Sungai Tanintharyi Meluap, 17 Sekolah di Myanmar Ditutup: Waspada Dampak Regional?
Baca dalam 60 detik
- Banjir di Myanmar selatan memaksa penutupan belasan sekolah dan memutus akses jalan utama.
- Ketinggian air telah melampaui ambang bahaya, dengan sekitar 2.000 warga mengungsi di pusat evakuasi.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan infrastruktur dan kesiapsiagaan bencana di kawasan ASEAN yang patut menjadi perhatian Indonesia.

YANGON – Derasnya hujan yang mengguyur wilayah selatan Myanmar sejak akhir pekan membuat Sungai Tanintharyi meluap hingga melampaui batas bahaya. Dampaknya, belasan sekolah di kota Tanintharyi dan sekitarnya terpaksa ditutup, sementara ruas jalan utama yang menghubungkan Yangon hingga Kawthaung terendam dan tak bisa dilalui kendaraan.
Berdasarkan pengukuran pada 1 September, tinggi muka air sungai mencapai 25 kaki 10 inci, atau sekitar 1 kaki 10 inci di atas ambang bahaya yang ditetapkan sebesar 24 kaki. Kondisi ini memaksa otoritas setempat menutup 17 sekolah yang tersebar di sejumlah desa, seperti Nyaungbin Kwin, Let Thawng Ywar, Ban Thae, hingga kawasan perkotaan Tanintharyi sendiri.
Untuk menampung warga yang terdampak, sepuluh pusat evakuasi telah dibuka. Hingga berita ini diturunkan, sekitar 2.000 orang dilaporkan mengungsi di lokasi-lokasi tersebut dan mendapatkan bantuan darurat. Seorang pejabat setempat menyebut bahwa bantuan logistik dan kebutuhan dasar tengah didistribusikan secara bertahap.
Banjir kali ini juga memutus akses di beberapa ruas Jalan Raya Persatuan Yangon–Myeik–Kawthaung. Jalan yang menjadi urat nadi transportasi darat di kawasan selatan itu terendam cukup dalam, sehingga kendaraan roda empat pun tidak berani melintas. Warga setempat menggambarkan situasi ini sebagai salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Meski ketinggian air disebutkan mulai stabil, warga masih diliputi kekhawatiran. Seorang penduduk setempat mengatakan, “Air sungai sudah tidak naik lagi, stabil di 25 kaki 10 inci. Curah hujan diperkirakan menurun. Jika pasang laut dari sisi Myeik menarik air sungai kembali, permukaan air seharusnya turun. Untuk saat ini, sekolah terpaksa tutup dan jalan masih terblokir.” Pernyataan ini menggambarkan optimisme hati-hati di tengah ketidakpastian cuaca.
Menurut catatan, level peringatan Sungai Tanintharyi berada di 17 kaki, sementara level bahaya di 24 kaki. Dengan demikian, luapan kali ini nyaris dua kali lipat dari ambang peringatan. Hal ini menunjukkan intensitas hujan yang sangat tinggi di kawasan tersebut, yang oleh para ahli dikaitkan dengan pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, saat dihubungi terpisah, menegaskan bahwa negara-negara ASEAN perlu memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan banjir. “Pengalaman Myanmar menunjukkan bahwa banjir tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi, tetapi juga sektor pendidikan dan mobilitas warga. Indonesia, dengan topografi yang beragam, harus terus menggencarkan upaya mitigasi struktural dan non-struktural,” ujarnya.
Lebih jauh, kejadian ini berpotensi memengaruhi rantai pasok regional, terutama jika jalur transportasi darat yang terputus berlangsung lama. Myanmar merupakan salah satu pemasok komoditas pertanian dan hasil laut ke negara-negara tetangga, termasuk Indonesia. Gangguan logistik akibat banjir dapat menahan laju ekspor dan berimbas pada harga komoditas di pasar domestik.
Pemerintah Myanmar sendiri belum mengumumkan perpanjangan masa tanggap darurat. Namun, dengan prediksi hujan yang masih mungkin turun dalam beberapa hari ke depan, warga dan otoritas setempat bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Pertanyaannya, akankah sistem drainase dan tanggul yang ada mampu menahan laju air jika hujan kembali deras? Atau justru diperlukan langkah evakuasi lebih masif untuk mencegah korban jiwa?



