menahan diri untuk mendengarkan dulu berbagai masukan, baik dari warga di daerah pemilihannya maupun para profesional di kedua sektor tersebut, sebelum merumuskan arah kebijakan.
Langkah ini diambil di tengah kegelisahan publik yang ia serap selama ini: biaya perawatan kesehatan untuk warga lanjut usia yang terus meningkat, serta tekanan akademis yang dinilai berlebihan pada anak-anak. “Saya sengaja menunda penilaian dan tidak mencoba memaksakan gagasan sebelum mendengar,” ujarnya dalam wawancara dengan CNA, seraya menegaskan bahwa pendekatan serupa akan ia terapkan kepada para guru, perawat, dan dokter yang menjadi garda depan pelayanan publik.
Fenomena yang ia temui di wilayah Whampoa, tempatnya bertugas, menggambarkan dua sisi demografis yang kontras: populasi menua dan keluarga muda yang menghuni rumah susun baru. Dari interaksinya dengan para lansia, Loh menyoroti banyaknya warga yang kehabisan tabungan untuk biaya kesehatan, menciptakan ketidakpastian finansial di usia senja. Sementara itu, para orang tua mengeluhkan stres yang menghantui anak-anak mereka di sekolah. Menurut Loh, meski sebagian tekanan diperlukan untuk pertumbuhan, stres yang tidak perlu justru “menghancurkan kegembiraan belajar” dan berisiko melahirkan generasi yang kehilangan rasa ingin tahu—terutama di era kemudahan akses informasi seperti sekarang.
Pengalaman pribadi Loh memberinya kepekaan ganda. Sebagai ayah dari empat anak yang masih duduk di bangku sekolah dan satu di penitipan anak, ia merasakan langsung dinamika sistem pendidikan. Di sisi lain, orang tuanya yang menua membuatnya memahami beban pengasuhan yang dialami banyak orang seusianya. “Kami cukup sering berinteraksi dengan sistem pendidikan dan kesehatan. Ini memberi saya gambaran langsung tentang perjalanan yang dilalui banyak warga Singapura,” tuturnya. Ia juga mengakui bahwa banyak teman sebayanya tengah atau akan menghadapi tekanan mengurus orang tua, isu yang menurutnya masih menjadi perhatian besar masyarakat.
Keputusan Loh untuk meminta penundaan masa tugas kepada Perdana Menteri Lawrence Wong—demi memastikan transisi kepemimpinan di Commonwealth Capital Group, tempatnya menjabat direktur pelaksana—menunjukkan keseriusannya dalam mengemban amanat. Sebelum dilantik, ia akan merampungkan tanggung jawab korporat dan mendalami kedua portofolio barunya. Dengan latar belakang sebagai pegawai negeri di Kementerian Keuangan, Dewan Pengembangan Ekonomi, dan Kantor Perdana Menteri, Loh merasa memiliki perspektif menyeluruh tentang perumusan kebijakan dan dampaknya bagi bisnis, pekerja, serta individu.
Meski belum menetapkan prioritas, Loh telah mengangkat sejumlah isu di parlemen selama setahun terakhir, mulai dari Skema Dukungan Perak untuk lansia hingga layanan pengasuhan anak dan siswa. Ia menilai keprihatinan tersebut relevan untuk dibawa ke meja diskusi kebijakan. “Saya berharap dapat memberikan kontribusi yang berarti, dan pada akhirnya merasakan adanya perubahan besar dalam hidup warga Singapura,” katanya. Ia juga mengaku siap mengambil risiko dalam pengambilan keputusan, dengan catatan tetap berpegang pada arah yang jelas dan melibatkan warga dalam eksplorasi kebijakan.
Menyoal gaya kepemimpinannya, Loh menegaskan bahwa warga dapat mengharapkan seorang menteri yang selalu berusaha mendengar dan memahami kekhawatiran, tidak takut mengambil keputusan sulit, serta berkomitmen menjelaskan alasan di balik setiap kebijakan. Jika terjadi perbedaan pendapat, ia siap “berbeda pendapat secara hormat” dan memaparkan logikanya. Pertanyaan besarnya kini: apakah pendekatan “mendengar” ini akan cukup untuk menjawab tantangan struktural seperti pembiayaan kesehatan jangka panjang dan tekanan akademis yang mengakar? Jawabannya baru akan terlihat setelah ia benar-benar menjabat dan kebijakan pertamanya diuji publik.



