Alcaraz Bangkit dari Ketertinggalan, Kokoh di US Open 2025
Baca dalam 60 detik
- Juara bertahan Carlos Alcaraz menaklukkan Jaime Faria 4-6, 6-0, 6-3, 6-2 di babak kedua US Open, membuktikan kesiapannya setelah cedera pergelangan tangan.
- Kemenangan ini menjadi sinyal positif bagi Alcaraz yang baru kembali bertanding setelah absen sejak April, sekaligus menegaskan dominasinya di turnamen Grand Slam.
- Dengan tersingkirnya Djokovic dan absennya Sinner, peluang Alcaraz untuk mempertahankan gelar di New York semakin terbuka lebar.

Carlos Alcaraz memastikan langkahnya ke babak ketiga US Open setelah menundukkan petenis Portugal, Jaime Faria, dalam pertarungan empat set yang menegangkan, Rabu (27/8) waktu setempat. Unggulan kedua asal Spanyol itu sempat kehilangan set pertama, namun berhasil bangkit dan menutup laga dengan skor 4-6, 6-0, 6-3, 6-2 di sesi malam yang berlangsung di Flushing Meadows, New York. Kemenangan ini sekaligus menjawab keraguan mengenai kondisi fisiknya setelah menjalani pemulihan cedera pergelangan tangan kanan yang berk berkepanjangan.
Pertandingan melawan petenis peringkat 72 dunia itu menjadi ujian sesungguhnya bagi Alcaraz, yang baru pertama kali tampil di turnamen sejak April lalu. Pada set pembuka, ia tampak kesulitan menemukan ritme dan harus mengakui keunggulan Faria yang bermain agresif. Namun, kegagalan Faria memanfaatkan dua break point di game pertama set kedua menjadi titik balik. Alcaraz kemudian tampil dominan, meraih enam game beruntun tanpa balas, dan tidak memberi kesempatan lawannya untuk berkembang.
"Pertandingan yang berat. Saya merasa baik di set pertama, tapi saya tidak memanfaatkan waktu dengan baik dan itu merugikan saya," ujar juara tujuh Grand Slam itu. "Setelah itu, saya mencoba tetap fokus, tenang, dan berpikir hal-hal baik akan terjadi." Pernyataan tersebut menggambarkan mentalitas petenis 23 tahun itu yang semakin matang dalam menghadapi tekanan di turnamen besar.
Kemenangan ini tidak hanya mengamankan posisinya di turnamen, tetapi juga menjadi bukti bahwa pukulan forehand-nya kembali normal. Setelah laga, Alcaraz menegaskan bahwa ia tidak lagi menahan diri dalam setiap pukulan. "Begitu saya melangkah ke lapangan, saya harus berani mengambil risiko. Saya harus merasa normal, memukul seperti sebelum cedera," katanya. "Saya merasa hebat. Tidak ada alasan untuk takut."
Bagi penggemar tenis di Indonesia, performa Alcaraz ini menarik untuk disimak, mengingat ia adalah salah satu ikon generasi baru yang kerap menjadi idola di Asia. Kehadirannya di turnamen Grand Slam selalu dinanti, dan kebangkitannya dari cedera menjadi inspirasi bagi atlet muda Tanah Air yang tengah berjuang menembus level internasional.
Dengan tersingkirnya Novak Djokovic di babak pertama dan absennya Jannik Sinner karena cedera, persaingan di papan atas US Open tahun ini terasa lebih terbuka. Alcaraz pun dianggap memiliki peluang besar untuk melaju jauh, bahkan mempertahankan gelar juara. Namun, ia harus mewaspadai lawan-lawan tangguh yang masih bertahan, seperti Ben Shelton, Frances Tiafoe, dan Tommy Paul yang juga menunjukkan performa impresif di babak-babak awal.
Alcaraz mengakui bahwa bermain empat set justru menjadi keuntungan untuk menguji ketahanan fisiknya. "Pada akhirnya, saya menyadari bahwa bermain empat set sangat baik untuk menguji segalanya secara fisik, menguji tubuh saya, bagaimana perasaan saya, dan bagaimana saya akan merasa besok setelah pertandingan ini," jelasnya. Ini menjadi modal penting mengingat turnamen masih panjang dan lawan-lawan yang dihadapi akan semakin berat.
Sementara itu, di bagian undian lain, sejumlah kejutan terjadi. Rafael Jodar, unggulan ke-12 asal Spanyol, harus tersingkir setelah dikalahkan Bu Yunchaokete dari China dengan skor telak 6-2, 6-1, 6-1. Sementara itu, Mariano Navone, yang sebelumnya menyingkirkan Djokovic, melanjutkan tren positifnya dengan mengalahkan Matteo Berrettini. Ben Shelton dan Frances Tiafoe juga melaju mulus, menjaga asa Amerika Serikat untuk memiliki juara tunggal putra pertama sejak Andy Roddick pada 2003.
Langkah Alcaraz selanjutnya adalah menghadapi Wu Yibing, petenis China yang berada di peringkat 113. Meski secara peringkat jauh di bawah, Wu bukan lawan yang bisa diremehkan. Pertandingan ini akan menjadi ujian konsistensi bagi Alcaraz, terutama dalam hal pemulihan fisik setelah menjalani laga panjang. Apakah ia mampu mempertahankan performa dan melaju hingga partai puncak? Jawabannya akan terjawab dalam beberapa pekan ke depan di New York.



