Gunung Sinabung Erupsi Lagi, 615 Warga Dievakuasi: Status Siaga dan Zona Bahaya Diperluas
Baca dalam 60 detik
- Erupsi Rabu pagi memuntahkan kolom abu setinggi 1.000 meter, menyusul peningkatan status dari Level II ke Level III.
- Sebanyak 615 jiwa dari 211 keluarga di Kuta Tengah telah dipindahkan ke pos pengungsian, dengan radius bahaya mencapai 6 kilometer ke arah tenggara.
- PVMBG memperingatkan potensi erupsi susulan, sementara Konsulat Malaysia di Medan mengimbau warganya menjauhi kawasan Karo.

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali memuntahkan material vulkanik pada Rabu (2/9) pagi. Letusan yang terekam sejak pukul 07.20 WIB itu memaksa lebih dari 600 warga mengungsi, sekaligus menegaskan kembali status gunung yang kini berada pada Level III atau Siaga.
Kolom abu terpantau membumbung setinggi 1.000 meter di atas puncak, atau sekitar 3.460 meter di atas permukaan laut. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan abu berwarna kelabu hingga cokelat bergerak ke arah timur dan tenggara. Hingga laporan ini disusun, erupsi masih berlangsung, menandakan aktivitas magmatik yang belum mereda.
Erupsi kali ini bukan kejadian mendadak. Sehari sebelumnya, Senin (31/8), Sinabung sempat meletus dengan kolom abu mencapai 3,5 kilometer di atas puncakโsetara 5,96 kilometer di atas permukaan laut. Peningkatan aktivitas visual dan instrumental itu membuat PVMBG menaikkan status dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada pukul 12.30 WIB. Keputusan ini mengisyaratkan bahwa potensi letusan yang lebih besar masih terbuka lebar.
Dampaknya langsung dirasakan warga di sekitar gunung. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 615 jiwa dari 211 keluarga di Desa Kuta Tengah telah dievakuasi ke posko darurat. Desa ini masuk dalam daftar wilayah yang dinilai berisiko tinggi. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan bahwa zona bahaya telah diperluas mengikuti rekomendasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Radius aman kini ditetapkan tiga kilometer dari puncak, dan enam kilometer sektoral ke arah tenggara. "Warga dan pengunjung dilarang beraktivitas di desa yang telah direlokasi serta dalam radius tersebut," tegasnya.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan tingginya risiko geologi di sepanjang Cincin Api Pasifik. Sinabung, yang sempat tidur selama empat abad sebelum kembali aktif pada 2010, kini menjadi salah satu gunung api paling dipantau di Sumatera. Letusan-letusan beruntun dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah lanskap sosial-ekonomi warga Karo, yang sebagian besar menggantungkan hidup pada pertanian di lereng subur gunung tersebut. Setiap kali status dinaikkan, aktivitas ekonomi di kawasan itu ikut terhenti, menimbulkan dilema antara keselamatan dan mata pencaharian.
Langkah antisipasi juga dilakukan pihak asing. Konsulat Jenderal Malaysia di Medan, pada Selasa (1/9), mengeluarkan imbauan agar warga negaranya yang berada di atau hendak menuju Kabupaten Karo meningkatkan kewaspadaan. Mereka diminta menjauhi area sekitar Gunung Sinabung dan mematuhi arahan otoritas setempat. Ini menunjukkan bahwa dampak erupsi tidak hanya dirasakan warga lokal, tetapi juga wisatawan dan ekspatriat yang kerap berkunjung ke dataran tinggi Karo yang sejuk.
PVMBG belum menyatakan kapan aktivitas akan mereda. Dengan tipe erupsi eksplosif yang pernah menghasilkan awan panas guguran, potensi bahaya lahar dan hujan abu tetap mengancam daerah hilir. Pertanyaannya kini, apakah evakuasi dan perluasan zona bahaya ini cukup untuk mengantisipasi letusan yang lebih dahsyat? Atau justru menjadi awal dari serangkaian erupsi yang lebih intensif, sebagaimana pola Sinabung dalam satu dekade terakhir? Masyarakat dan pemerintah daerah hanya bisa berharap agar pemantauan berjalan optimal dan kesiapsiagaan terus ditingkatkan.



