Karhutla 2026 Makin Luas: 202 Ribu Hektare Terbakar, Ini Cara Lindungi Diri dari Asap Beracun
Baca dalam 60 detik
- Luas karhutla hingga Juli 2026 mencapai 202 ribu hektare, tertinggi dalam dua siklus El Niño terakhir.
- Partikel PM2,5 dari asap karhutla dapat memicu ISPA, gangguan kardiovaskular, hingga risiko kehamilan.
- Masker N95, KN95, atau KF94 wajib digunakan di luar ruangan; pantau kualitas udara via ISPU dan BMKG.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada 2026 telah menghanguskan sedikitnya 202 ribu hektare hingga Juli—angka yang jauh melampaui dua periode El Niño sebelumnya—dan memaksa jutaan warga di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa untuk hidup di tengah kepungan asap beracun yang mengancam kesehatan jangka pendek maupun panjang.
Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla periode Januari–Juli 2026 hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2019 dan 2023. Para ahli menilai kombinasi kekeringan ekstrem akibat perubahan iklim dan alih fungsi lahan besar-besaran menjadi kebun telah menciptakan lanskap yang mudah terbakar. Akibatnya, asap yang dihasilkan bukan sekadar gangguan visual—ia adalah campuran partikel halus dan senyawa kimia berbahaya yang mampu menembus hingga ke aliran darah.
Yang lebih mengkhawatirkan, ketika permukiman ikut terbakar, asapnya melepaskan racun tambahan dari plastik, elektronik, cat, dan material sintetis lainnya. Partikel-partikel ini, terutama yang berukuran di bawah 2,5 mikron (PM2,5), dapat memicu peradangan paru-paru, memperparah asma, dan meningkatkan risiko serangan jantung serta stroke. Penelitian epidemiologi juga mengaitkan paparan asap karhutla dengan kelahiran prematur dan komplikasi kehamilan lain, meski bukti untuk dampak kardiovaskular masih terus dikaji.
Bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di zona rawan kabut asap, langkah mitigasi menjadi krusial. Pemerintah telah menyediakan kanal pemantauan seperti SiPongi untuk melacak titik panas hingga tingkat desa, serta Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari KLHK untuk menilai kualitas udara harian. Sementara itu, BMKG menawarkan prakiraan sebaran partikulat tiga hari ke depan yang dapat diakses publik.
Saat kualitas udara memasuki level tidak sehat, rekomendasi utama adalah tetap di dalam ruangan dengan menutup rapat pintu dan jendela. Gunakan alat pembersih udara (air purifier) dan pastikan filter AC serta ventilasi rumah dibersihkan secara berkala. Bila harus beraktivitas di luar, masker N95, KN95, atau KF94 menjadi pilihan wajib. Masker bedah yang longgar hanya melindungi orang lain dari droplet kita, bukan menyaring partikel asap yang masuk melalui celah di sisi wajah.
Bagi rumah yang memiliki banyak celah udara, mengungsi sementara ke ruang publik ber-AC seperti perpustakaan atau mal bisa menjadi solusi. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa dampak jangka panjang dari paparan asap karhutla masih belum sepenuhnya dipahami. Penelitian terus berlanjut untuk mengungkap efek kumulatifnya terhadap kesehatan pernapasan, kardiovaskular, dan neurologis.
Dengan musim kemarau yang diprediksi masih berlanjut, pertanyaan besarnya adalah: akankah pemerintah dan masyarakat mampu menahan laju karhutla sebelum asap kembali menyelimuti langit Nusantara tahun depan?



