Fenomena 'Sewa Teman' di Thailand: Pelarian dari Kesepian atau Sekadar Gaya Hidup?
Baca dalam 60 detik
- Layanan berbayar untuk mendapatkan teman pendamping tengah populer di Thailand, didorong oleh meningkatnya jumlah rumah tangga lajang dan perubahan gaya hidup masyarakat urban.
- Para penyedia jasa tidak hanya menawarkan kebersamaan, tetapi juga keahlian seperti fotografi, dengan tarif yang bervariasi dan proses seleksi klien yang ketat untuk menjaga keamanan.
- Fenomena ini memunculkan pertanyaan tentang definisi pertemanan di era modern dan mendorong perlunya regulasi serta batasan yang jelas bagi para pekerja gig.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban Thailand, sebuah fenomena sosial baru tengah mencuri perhatian: layanan "sewa teman" atau friend-for-hire. Bukan sekadar tren sesaat, jasa ini tumbuh subur seiring perubahan demografi dan gaya hidup masyarakat Negeri Gajah Putih yang semakin individualistis. Dari sekadar menemani jalan-jalan sambil berfoto hingga menjadi partner panjat tebing, profesi ini menawarkan solusi praktis bagi mereka yang enggan menyendiri namun juga tidak ingin merepotkan orang terdekat.
Data dari Euromonitor International menunjukkan bahwa pada 2025, 29,5 persen rumah tangga di Thailand adalah rumah tangga lajang, jauh melampaui rata-rata global sebesar 21,9 persen. Angka ini menjadi fondasi menjamurnya berbagai layanan yang menyasar kebutuhan individu yang hidup sendiri, mulai dari meja restoran khusus satu orang hingga jasa pendamping pribadi. Meski tidak ada data resmi, para pelaku industri mengakui bahwa permintaan akan pendamping profesional meningkat dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh meningkatnya jumlah orang yang tinggal sendiri, perubahan gaya hidup, dan pengaruh media sosial.
Menariknya, motivasi utama para pengguna jasa ini bukanlah kesepian semata, melainkan lebih kepada kepraktisan dan kenyamanan. Ainthuon Rattanawaraporn, seorang mahasiswa dan kreator konten asal Bangkok, mengaku awalnya mencoba layanan ini karena penasaran. Namun, ia segera menyadari bahwa jasa ini memecahkan masalah nyata: teman-temannya seringkali terlalu sibuk untuk menemaninya bepergian, sementara ia belum nyaman traveling sendirian. "Saya juga ingin seseorang yang bisa memotret saya," ujarnya. Dengan menyewa pendamping, ia bisa dengan leluasa meminta sudut pengambilan gambar tertentu, sesuatu yang canggung dilakukan jika meminta bantuan teman. "Saya tidak ingin merepotkan teman dengan meminta mereka memotret ratusan foto selama perjalanan. Dengan pendamping sewaan, saya bisa memberi instruksi yang jelas," tambahnya.
Di sisi lain, fenomena ini membuka peluang ekonomi baru bagi anak muda. Thanaporn Charoenchuea, mahasiswa berusia 20 tahun, memulai layanan bernama "Snap Like a Bestie". Dalam dua bulan, ia telah melayani lebih dari 50 klien. Ia menegaskan bahwa kliennya tidak hanya mencari seseorang untuk memotret, tetapi juga ingin merasa nyaman dan mendapatkan foto yang natural. "Mereka menginginkan seseorang yang bisa membuat mereka rileks," jelas Thanaporn. Ia menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol dengan klien, membantu mereka yang pemalu agar lebih santai sebelum berpose. Pada hari-hari sibuk, ia bisa menerima hingga tiga janji temu, masing-masing berlangsung satu hingga tiga jam. Untuk keamanan, ia hanya menerima booking di tempat umum dan menyaring klien melalui akun media sosial mereka.
Bisnis ini pun terus berevolusi. Penkawin Wangniwetkul, atau yang akrab disapa Ice, memulai kariernya sebagai asisten produser televisi sebelum beralih menjadi presenter dan MC. Sekitar tiga bulan lalu, ia memasuki bisnis pendampingan setelah kerabatnya memintanya menemani dua wanita lanjut usia berbelanja. "Saya menyadari ada permintaan nyata untuk seseorang yang bisa sekadar menemani," katanya. Kini, Ice melayani berbagai aktivitas, mulai dari lari pagi, gym, aerobik, belanja, hingga kunjungan ke spa dan kafe. Tarifnya mencapai 1.000 baht (sekitar Rp450 ribu) per jam. Meski permintaannya tinggi, Ice sengaja membatasi jumlah klien karena masih aktif sebagai MC. Ia juga selektif, menolak permintaan yang berisiko atau membuatnya tidak nyaman, seperti menemani pria ke tempat hiburan malam.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Bangkok. Sasiprapa Nookong, seorang karyawan perusahaan, menceritakan pengalamannya menyewa pendamping saat berlibur ke Chiang Mai. Saat itu, ia dan temannya ingin melakukan aktivitas berbeda; temannya memilih hiking, sementara ia ingin menjelajahi kafe-kafe di kota. Setelah melihat ulasan di TikTok, ia menghubungi seorang mahasiswa yang menawarkan jasa tersebut. "Saya percaya layanan ini memenuhi kebutuhan orang yang sesekali ingin ditemani, bukan untuk hubungan jangka panjang," ujarnya. Ia pun menekankan pentingnya faktor keamanan saat menyewa orang asing.
Dari sudut pandang sosiologis, Narupon Duangwises dari Princess Maha Chakri Sirindhorn Anthropology Centre menilai bahwa interaksi dengan teman sewaan dapat memberikan kenyamanan emosional bagi mereka yang kesulitan berteman dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ia juga menggarisbawahi perbedaan mendasar antara "teman sewaan" dan pertemanan alami: kemampuan untuk memilih pendamping berdasarkan penampilan fisik. Hal ini, menurutnya, menuntut para penyedia jasa untuk menetapkan aturan dan batasan yang jelas guna melindungi diri dari potensi pelecehan seksual atau kekerasan lainnya.
Fenomena serupa sebenarnya juga mulai mengemuka di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Meski belum sepopuler di Thailand, permintaan akan pendamping untuk kegiatan sosial atau sekadar teman ngobrol mulai terlihat di platform-platform digital. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya jumlah anak muda yang merantau dan hidup sendiri, serta budaya digital yang memudahkan transaksi jasa. Namun, regulasi dan kesiapan masyarakat Indonesia terhadap profesi semacam ini masih menjadi tanda tanya. Apakah fenomena ini akan berkembang menjadi industri yang mapan, atau justru menimbulkan persoalan sosial baru? Yang jelas, kebutuhan akan koneksi manusia di tengah kesibukan modern adalah universal, dan pasar akan selalu mencari cara untuk memenuhinya.



