Presiden China Xi Jinping Kunjungi Mesir di Tengah Ancaman Sanksi AS atas Iran
Baca dalam 60 detik
- Xi Jinping melakukan kunjungan pertamanya ke Kairo dalam satu dekade, di tengah meningkatnya tekanan sanksi AS yang menyasar bank-bank yang terkait dengan Iran.
- Kunjungan ini menegaskan strategi Mesir untuk mempertahankan otonomi kebijakan luar negeri di tengah persaingan AS-China, dengan fokus pada kerja sama ekonomi dan investasi.
- Kesepakatan yang akan ditandatangani berpotensi memperkuat posisi China di kawasan Timur Tengah dan memberikan alternatif pembiayaan bagi proyek-proyek infrastruktur Mesir.

Presiden China, Xi Jinping, tiba di Kairo pada Selasa malam (2/9) untuk melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya dalam sepuluh tahun terakhir. Kunjungan yang berlangsung dua hari ini dilakukan di tengah bayang-bayang sanksi Amerika Serikat yang mengancam hubungan finansial dengan Iran, sekaligus menjadi ajang bagi Mesir untuk menunjukkan kemandirian strategisnya di tengah rivalitas dua kekuatan besar dunia.
Kedatangan Xi disambut langsung oleh Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, dan Ibu Negara Entissar Amer di bandara. Rombongan presiden China juga disambut dengan atraksi tari rakyat serta barisan remaja yang mengenakan kaos bergambar Xi. Sepanjang jalan menuju pusat kota, bendera China dan Mesir terpasang berdampingan, dengan baliho besar menampilkan wajah kedua pemimpin. Warga Kairo pun telah diperingatkan akan adanya kemacetan parah akibat pengalihan lalu lintas selama kunjungan ini.
Dalam pertemuan puncak yang dijadwalkan berlangsung Rabu pagi, kedua pemimpin diharapkan menandatangani sejumlah kesepakatan ekonomi yang mencakup bidang kecerdasan buatan, transportasi, dan energi. Kedua negara sama-sama anggota BRICS, dan kunjungan ini dipandang sebagai upaya China untuk memperluas pengaruhnya di kawasan yang selama ini menjadi mitra dekat Amerika Serikat. Mesir sendiri merupakan salah satu penerima bantuan militer terbesar AS dan selama ini kerap berperan sebagai mediator di Timur Tengah.
Langkah ini tidak lepas dari manuver diplomatik yang lebih luas. Beijing tengah bersiap menghadapi pertemuan antara Xi dan Presiden AS Donald Trump dalam waktu dekat. Di sisi lain, Washington telah mengancam akan memperluas sanksi ekonomi terhadap Iran, yang berpotensi menjerat bank-bank China sebagai pembeli utama minyak Iran. Pekan lalu, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi pada cabang Bank Misr di Uni Emirat Arab karena dituduh mendukung Iran. Langkah ini memicu reaksi keras dari Kairo, yang menegaskan komitmennya pada kebijakan luar negeri yang independen.
Dalam editorial yang dimuat media Mesir, Sisi menulis bahwa Mesir dan China adalah mitra dalam memperkuat peran "Global South" di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Mesir, yang di bawah kepemimpinan Sisi menjadi salah satu pembeli senjata terbesar dunia, juga telah menggelar latihan udara gabungan dengan militer China pada Agustus lalu, melibatkan jet tempur J-16. Beijing juga telah menjadi investor kunci dalam proyek-proyek megaproyek Sisi, termasuk distrik bisnis di Ibu Kota Administratif Baru yang terletak 50 kilometer di timur Kairo, serta memiliki pijakan besar di Zona Ekonomi Terusan Suez.
Bagi Indonesia, kunjungan ini memiliki relevansi yang signifikan. Sebagai negara yang juga menjalin hubungan erat dengan China dan AS, Indonesia dapat belajar dari cara Mesir menyeimbangkan kepentingan kedua kekuatan tersebut. Selain itu, meningkatnya investasi China di Mesir, terutama di sektor infrastruktur dan kawasan ekonomi khusus, dapat menjadi model bagi proyek serupa di Indonesia, seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara. Namun, Indonesia juga perlu mencermati risiko sanksi AS yang mungkin berdampak pada sektor keuangan jika terlalu dekat dengan China.
Kunjungan Xi ke Mesir juga mencerminkan strategi China untuk memperkuat aliansi dengan negara-negara berkembang di tengah persaingan dengan AS. Dengan menandatangani kesepakatan di bidang AI, transportasi, dan energi, China berupaya menunjukkan bahwa kerja sama ekonominya tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga transfer teknologi. Mesir, dengan posisinya yang strategis di jalur perdagangan global, menjadi mitra penting bagi China untuk mengamankan rute maritim dan memperluas pengaruh di Afrika dan Timur Tengah.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana AS akan merespons langkah China yang semakin agresif di kawasan yang selama ini menjadi pengaruhnya. Apakah sanksi yang dijatuhkan akan semakin memperketat ruang gerak Mesir, atau justru mendorong negara-negara lain untuk mencari alternatif kemitraan? Kunjungan ini menjadi sinyal bahwa keseimbangan kekuatan global sedang bergeser, dan negara-negara berkembang seperti Indonesia harus pandai membaca peluang serta risiko yang ada.



