Ditinggalkan Suporter, Julian Alvarez Hadapi Ujian Terbesar di Atletico Madrid
Baca dalam 60 detik
- Julian Alvarez dipastikan bertahan di Atletico Madrid hingga Januari setelah gagal pindah ke Barcelona, namun hubungannya dengan suporter retak akibat keinginan hengkangnya.
- Diego Simeone tetap memberikan dukungan penuh dan berencana memulihkan performa Alvarez melalui tiga laga tandang beruntun, jauh dari tekanan 70.000 pendukung di Metropolitano.
- Kehadiran Alex Baena sebagai false-nine yang sukses menggantikan Alvarez menjadi sinyal bahwa tempatnya tak lagi aman, sehingga ia harus segera membuktikan diri di lapangan.

Julian Alvarez resmi bertahan di Atletico Madrid setidaknya hingga bursa transfer Januari, namun kini ia menghadapi tantangan yang jauh lebih berat: memulihkan kepercayaan suporter yang kecewa dengan keinginannya pindah ke Barcelona. Striker asal Argentina itu harus segera membuktikan loyalitasnya di lapangan setelah hubungannya dengan fans retak akibat saga transfer yang berlarut-larut.
Sepanjang musim panas, nama Alvarez menjadi sorotan utama media Spanyol. Keinginannya bergabung dengan Barcelona membuat manajemen Atletico bersikukuh menolak negosiasi, mengingat statusnya sebagai investasi termahal klub dengan nilai transfer mencapai 81,5 juta poundsterling dari Manchester City pada 2024. Keputusan tersebut memicu kekecewaan di kalangan pendukung, yang menilai sang pemain tidak menghargai kepercayaan yang telah diberikan.
Ketegangan mencapai puncaknya saat laga melawan Villarreal di Stadion Metropolitano. Alvarez mendapat cemoohan dari suporter ketika namanya diumumkan, saat pemanasan, dan ketika ia masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua. Momen paling simbolis terjadi setelah pertandingan, ketika ia berjalan sendirian menuju lorong pemain sementara rekan-rekannya menyapa pendukung di lapangan. Pelatih Diego Simeone kemudian menegaskan bahwa keputusan itu diambil klub, bukan inisiatif pemain, untuk melindungi Alvarez dari situasi yang tidak nyaman.
Kontroversi ini diperparah dengan absennya Alvarez dalam tiga sesi latihan karena sakit, yang membuatnya melewatkan laga tandang melawan Sevilla. Namun, Simeone tetap konsisten memberikan dukungan publik. Pada Agustus lalu, ia menyebut Alvarez sebagai "salah satu pemain terbaik kami di lini depan" dan ingin "membangun tim di sekelilingnya". Pelatih asal Argentina itu juga menegaskan akan melakukan segalanya untuk membuat Alvarez merasa penting saat kembali bermain.
Kritik juga datang dari suporter yang merasa kecewa dengan sikap Alvarez. Seorang fans bernama Dani menyatakan, "Sangat bisa dimengerti jika Atleti tidak mau menyetujui tawaran Barca hanya karena dia ingin ke sana. Klub ingin bersaing dengan tim terbaik La Liga dan tidak bisa menjual pemain terbaiknya ke rival langsung dengan harga murah." Sementara itu, Ignacio, suporter lain, menilai Alvarez telah salah langkah, "Kata-kata dan sikapnya benar-benar tidak terduga. Mungkin dia salah dapat nasihat dari agennya. Meski dia minta maaf, jelas dia punya keinginan untuk pergi, dan sekarang bursa tutup, permintaan maaf itu terkesan dipaksakan."
Preseden buruk dari Antoine Griezmann menjadi pelajaran berharga. Kepergian Griezmann ke Barcelona pada 2019 meninggalkan luka mendalam di hati suporter, namun ketika kembali dua tahun kemudian, ia perlahan memulihkan hubungan lewat performa dan dedikasi. Hingga akhirnya hengkang pada 2026, ia berhasil merebut kembali hati mayoritas fans dan menjadi salah satu figur penting klub. Kini, dengan kepergian Griezmann, Atletico kehilangan pemimpin berpengalaman di lini serang, dan Simeone berharap Alvarez mampu mengambil peran tersebut, tidak hanya dengan mencetak gol, tetapi juga memimpin pressing, menciptakan ruang, dan melibatkan rekan setim.
Jose Mourinho, pelatih Real Madrid, memberikan komentar menohok terkait situasi ini. Ia menilai tidak ada pelatih yang lebih memahami Alvarez selain Simeone, "Tidak ada manajer lain yang lebih mengenalnya dan lebih mengenal klub ini selain Simeone." Mourinho juga mengingatkan, "Jika seorang pemain tidak puas, pada 1 September saat bursa ditutup, dia harus puas. Kalau tidak, dia tidak akan bermain lagi sampai 1 Januari."
Dengan tiga laga tandang beruntun melawan Athletic Club, Liverpool, dan Real Sociedad, Simeone memiliki kesempatan untuk mengembalikan Alvarez ke starting line-up secara bertahap, jauh dari tekanan suporter sendiri. Namun, waktu untuk menemukan ritme permainan sangat singkat sebelum Liga Champions dimulai. Jika Alvarez mampu menunjukkan performa terbaiknya, kenangan pahit musim panas ini mungkin akan memudar. Pertanyaannya, mampukah ia memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut kembali hati suporter yang telah kecewa?



