Shaughna Phillips: Balas Komentar Jahat di Medsos Justru Memberi 'Dopamin Hit'
Baca dalam 60 detik
- Mantan bintang Love Island musim 2020 mengaku menikmati perang komentar dengan haters, bahkan menganggapnya sebagai hiburan.
- Ia menilai troll yang kreatif layak diapresiasi, sementara komentar generik dianggap membuang waktu.
- Pengalaman hidup yang berat membuatnya kebal terhadap hinaan di dunia maya, sebuah sikap yang bisa menjadi pelajaran bagi publik Indonesia.

Mantan kontestan Love Island musim dingin 2020, Shaughna Phillips, justru merasa terhibur ketika menerima komentar negatif di media sosial. Perempuan 32 tahun itu mengaku mendapat semacam kepuasan batin saat membalas para pembenci, sebuah respons yang mungkin tak lazim bagi kebanyakan selebritas.
Dalam wawancara eksklusif dengan BANG Showbiz atas nama BetWright Casino, Phillips menyatakan bahwa dirinya kerap menertawakan hinaan yang diterimanya. "Saya tidak tahu apakah ada yang salah dengan diri saya, tapi troll justru membuat saya tertawa. Saya benar-benar berpikir mungkin ada yang aneh dengan otak saya," ujarnya.
Menariknya, Phillips mengaku lebih menghargai troll yang berusaha kreatif dalam melontarkan hinaan. "Jika mereka memberi saya hinaan yang generik dan membosankan, saya berpikir, 'Itu sangat membosankan. Saya tidak percaya Anda bersusah payah hanya untuk mengatakan itu.' Tapi jika mereka benar-benar kreatif, saya akan berpikir, 'Anda tahu? Saya menghargai itu. Saya menghargai kerja keras yang Anda lakukan,'" jelasnya.
Kebiasaan membalas komentar jahat ini sulit dihentikannya, meski ia sadar bahwa memberi perhatian justru bisa memperbesar masalah. "Saya suka menanggapi, dan saya mencoba untuk tidak melakukannya karena saya benar-benar berusaha untuk tidak memberi mereka perhatian, tapi saya suka memberi tahu mereka bahwa mereka tidak mengganggu saya. Saya mendapat seperti dopamin hit dari itu. Saya harusnya diteliti," katanya sambil bercanda.
Phillips juga menyindir ketidakberdayaan troll dengan analogi tentang Kim Kardashian. "Jika saya pergi ke Instagram Kim Kardashian dan berkomentar, 'Oh, rambutmu jelek sekali di sini,' apakah menurut Anda Kim Kardashian akan kehilangan tidur karena saya? Tidak. Tapi jangan salah, mungkin ada beberapa kali saya berpikir rambutnya tidak bagus, tapi saya tidak duduk di sana dan memberitahunya karena siapa yang peduli?" ujarnya.
Ia menambahkan bahwa membalas troll memberinya sensasi tersendiri karena ia tahu komentar-komentar itu tidak ada artinya. "Saya hanya suka memberi tahu mereka betapa menyedihkannya mereka. Itu memberi saya getaran," tegasnya.
Pengalamannya menghadapi masalah nyata dalam hidup membuat hinaan di dunia maya terasa ringan. "Saya selalu seperti itu. Saya berpikir, jika Anda bersusah payah mengatakan sesuatu yang buruk tentang saya, berarti saya ada di pikiran Anda. Itu sebenarnya cukup mengkhawatirkan karena tidak ada satu pun orang di Instagram yang saya lihat lalu berpikir, 'Oh, dia jelek. Biar saya beri tahu dia,' karena apa yang akan terjadi? Mungkin membuat seseorang merasa buruk tentang dirinya sendiri," paparnya.
Phillips menambahkan, "Fakta bahwa mereka melakukan itu menunjukkan bahwa mereka sebenarnya cukup bermasalah. Tapi Anda tahu? Saya pernah mengalami masalah nyata dalam hidup. Saya pernah mengalami hal-hal buruk yang nyata. Jadi seseorang di Instagram yang bilang saya jelek atau gemuk itu seperti air di bulu bebek. Jika itu hal terburuk yang terjadi dalam hidup saya, maka saya sudah menjalani hidup yang sangat baik."
Sikap Phillips ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi publik Indonesia yang kerap kali larut dalam perundungan siber. Di tengah maraknya kasus cyberbullying yang berujung pada depresi, cara pandang yang sehat terhadap hinaan di media sosial menjadi penting. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua orang memiliki ketahanan mental sekuat Phillips, sehingga dukungan psikologis tetap diperlukan bagi mereka yang terdampak.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah sikap santai seperti ini bisa direplikasi oleh figur publik lain di Indonesia, atau justru akan semakin banyak yang memilih untuk melaporkan para troll ke pihak berwajib? Yang jelas, perbincangan tentang etika bermedia sosial dan kesehatan mental akan terus relevan, dan pengalaman Phillips menawarkan satu perspektif yang jarang terdengar.



