Dylan Sprouse Sebut Karier Aktor Ciliknya Seperti Buruh Anak di Tambang Batu Bara
Baca dalam 60 detik
- Aktor Dylan Sprouse mengkritik industri hiburan yang mengeksploitasi anak melalui metafora buruh tambang.
- Pengalaman syuting sejak bayi membuat harga dirinya bergantung pada pekerjaan, sebuah dilema psikologis yang diakuinya hingga dewasa.
- Pernyataan ini memicu diskusi tentang perlindungan aktor cilik di industri kreatif, termasuk di Indonesia yang tengah menggenjot produksi konten.

Dylan Sprouse, aktor yang dikenal lewat serial Disney The Suite Life of Zack & Cody, melontarkan kritik pedas terhadap industri hiburan yang membesarkan namanya. Dalam podcast pribadinya, Wildmen, ia menyamakan pengalaman bekerja sebagai aktor cilik dengan "kerja paksa" atau "buruh anak" di tambang batu bara. Pernyataan ini bukan sekadar nostalgia kelam, melainkan sebuah refleksi tajam tentang harga diri, tekanan mental, dan trauma yang melekat pada anak-anak yang tumbuh di bawah sorotan kamera.
Pria berusia 34 tahun itu memulai karier di usia yang sangat belia. Bersama saudara kembarnya, Cole Sprouse, ia bergantian memerankan Patrick Kelly dalam sitkom Grace Under Fire (1993–1998). Nama mereka melambung saat beradu peran dalam The Suite Life of Zack & Cody ketika berusia 12 tahun. Namun, di balik gemerlap popularitas, Dylan mengaku ada luka psikologis yang terbawa hingga dewasa. "Ketika Anda menjalani karier di usia itu, sebagian anak dulu bekerja di tambang batu bara dan menjaga pintu gerobak saat berusia 15 tahun; kami hanya bernyanyi dan menari. Itu tetap kerja paksa," ujarnya sambil tertawa, seperti dikutip dari Bang Premier.
Dalam percakapan dengan rekan podcastnya, Brendan Columbus, dan bintang tamu Mark Indelicato—aktor yang juga tumbuh di industri—Dylan mengungkapkan bahwa rutinitas syuting yang dijalaninya sejak kecil terasa seperti "pekerjaan kantor penuh waktu". Ia menggambarkan bagaimana ia harus masuk, absen, dan bekerja di lokasi syuting dengan jam kerja yang sama seperti orang dewasa. "Anda punya kubikel, Anda bekerja, jelas. Mungkin di atas panggung dan berbeda, tapi jam kerjanya sama," jelasnya.
Yang lebih memprihatinkan, ketika rutinitas itu hilang, Dylan merasakan kekosongan yang dalam. "Karena kami telah melakukannya begitu lama, harga diri saya untuk waktu yang lama terikat secara integral dengan kemampuan saya untuk bekerja dan berada di lokasi syuting," akunya. Ia mengaku masih memiliki "hambatan mental" saat berakting sebagai orang dewasa, selalu merasa seperti mengejar sesuatu layaknya anak kecil. Mark Indelicato, yang kini berusia 32 tahun, mengamini pengalaman serupa. "Kami adalah penyintas, sungguh," katanya. Ia juga mengaku mengalami kecemasan saat tidak bekerja.
Fenomena ini bukan hanya milik Hollywood. Di Indonesia, industri hiburan juga kerap mempekerjakan anak-anak untuk iklan, sinetron, hingga film. Meski ada regulasi yang melindungi hak anak, pengawasan di lapangan sering kali longgar. Jam kerja panjang, tekanan untuk tampil sempurna, dan kurangnya pendampingan psikologis masih menjadi pekerjaan rumah. Kasus Dylan bisa menjadi cermin bagi orang tua dan rumah produksi di Tanah Air untuk lebih serius mempertimbangkan dampak jangka panjang dari eksploitasi anak di industri kreatif.
Dylan merasa beruntung karena memiliki kembaran identik yang mengalami hal yang sama, sehingga mereka bisa saling mendukung. "Saya cukup beruntung memiliki saudara kembar yang mengalami hal yang persis sama, kan?" katanya. Namun, tidak semua aktor cilik memiliki dukungan sekuat itu. Mark menambahkan, "Kita harus bergulat dengan realitas pengalaman hidup kita, seperti semua orang, tapi yang membuatnya sedikit berbeda adalah kebanyakan orang tidak memiliki pengalaman hidup kita. Jadi kita harus menjaga satu sama lain tetap dekat sebagai sarana untuk bisa berkeluh kesah kepada orang-orang yang memahami."
Di tengah kabar bahagia akan kelahiran anak pertamanya dengan istri, Barbara Palvin, Dylan justru membuka luka lama tentang masa kecilnya. Pertanyaannya, apakah industri hiburan modern—termasuk di Indonesia—sudah cukup berbenah untuk melindungi anak-anak dari tekanan yang sama? Atau justru semakin canggih dalam mengemas eksploitasi dengan iming-iming popularitas dan uang? Hanya waktu dan komitmen bersama yang bisa menjawab.



