Dollywood Siapkan Instalasi Baru untuk Kenang Dolly Parton, Termasuk Air Terjun Refleksi
Baca dalam 60 detik
- Taman hiburan Dollywood akan menambah instalasi permanen untuk mengenang Dolly Parton yang wafat pada Agustus lalu.
- Fasilitas baru tersebut mencakup air terjun refleksi, jendela kaca patri bertema ayat Alkitab, dan karakter 'The Dream Maker'.
- Langkah ini diharapkan memperkuat posisi Dollywood sebagai destinasi wisata budaya dan spiritual di kawasan Smoky Mountains.

Manajemen Dollywood, taman hiburan legendaris milik mendiang Dolly Parton di Tennessee, Amerika Serikat, mengumumkan rencana penambahan sejumlah instalasi permanen untuk menghormati sang legenda musik country. Langkah ini diambil sekitar empat bulan setelah Parton tutup usia pada 25 Agustus lalu, dan diharapkan menjadi daya tarik baru bagi jutaan pengunjung yang datang setiap tahun.
Dalam pernyataan resminya, pengelola taman yang berlokasi di kaki Pegunungan Great Smoky Mountains itu menyebut akan menghadirkan "pengalaman dan instalasi" yang merefleksikan kontribusi luar biasa Parton, nilai-nilai yang ia junjung, serta kecintaannya pada alam dan masyarakat sekitar. Beberapa elemen baru itu antara lain air terjun yang menjadi pusat area refleksi luas, yang akan dibangun di dekat Kapel Robert F. Thomas. Air terjun ini dirancang untuk memberi ketenangan bagi pengunjung yang ingin merenung dan menikmati keindahan alam yang selama ini menginspirasi karya-karya Parton.
Selain itu, kapel tersebut akan mendapatkan jendela kaca patri baru yang menggambarkan ayat Ecclesiastes 3:1, "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya." Ayat ini dipilih karena memiliki resonansi mendalam bagi Parton. Di area Wildwood Grove, pengelola akan membangun kios-kios khusus di mana pengunjung dapat menuliskan pemikiran dan pesan tentang bagaimana Parton menginspirasi mereka untuk bermimpi besar. Sebuah karakter baru bernama The Dream Maker juga akan diperkenalkan, serta jalur pejalan kaki baru di dekat pintu masuk Museum Dolly Parton Experience.
Rencana ini disambut positif oleh para pengamat industri pariwisata. Mereka menilai Dollywood tidak hanya menjadi taman hiburan biasa, tetapi juga simbol warisan budaya Amerika Selatan. Dengan tambahan elemen reflektif dan spiritual, taman ini berpotensi menarik segmen pengunjung yang mencari pengalaman lebih mendalam, bukan sekadar wahana bermain. "Ini langkah cerdas untuk menjaga relevansi Dollywood di tengah persaingan taman hiburan global," ujar seorang analis pariwisata yang enggan disebut namanya.
Bagi penggemar Dolly Parton di Indonesia, kabar ini mungkin terasa jauh, tetapi dampaknya bisa dirasakan melalui industri hiburan dan pariwisata global. Indonesia sendiri memiliki tradisi menghormati tokoh publik melalui museum atau taman hiburan bertema, seperti Taman Mini Indonesia Indah yang menampilkan rumah adat dan budaya. Namun, pendekatan Dollywood yang memadukan unsur spiritual dan personal dalam sebuah taman hiburan bisa menjadi inspirasi bagi pengelola destinasi wisata di Tanah Air untuk lebih kreatif dalam membangun koneksi emosional dengan pengunjung.
Dolly Parton, yang populer lewat lagu "Jolene" dan "I Will Always Love You", meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit yang tidak diungkapkan secara detail. Pemakamannya digelar secara tertutup di Woodlawn Memorial Park, Nashville, dihadiri keluarga dan kerabat dekat. Sepanjang kariernya, Parton tidak hanya dikenal sebagai penyanyi, tetapi juga filantropis yang aktif mendukung pendidikan anak-anak melalui program donasi buku. Warisannya yang kuat inilah yang coba diabadikan oleh Dollywood melalui berbagai instalasi baru tersebut.
Kehadiran air terjun dan area refleksi di dekat kapel diharapkan mampu menciptakan suasana kontemplatif yang kontras dengan riuhnya wahana permainan. Sementara itu, kios-kios interaktif di Wildwood Grove akan menjadi sarana bagi pengunjung untuk berbagi cerita, memperkuat rasa kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas Dollywood. Karakter The Dream Maker, yang namanya merujuk pada peran Parton sebagai inspirator, akan menjadi maskot baru yang mengajak pengunjung untuk berani bermimpi.
Langkah Dollywood ini juga menjadi bagian dari tren taman hiburan global yang mulai mengintegrasikan elemen naratif dan emosional ke dalam pengalaman pengunjung. Disney, misalnya, telah lama menggunakan storytelling untuk membangun kedekatan dengan pengunjungnya. Dollywood tampaknya ingin mengikuti jejak serupa, tetapi dengan sentuhan personal yang khas dari sosok Parton. Akankah inovasi ini mampu mempertahankan daya tarik Dollywood di mata generasi muda yang mungkin tidak terlalu mengenal karya Parton? Atau justru menjadi jembatan untuk memperkenalkan warisan sang legenda kepada generasi baru? Waktu yang akan menjawab.



