Sarawak Gencar Modifikasi Cuaca: Operasi Penyemaian Awan Tiga Hari untuk Selamatkan Bendungan dan Redakan Kabut Asap
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Sarawak memulai operasi penyemaian awan selama tiga hari untuk mengisi kembali bendungan hidroelektrik yang kritis dan menekan polusi udara menjelang musim kemarau yang diperkirakan lebih parah pada Oktober.
- Operasi yang melibatkan pesawat C-130 milik Angkatan Udara Kerajaan Malaysia ini menargetkan 13 daerah tangkapan air utama, dengan fokus awal pada tiga bendungan raksasa: Batang Ai, Bakun, dan Murum.
- Langkah ini merupakan upaya ketiga kalinya tahun ini, menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam mengantisipasi krisis air dan kesehatan masyarakat akibat kabut asap lintas batas.

Kuching, 3 September 2026 โ Sarawak resmi meluncurkan operasi penyemaian awan (cloud seeding) selama tiga hari untuk mengatasi penurunan drastis permukaan air di bendungan-bendungan hidroelektrik utama sekaligus meredakan kabut asap yang kian pekat. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap musim kemarau yang diprediksi lebih kering dan panas pada Oktober mendatang, sebuah ancaman nyata bagi ketahanan air dan kualitas udara di wilayah tersebut.
Pada hari pertama, pesawat C-130 milik Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) menyasar tiga bendungan raksasaโBatang Ai di Divisi Sri Aman, serta Bakun dan Murum di kawasan utara. Dua hari berikutnya, operasi akan diperluas ke 13 daerah tangkapan air kritis yang tersebar di Samarahan, Sri Aman, Betong, Kapit, dan Limbang. Wakil Perdana Menteri Sarawak, Datuk Douglas Uggah Embas, yang juga memimpin Komite Penanggulangan Bencana Negara Bagian (SDMC), menyatakan bahwa langkah proaktif ini bertujuan mengisi kembali reservoir sebelum kondisi kering yang parah melanda.
"Oktober berpotensi lebih panas dan kering. Kami ingin menaikkan permukaan air sebanyak mungkin selagi masih bisa," ujar Uggah di Pangkalan RMAF Kuching, saat menyaksikan lepas landasnya pesawat yang membawa empat tangki baja berisi 7.200 liter larutan garam. Meskipun permukaan air di sejumlah waduk berada di bawah normal, Uggah menegaskan situasi masih terkendali dan perusahaan utilitas Sarawak Energy Berhad terus memantau secara ketat. Selain mengamankan pasokan air, hujan buatan ini diharapkan mampu membersihkan polutan udara dan mengurangi dampak kabut asap yang bersumber dari kebakaran lahan.
Meteorolog Mohd Ridzuan Adam menjelaskan bahwa awan kumulus yang menjulang tinggi menjadi sasaran utama. Larutan garam disemprotkan langsung ke formasi awan yang kaya uap air, biasanya memicu hujan dalam satu hingga tiga jam. Namun, angin barat daya yang lemah dapat memperlambat proses ini. "Kami tidak bisa menjamin hujan langsung turun setelah penyemaian, tetapi kami akan terus beroperasi setiap kali menemukan formasi awan yang cocok," kata Ridzuan, seraya menambahkan bahwa langit cerah atau awan kering tidak dapat disemai.
Operasi ini merupakan yang ketiga kalinya dilakukan Sarawak tahun ini, setelah dua operasi serupa pada Mei dan Juni. Hal ini menggarisbawahi meningkatnya frekuensi kejadian kabut asap dan kekeringan di kawasan Asia Tenggara, yang sebagian besar dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia. Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya pengendalian kebakaran lintas batas, mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan domestik tetapi juga negara tetangga seperti Malaysia. Kerja sama regional dalam modifikasi cuaca dan penegakan hukum terhadap pembakar lahan menjadi semakin krusial.
Dengan kualitas udara yang terus memburuk, SDMC mengimbau masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok rentan, untuk mengambil langkah perlindungan kesehatan seperti mengenakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Namun, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah operasi penyemaian awan ini cukup efektif untuk mengatasi akar masalah kabut asap yang bersumber dari kebakaran lahan di Indonesia? Atau justru ini hanya solusi sementara yang menutupi perlunya pendekatan yang lebih komprehensif dan kolaboratif di tingkat regional?



