Prabowo di Forum Ekonomi Timur: Pertumbuhan Tanpa Dampak ke Meja Makan Keluarga Hanyalah Angka
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan harus diukur dari manfaat nyata bagi keluarga biasa, bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi.
- Pidato di EEF ke-11 menegaskan komitmen Indonesia pada program Makan Bergizi Gratis, swasembada pangan, dan hilirisasi industri sebagai pilar pemerataan.
- Prabowo menyoroti potensi kerja sama ekonomi Indonesia-Rusia, dengan nilai perdagangan yang tumbuh signifikan hingga mendekati US$5 miliar pada 2025.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan yang hanya menguntungkan segelintir orang tidak akan membawa perubahan berarti; ukuran sesungguhnya adalah apakah manfaatnya sampai ke meja makan keluarga biasa. Dalam pidatonya sebagai tamu kehormatan pada Forum Ekonomi Timur (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis lalu, ia mengajukan serangkaian pertanyaan retoris yang menjadi uji konkret: apakah anak-anak memperoleh makanan bergizi, petani mendapat pupuk dan harga jual yang adil, keluarga memiliki hunian layak, kaum muda memperoleh pekerjaan produktif, dan listrik menjangkau setiap desa.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika diplomatik. Prabowo menghubungkan langsung prinsip tersebut dengan program unggulan pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), serta target besar mencapai swasembada pangan dan ketahanan energi. Ia juga menekankan percepatan hilirisasi industri sebagai jalan untuk mengubah sumber daya alam menjadi nilai tambah, keterampilan, dan lapangan kerja di dalam negeri. Dengan kata lain, pemerintah tidak lagi mengejar pertumbuhan demi pertumbuhan, melainkan pertumbuhan yang inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Pidato di forum bergengsi kawasan Asia-Pasifik itu sekaligus menjadi panggung bagi Prabowo untuk mempromosikan agenda ekonominya ke dunia internasional. Ia secara eksplisit menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi yang dikejar adalah yang mampu "mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan menuju martabat". Pernyataan ini relevan mengingat Indonesia masih menghadapi tantangan kemiskinan dan ketimpangan, meski angka pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif.
Di luar pesan domestik, Prabowo juga membuka ruang baru dalam hubungan bilateral Indonesia-Rusia. Ia menyoroti potensi kerja sama di bidang ketahanan pangan, mencakup teknologi pertanian, benih unggul, pembiakan ternak, mekanisasi, hingga produksi pupuk bersama. Menurutnya, kedua negara memiliki kekuatan ekonomi yang saling melengkapi: Rusia unggul dalam gandum, pupuk, energi, serta sains dan teknik, sementara Indonesia kaya akan komoditas seperti minyak sawit, perikanan, kopi, dan karet.
Data perdagangan bilateral yang dipaparkan Prabowo menunjukkan tren positif yang signifikan. Nilai yang mendekati US$5 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan lebih dari 20% dalam setahun, menandakan bahwa hubungan ekonomi kedua negara belum mencapai titik jenuh. Prabowo menyebut pencapaian ini "hanyalah permulaan, bukan batas maksimal", mengisyaratkan adanya ruang besar untuk ekspansi, terutama di sektor pangan dan energi.
Bagi Indonesia, kerja sama dengan Rusia di bidang pertanian dapat menjadi jawaban atas kebutuhan pupuk dan teknologi pertanian yang selama ini masih bergantung pada impor. Di sisi lain, Rusia membutuhkan pasar yang stabil untuk komoditasnya. Namun, perlu dicermati bahwa hubungan ekonomi ini berlangsung di tengah sanksi Barat terhadap Rusia. Indonesia perlu menjaga keseimbangan agar kerja sama ini tidak menimbulkan risiko geopolitik yang dapat mengganggu hubungan dengan mitra dagang utama lainnya.
"Pembangunan tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang. Pembangunan harus diukur di meja makan keluarga biasa..." โ Presiden Prabowo Subianto di EEF ke-11.
Pidato Prabowo di Vladivostok tidak hanya menegaskan arah kebijakan domestik, tetapi juga mengirim sinyal bahwa Indonesia ingin memainkan peran lebih aktif dalam arsitektur ekonomi kawasan. Pertanyaannya, apakah komitmen ini akan diikuti dengan kebijakan yang konsisten dan terukur di dalam negeri? Publik tentu menunggu realisasi nyata dari janji-janji pembangunan yang berpusat pada kesejahteraan keluarga biasa, bukan sekadar angka pertumbuhan yang mengesankan di atas kertas.



