Wabah Ebola di Kongo Tembus 3.000 Kematian: WHO Peringatkan Penularan Tak Terkendali
Baca dalam 60 detik
- Kongo mencatat 3.007 kematian dari 6.186 kasus Ebola, menjadikannya wabah tercepat yang pernah tercatat.
- CDC AS menyebut upaya penanganan berada di bawah target, dengan sebagian besar kasus terjadi di luar rantai penularan yang diketahui.
- Vaksin Ervebo mulai didistribusikan kepada petugas kesehatan, namun tantangan keamanan dan infrastruktur masih menghambat pengendalian.

Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) telah menewaskan lebih dari 3.000 orang dari 6.186 kasus terkonfirmasi, menurut data Kementerian Kesehatan Kongo yang dirilis Rabu (2/9). Angka ini menjadikan wabah tersebut yang tercepat penyebarannya dalam sejarah, melampaui kemampuan otoritas untuk melacak dan memperlambat laju infeksi.
Sejak dinyatakan sebagai darurat kesehatan global pada pertengahan Mei, penyakit ini telah menyebar ke enam provinsi. Pekan lalu saja, dua zona kesehatan baru di Kivu Utara melaporkan kasus, dengan tingkat fatalitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain. Para ahli menilai kombinasi konflik bersenjata, serangan terhadap petugas medis, dan infrastruktur kesehatan yang minim menjadi pemicu utama ekspansi wabah.
Laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) yang dirilis Selasa (1/9) menggarisbawahi bahwa upaya penahanan "tetap di bawah target respons yang ditetapkan". Data menunjukkan sebagian besar kasus baru terjadi di luar rantai penularan yang diketahui, dengan hanya 15-20% kasus yang berasal dari kontak yang teridentifikasi. Hal ini mengindikasikan "ekspansi wabah yang tidak terkendali", seperti dikutip dalam laporan tersebut.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengakui adanya rantai penularan yang belum terdeteksi otoritas. "Sampai setiap rantai ditemukan dan diputus, epidemi ini akan terus berlanjut dan mengancam DRC, negara tetangga, serta kawasan secara keseluruhan," ujarnya dalam pernyataan resmi, Rabu.
Di lapangan, warga merasakan dampak langsung. Jean-Claude Angwanzia, warga Bunia, mengaku melarikan diri dari Mambassa, pusat wabah di Provinsi Ituri, karena khawatir keselamatannya. Ia menyaksikan penanganan jenazah yang tidak layak dan minimnya kehadiran petugas kesehatan. "Saya harus pergi karena bahaya mengancam kami," katanya. Papy Baraka, sopir angkutan umum di Bunia, mengurangi jumlah penumpang karena takut penularan. "Penyakit ini menempatkan semua orang pada risiko, dan kehidupan sehari-hari berjalan lambat. Kami takut," tuturnya.
Kekhawatiran juga muncul seiring dimulainya tahun ajaran baru di tengah wabah, yang berpotensi meningkatkan transmisi di ruang kelas. Sementara itu, petugas kesehatan yang bekerja dalam kondisi sulit telah beberapa kali mogok untuk menuntut pembayaran gaji. Faktor lain seperti pergerakan para penambang yang sulit dipantau dan infrastruktur kesehatan yang tidak memadai semakin memperumit upaya pengendalian.
WHO memperkirakan wabah ini berpotensi melampaui rekor terburuk di Afrika Barat pada 2014-2016 yang menewaskan 11.000 orang. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) bahkan menilai jumlah kasus sebenarnya bisa tiga kali lebih besar dari yang tercatat, mengingat lemahnya surveilans dan pelacakan kontak. Meski demikian, wabah ini telah menjadi yang paling mematikan dalam sejarah Kongo.
Virus Bundibugyo yang memicu wabah ini belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui secara khusus, meskipun beberapa kandidat sedang dikembangkan. Pekan lalu, pemerintah mulai mendistribusikan vaksin Ervebo kepada petugas kesehatan garis depan di Kisangani, wilayah timur laut Tshopo. Vaksin yang pernah digunakan untuk memerangi wabah Ebola sebelumnya ini diharapkan memberikan perlindungan bagi mereka yang paling berisiko.
Bagi Indonesia, wabah ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi penyakit menular lintas batas. Meski risiko penularan langsung ke Indonesia rendah, mobilitas global dan potensi mutasi virus menuntut kewaspadaan. Pengalaman Indonesia dalam menangani COVID-19 menunjukkan bahwa deteksi dini dan respons cepat adalah kunci, namun konflik dan ketidakstabilan politik di negara endemis seperti DRC dapat menjadi penghambat besar.
Ke depan, pertanyaan krusial adalah apakah distribusi vaksin dan peningkatan pelacakan kontak mampu mengejar laju penularan. Tanpa dukungan internasional yang berkelanjutan dan gencatan senjata di wilayah konflik, wabah Ebola di Kongo berisiko menjadi krisis kemanusiaan yang lebih luas. Apakah dunia akan belajar dari kegagalan penanganan awal ini?



