Romy Soekarno: AI dan Algoritma Mengancam Kohesi Sosial, Pancasila Jadi Benteng Etika Digital
Baca dalam 60 detik
- Anggota Komisi II DPR Romy Soekarno mendesak nilai-nilai Pancasila dijadikan fondasi etika dalam pengembangan kecerdasan buatan untuk mencegah polarisasi dan disinformasi.
- Ia mengusulkan gagasan 'AI Merah Putih' sebagai langkah strategis memperkuat kedaulatan teknologi dan data Indonesia di tengah dominasi algoritma global.
- Romy juga menyerukan perubahan metode pendidikan Pancasila dari hafalan menjadi pengalaman langsung bagi Generasi Z dan Alpha agar nilai kebangsaan benar-benar tertanam.

Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno, menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila harus menjadi kompas moral dalam merespons derasnya pengaruh kecerdasan buatan (AI) dan algoritma digital yang kini mampu membentuk opini publik. Pernyataan ini disampaikannya dalam webinar bertajuk "Penguatan Ideologi Pancasila" yang digelar secara daring di Jakarta, Kamis (12/6).
Romy menggarisbawahi bahwa Indonesia saat ini tengah berhadapan dengan persoalan serius seperti fragmentasi sosial, meningkatnya intoleransi, dan polarisasi masyarakat yang kian tajamโkondisi yang menurutnya diperparah oleh penetrasi teknologi digital. Ia menilai, tanpa pegangan ideologis yang kuat, ruang digital justru berpotensi menjadi ajang perpecahan yang mengancam keutuhan bangsa.
"Pancasila bukan sekadar rumusan dalam dokumen negara. Ia adalah pandangan hidup, arah moral, dan kekuatan pemersatu bagi masyarakat Indonesia yang sangat majemuk," ujarnya. Pandangan ini menegaskan bahwa ideologi negara tidak boleh hanya menjadi simbol, melainkan harus operasional dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang siber.
Menurut Romy, penerapan nilai-nilai Pancasila di ruang digital dapat dijabarkan secara konkret. Nilai ketuhanan, misalnya, diwujudkan melalui toleransi beragama yang tidak luntur meski berinteraksi di dunia maya. Sementara nilai kemanusiaan tercermin dari sikap menghindari perundungan siber dan tidak menggunakan teknologi untuk merendahkan martabat manusia.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa nilai persatuan harus menjadi tameng dari penyebaran kebencian dan disinformasi yang kerap memecah belah. Adapun nilai demokrasi, lanjutnya, seharusnya diwujudkan melalui dialog yang sehat dan konstruktif, bukan sekadar mengejar popularitas semu di media sosial. Terkait keadilan sosial, Romy mengingatkan agar digitalisasi tidak hanya dinikmati oleh segelintir kelompok, melainkan harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
"Jangan sampai digital divide menjadi bentuk baru ketimpangan sosial. Dalam Artificial Intelligence, kita pun membutuhkan orientasi etik." โ Romy Soekarno
Kekhawatiran tentang kesenjangan digital ini relevan dengan data yang menunjukkan bahwa akses internet di Indonesia masih timpang, terutama antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Jika tidak dikelola dengan bijak, kemajuan teknologi justru bisa melebarkan jurang ketimpangan yang sudah ada.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Romy mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk mengambil peran strategis dalam membangun ekosistem digital yang berkepribadian Indonesia. Salah satu gagasan yang ia usulkan adalah pengembangan "AI Merah Putih", sebuah inisiatif yang bertujuan memperkuat kedaulatan teknologi nasional dan mengurangi ketergantungan pada platform asing.
"Teknologi menjawab 'bagaimana', tapi Pancasila harus menjawab 'mengapa' dan 'untuk siapa'. Kita harus mampu menjaga data dan kedaulatan informasi kita," tegasnya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa penguasaan teknologi tidak cukup hanya dari sisi teknis, tetapi juga harus dibarengi dengan pertimbangan etis dan kepentingan nasional.
Selain aspek regulasi dan infrastruktur, Romy juga menyoroti pentingnya pembaruan metode pendidikan Pancasila. Ia menyarankan agar pembelajaran bagi Generasi Z dan Alpha tidak lagi menggunakan pendekatan indoktrinasi yang kaku, melainkan beralih ke metode partisipatif yang berbasis pengalaman nyata. "Dari hafalan menjadi pengalaman, dari pengetahuan menjadi perilaku, dari slogan menjadi nilai hidup," paparnya.
Di tengah gencarnya transformasi digital, pertanyaan yang muncul kemudian: apakah Indonesia mampu membangun ekosistem digital yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga berakar pada nilai-nilai kebangsaan? Jawabannya mungkin terletak pada sejauh mana Pancasila benar-benar dihidupkan dalam setiap kebijakan dan inovasi yang lahir di ruang digital.



