Rachael Gunn Buka Suara: Dari Bulan-Bulanan Olimpiade ke Sorotan Dokumenter Netflix
Baca dalam 60 detik
- Atlet breakdance Australia yang menjadi sasaran ejekan global di Olimpiade Paris 2024 kini mengisahkan pengalaman traumatisnya dalam film dokumenter Netflix.
- Gunn mengaku sempat mengalami tekanan psikologis berat dan memilih pensiun dari kompetisi setelah penampilannya yang viral, namun ia menolak untuk hanya dikenang sebagai meme.
- Kisahnya membuka diskusi tentang kesehatan mental atlet dan tekanan media sosial yang semakin relevan di era digital.

Rachael Gunn, atlet breakdance Australia yang namanya melambung setelah penampilan kontroversial di Olimpiade Paris 2024, akhirnya angkat bicara secara terbuka melalui film dokumenter terbaru Netflix, Untold: Raygun Breaking Badly. Dalam tayangan yang dirilis bulan ini, Gunn mengaku sempat merasa hidupnya hancur setelah aksi panggungnya yang tidak mendapat satu pun nilai dari juri menjadi bahan ejekan di berbagai platform media sosial.
Perempuan yang akrab disapa Raygun ini menceritakan bahwa sebelum berangkat ke Paris, ia sempat berkonsultasi dengan terapis karena dilanda kecemasan. Ketika ditanya tentang skenario terburuk yang mungkin terjadi, Gunn menjawab, "Seluruh dunia bisa menertawakan saya." Jawaban itu ternyata menjadi ramalan yang tepat. Penampilannya yang dianggap tidak lazim, termasuk gerakan khas kanguru dan sprinkler, langsung menjadi viral dan memicu gelombang meme yang tak terbendung.
Dalam dokumenter tersebut, Gunn mengaku merasakan tekanan yang luar biasa. "Saya merasa memalukan dan membawa aib bagi negara. Itu sangat berat," ujarnya. Ia menggambarkan perasaannya seperti jatuh ke dalam lubang gelap dan berjuang untuk melewati hari-hari setelah kejadian itu. Meski awalnya ia bisa menertawakan beberapa meme, nada ejekan semakin lama semakin kejam dan di luar kendali.
Kisah Gunn bukan sekadar fenomena media sosial, tetapi juga cermin dari tekanan yang dihadapi atlet di era digital. Menurut psikolog olahraga dari Universitas Indonesia, Dr. Andri, kasus seperti ini menunjukkan bahwa atlet tidak hanya berjuang di arena, tetapi juga melawan ekspektasi publik yang sering kali tidak realistis. "Media sosial memperbesar risiko cyberbullying yang dapat berdampak serius pada kesehatan mental atlet," ujarnya. Fenomena ini juga relevan bagi Indonesia, di mana atlet nasional kerap menjadi sorotan publik dan rentan mengalami tekanan serupa, terutama setelah gagal meraih medali.
Gunn sendiri mengaku sempat merasa terpuruk hingga memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai dosen universitas. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin hanya dikenang sebagai meme. "Saya tidak bisa hanya menjadi bahan tertawaan," katanya. Kini, ia mengisi hari-harinya sebagai pembicara dan pendidik yang ingin berbagi pengalaman tentang ketangguhan mental. Ia juga mengaku menghargai dukungan dari komedian terkenal seperti Jimmy Fallon yang membelanya di acaranya.
Dokumenter ini juga menyoroti rumor tentang bagaimana Gunn bisa lolos ke Olimpiade, yang selama ini menjadi pertanyaan publik. Meski tidak memberikan jawaban eksplisit, Gunn menegaskan bahwa ia berkompetisi secara sah dan mewakili negaranya dengan bangga. Ia berharap kisahnya dapat menjadi pelajaran tentang bahaya perundungan siber dan pentingnya dukungan bagi atlet yang sedang berjuang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pengalaman Gunn akan mengubah cara publik memperlakukan atlet yang gagal memenuhi ekspektasi? Atau justru semakin memperkuat budaya ejekan di media sosial? Yang jelas, kisah Raygun menjadi pengingat bahwa di balik setiap meme, ada manusia yang merasakan dampaknya.



