Banjir Nepal: Petugas Pemadam Malaysia Hilang, Istri Menanti Janji Hadiah Ulang Tahun Pernikahan
Baca dalam 60 detik
- Seorang petugas pemadam kebakaran Malaysia dilaporkan hilang setelah banjir bandang melanda Nepal, tepat saat ia dan istrinya bersiap merayakan ulang tahun pernikahan ke-10.
- Istri korban, Hani Othman, telah terbang ke Kathmandu untuk memantau pencarian dan menggalang bantuan logistik bagi para korban bencana.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan kawasan pegunungan Himalaya terhadap cuaca ekstrem serta pentingnya kesiapsiagaan bagi wisatawan, termasuk pendaki asal Indonesia.

Di tengah duka yang menyelimuti bencana banjir bandang di Nepal, seorang istri di Malaysia masih menggenggam harapan. Hani Othman, yang seharusnya merayakan ulang tahun pernikahan ke-10 pada Kamis (3/9), justru harus menanti kabar sang suami, Mohd Fakhrul Munir Mohd Isa, yang dilaporkan hilang saat bertugas dalam misi kemanusiaan di kawasan bencana.
Mohd Fakhrul, yang akrab disapa Loe, merupakan anggota Tim Operasi Udara Khusus dari Departemen Pemadam dan Penyelamatan Malaysia. Ia berada di Nepal ketika hujan deras memicu tanah longsor dan banjir yang memutus akses jalan di sejumlah distrik pegunungan. Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat masih kesulitan menjangkau lokasi kejadian karena infrastruktur rusak parah.
Dalam unggahan emosional di Facebook, Hani menuliskan bahwa suaminya berjanji akan membawa pulang hadiah ulang tahun pernikahan. "Kamu berjanji akan membawa hadiah. Aku gugup memikirkan apa yang akan kamu berikan tahun ini," tulisnya. Unggahan itu disertai foto pernikahan mereka, menjadi simbol kerinduan yang mendalam di tengah ketidakpastian.
Pasangan ini memiliki segudang rencana yang belum sempat diwujudkan. Mereka dijadwalkan mengikuti ujian Sertifikat Keterampilan Malaysia pada 6 September, lalu melanjutkan kursus divemaster di Pulau Tioman pada Oktober. Lebih jauh, mereka bercita-cita menaklukkan Gunung Rinjani di Indonesia pada Mei, disusul Kilimanjaro di Tanzania pada Agustus tahun depan. Bahkan, impian terbesar Loe adalah mencapai puncak Everest—sesuatu yang menurut Hani belum tercapai.
Hani, yang dilaporkan telah tiba di Kathmandu sejak 28 Agustus, tidak hanya berdiam diri. Ia aktif mengumpulkan bantuan logistik—hingga satu truk penuh—untuk para korban bencana. Langkah ini menunjukkan solidaritas yang jarang terlihat: di tengah kepedihan pribadi, ia tetap berupaya meringankan beban orang lain yang terkena musibah serupa.
Banjir bandang di Nepal tahun ini memang menjadi ujian besar. Selain menelan korban jiwa, bencana ini memutus akses ke banyak desa terpencil, menyulitkan evakuasi dan distribusi bantuan. Bagi Malaysia, insiden ini mengingatkan kembali pada risiko yang dihadapi personel penyelamat yang dikirim ke luar negeri, sekaligus mempertegas perlunya sistem komunikasi dan evakuasi yang lebih tangguh dalam operasi kemanusiaan internasional.
"Tolong... di mana kamu?" — Hani Othman, istri Mohd Fakhrul Munir Mohd Isa.
Kisah Hani dan Loe juga relevan bagi Indonesia. Ribuan pendaki Tanah Air menjadikan Gunung Rinjani dan destinasi internasional seperti Nepal sebagai target pendakian. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem di kawasan Himalaya, yang berimbas pada keselamatan para pendaki. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia pun telah berulang kali mengingatkan potensi hidrometeorologi ekstrem di kawasan pegunungan, baik di dalam negeri maupun mancanegara.
Hingga berita ini diturunkan, nasib Loe dan puluhan warga Malaysia lainnya yang tengah berada di Nepal masih belum jelas. Tim pencari terus berupaya menembus medan sulit, sementara keluarga menanti dengan harap-harap cemas. Akankah Loe dapat menepati janjinya untuk kembali dengan hadiah ulang tahun? Atau akankah impian pasangan ini untuk berdiri di puncak-puncak tertinggi dunia hanya menjadi kenangan? Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung, menanti jawaban dari balik reruntuhan dan lumpur yang masih menyelimuti pegunungan Nepal.



