Karya Terakhir Yayoi Kusama: Lukisan Anti-Perang Bertema Bom Atom Dipamerkan di Hiroshima
Baca dalam 60 detik
- Lukisan akrilik 'Revived Soul' karya mendiang Yayoi Kusama, yang merefleksikan tragedi bom atom Hiroshima, kini dipajang di Museum Seni Kontemporer Kota Hiroshima hingga 23 September.
- Karya berukuran monumental 194 x 391,5 sentimeter ini diciptakan atas komisi museum pada 1995 dan menjadi medium bagi Kusama untuk menyuarakan sentimen anti-perang serta anti-nuklir.
- Pameran koleksi bertajuk 'Time Machines' ini mengangkat tema tahunan 'The Time of the Museum', menandai pertama kalinya karya tersebut ditampilkan dalam konteks refleksi historis.

Museum Seni Kontemporer Kota Hiroshima, Jepang, tengah memamerkan lukisan monumental bertajuk "Revived Soul" karya seniman avant-garde legendaris Yayoi Kusama, yang wafat pada Agustus lalu di usia 97 tahun. Karya ini bukan sekadar pajangan seni; ia adalah medium perenungan atas tragedi bom atom yang menghancurkan kota itu pada 1945, sekaligus pernyataan politik paling eksplisit dari seniwati yang dikenal dengan pola polkadotnya.
Lukisan akrilik berukuran 194 x 391,5 sentimeter ini merupakan komisi khusus dari museum pada 1995. Menariknya, di tengah reputasi Kusama yang identik dengan warna-warni ceria dan pola repetitif, "Revived Soul" justru digarap dalam monokrom hitam-putih. Pilihan estetis ini seolah mempertegas duka dan kepedihan yang ingin disampaikan, jauh dari kesan dekoratif yang melekat pada karya-karya populernya seperti labu atau bunga.
Dalam catatan yang ditulisnya saat proses kreatif, Kusama mengungkapkan, "Pengeboman atom mengubah kisah mimpi buruk menjadi kenyataan." Ia juga menulis, "Kami yang tumbuh selama perang dipaksa untuk mengetahui betul kesengsaraannya." Pernyataan ini menjadi kunci untuk membaca maksud tersembunyi di balik goresan hitam-putihnya: jiwa-jiwa korban yang bangkit dari bumi dan bersemayam di hati orang-orang yang masih hidup. Bagi Kusama, seni adalah ruang untuk mengolah trauma kolektif yang tak pernah benar-benar usai.
Karya ini kini menjadi bagian dari pameran koleksi bertajuk "Time Machines", yang merupakan bagian pertama dari tema tahunan museum, "The Time of the Museum". Pameran ini tampaknya sengaja mengajak pengunjung untuk merenungkan bagaimana waktu—baik yang personal maupun historis—terekam dalam objek seni. Bagi Hiroshima, museum bukan sekadar ruang pamer, melainkan penjaga memori kolektif atas peristiwa yang mengguncang peradaban.
Bagi publik Indonesia, pameran ini menawarkan refleksi yang relevan. Meski Indonesia tidak pernah mengalami bom atom, sejarah kekerasan masa lalu—baik pada masa kolonial maupun konflik komunal—masih menyisakan luka yang kerap dirawat melalui seni dan budaya. Karya seperti "Revived Soul" mengingatkan bahwa seni memiliki peran penting dalam proses rekonsiliasi dan pengolahan trauma. Di tengah maraknya wacana seni sebagai komoditas, karya Kusama menegaskan bahwa seni juga bisa menjadi medium perlawanan dan pengingat etis.
Kehadiran "Revived Soul" juga menjadi penanda akhir perjalanan panjang seorang seniman yang telah melampaui batas-batas geografis dan budaya. Bagi para penggemar Kusama di Indonesia, yang kerap mengagumi instalasi polkadotnya yang playful, karya ini memberikan dimensi baru: sisi reflektif dan serius dari seorang seniman yang telah menyaksikan sendiri kekejaman perang. Apakah publik Indonesia akan mendapat kesempatan melihat karya ini di kemudian hari? Museum-museum di Jakarta atau Yogyakarta mungkin bisa menjalin kerja sama untuk menghadirkan karya-karya Kusama yang lebih beragam, tidak hanya yang populer, tetapi juga yang sarat makna historis seperti ini.



