Vietnam Jatuhkan Hukuman Mati untuk 11 Terdakwa dalam Kasus Narkoba Terbesar: Modus Pasta Gigi dari Prancis
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan Vietnam menjatuhkan vonis mati kepada 11 orang dan memenjarakan lebih dari 200 terdakwa dalam kasus penyelundupan narkoba sintetis yang disembunyikan dalam tube pasta gigi dari Prancis.
- Modus operandi sindikat ini melibatkan pramugari Vietnam Airlines dan warga Vietnam di Prancis, dengan barang bukti 11 kg MDMA dan ketamin yang ditemukan di Bandara Ho Chi Minh City pada awal 2023.
- Kasus ini menjadi salah satu vonis massal terbesar di Vietnam, menegaskan kembali kebijakan hukum narkoba yang sangat keras, dengan hukuman mati yang rutin dijatuhkan.

Pengadilan Vietnam pada Kamis (3/9) menjatuhkan hukuman mati kepada 11 orang dan memenjarakan lebih dari 200 terdakwa lainnya dalam kasus penyelundupan narkoba sintetis yang disembunyikan dalam tube pasta gigi dari Prancis. Vonis ini merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah peradilan Vietnam, menandai kerasnya pemberantasan narkoba di negara tersebut.
Kasus ini mencuat setelah otoritas bea cukai di Bandara Internasional Ho Chi Minh City menemukan 11 kilogram MDMA dan ketamin yang disembunyikan di dalam lebih dari 150 tube pasta gigi pada awal 2023. Barang haram tersebut dibawa oleh empat pramugari Vietnam Airlines yang setuju membawa barang konsumen tanpa spesifikasi dengan imbalan sekitar US$450. Meski demikian, keempat pramugari itu tidak dituntut karena penyidik menilai tidak ada bukti mereka mengetahui isi sebenarnya dari barang yang dibawa.
Menurut laporan media lokal Tuoi Tre, total 227 orang dijatuhi hukuman dalam kasus ini, dengan 11 di antaranya menerima hukuman mati dan 19 lainnya dipenjara seumur hidup. Terdakwa lainnya menerima hukuman mulai dari 18 bulan penjara dengan masa percobaan hingga 29 tahun penjara atas tuduhan perdagangan narkoba, penjualan, dan gagal melaporkan kejahatan. Otak di balik sindikat ini, yang diadili secara in absentia, juga termasuk di antara mereka yang dijatuhi hukuman mati.
Sindikat ini tidak hanya memanfaatkan jalur udara, tetapi juga merekrut warga Vietnam yang belajar atau tinggal di Prancis untuk mengumpulkan narkoba dan mengirimkannya ke Vietnam melalui jasa pengiriman ekspres internasional. Mereka menyembunyikan narkoba dalam tube pasta gigi dan kotak suplemen makanan. Persidangan yang melibatkan lebih dari 120 pengacara ini dilakukan secara luring dan daring karena jumlah terdakwa yang sangat banyak.
Vietnam dikenal memiliki salah satu undang-undang narkoba terketat di dunia, dan pengadilan rutin menjatuhkan hukuman mati bagi pelanggar narkoba. Pada 2024, Vietnam menjatuhkan hukuman mati kepada 27 orang atas kasus penyelundupan lebih dari 600 kilogram narkoba dari Kamboja. Tahun lalu, 11 orang termasuk dua polisi juga dijatuhi hukuman mati karena menyelundupkan narkoba dari Laos. Kebijakan ini menunjukkan komitmen keras Hanoi dalam memberantas peredaran gelap narkoba, meskipun menuai kritik dari organisasi hak asasi manusia internasional.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat di bandara dan jalur pengiriman internasional. Modus penyembunyian narkoba dalam barang konsumen sehari-hari seperti pasta gigi menyoroti tantangan yang dihadapi otoritas di berbagai negara, termasuk Indonesia, dalam mendeteksi penyelundupan narkoba. Meski Indonesia tidak menerapkan hukuman mati secara konsisten untuk kasus narkoba, aparat penegak hukum tetap menghadapi tekanan untuk memperketat pengawasan di tengah meningkatnya kasus penyelundupan narkoba dari luar negeri.
Ke depan, kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas hukuman berat dalam memberantas jaringan narkoba internasional. Apakah hukuman mati benar-benar memberikan efek jera, atau justru mendorong sindikat untuk semakin canggih dalam menyembunyikan barang haram mereka? Yang jelas, kolaborasi internasional dan intelijen yang kuat menjadi kunci untuk membongkar jaringan semacam ini, bukan hanya sekadar hukuman berat di tingkat nasional.



