Beras Bulog Mulai Masuk Ritel Modern, Mendag Pastikan Stok 5 Kg Segera Normal
Baca dalam 60 detik
- Mendag Budi Santoso mendorong Bulog memasok beras premium dan medium ke ritel modern untuk mengatasi kelangkaan beras 5 kg.
- Koordinasi dengan Aprindo dan Hippindo menjadi kunci distribusi, dengan merek Befood mulai terlihat di rak-rak minimarket.
- Langkah ini diharapkan menstabilkan harga dan memperluas akses masyarakat terhadap beras Bulog dalam waktu dekat.

Kementerian Perdagangan bergerak cepat mengatasi kelangkaan beras kemasan 5 kilogram yang sempat mengganggu pasar ritel modern. Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan pasokan beras dari Perum Bulog, baik kelas premium maupun medium, kini mulai dialirkan ke jaringan minimarket dan supermarket melalui koordinasi dengan asosiasi peritel.
Langkah ini muncul setelah sejumlah konsumen mengeluhkan rak-rak beras ukuran 5 kg kosong di berbagai gerai. Budi mengakui bahwa produk beras Bulog dengan merek Befood sudah mulai terlihat di beberapa ritel, menandakan adanya pergeseran strategi distribusi dari yang sebelumnya lebih fokus pada pasar tradisional dan operasi pasar.
โSekarang saya pikir sudah mulai masuk di ritel. Kalau nggak salah namanya Befood,โ ujar Budi di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu. Ia menambahkan bahwa beras medium dari Bulog juga akan menyusul, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan di luar beras premium yang selama ini mendominasi.
Kebijakan ini tidak sekadar menjawab kelangkaan jangka pendek. Lebih dari itu, pemerintah tengah membangun kanal distribusi baru bagi cadangan beras pemerintah (CBP) agar lebih mudah dijangkau konsumen perkotaan yang selama ini bergantung pada ritel modern. Dengan masuknya Bulog, rantai pasok beras diharapkan lebih pendek dan harga lebih terkendali.
Budi menegaskan bahwa koordinasi dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) terus dilakukan. Kedua asosiasi ini menjadi jembatan antara Bulog dan jaringan minimarket seperti Indomaret dan Alfamart, serta supermarket modern lainnya.
โKita koordinasi terus supaya Bulog itu bisa memasok ke Aprindo, ke Hippindo, di asosiasinya ya, di minimarket maupun di ritel modern,โ jelas Budi.
Bagi konsumen Indonesia, kehadiran beras Bulog di ritel modern membawa angin segar. Selama ini, beras medium Bulog lebih sering ditemukan di pasar rakyat atau melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP). Padahal, sebagian besar pembeli perkotaan berbelanja di minimarket dan supermarket. Dengan adanya akses ini, mereka tidak perlu lagi antre atau mencari ke pasar tradisional untuk mendapatkan beras dengan harga terjangkau.
Namun, tantangan logistik dan kesepakatan margin antara Bulog dan peritel masih menjadi pekerjaan rumah. Seperti diketahui, ritel modern biasanya menerapkan margin tertentu yang harus dipenuhi pemasok. Jika tidak diatur dengan baik, harga beras Bulog di ritel bisa lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Oleh karena itu, pengawasan harga menjadi krusial dalam implementasi kebijakan ini.
Ke depan, keberhasilan program ini akan diuji dari konsistensi pasokan dan kesediaan peritel untuk memberikan ruang yang cukup bagi produk Bulog. Apakah langkah ini akan menjadi solusi permanen atau hanya obat penenang sementara? Publik menunggu pembuktian bahwa beras murah tidak hanya hadir saat ada kelangkaan, tetapi juga menjadi pilihan rutin di rak-rat ritel modern.



