IHSG Tertekan? Bukan, Ini Bursa Tokyo: Nikkei Anjlok 2,6% di Tengah Konflik AS-Iran dan Imbal Hasil Obligasi Jepang yang Menembus Rekor
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei 225 dibuka merosot tajam hingga 1.742 poin, dipicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang ke level tertinggi sejak 1996.
- Konflik AS-Iran yang memicu kenaikan harga minyak mentah WTI di atas US$90 per barel menjadi pemicu utama aksi jual, terutama di saham teknologi dan semikonduktor.
- Tekanan eksternal ini berpotensi mempengaruhi sentimen pasar Asia, termasuk Indonesia, melalui jalur inflasi impor dan pergerakan nilai tukar.

Bursa saham Tokyo dibuka dengan penurunan tajam pada Rabu pagi, ketika imbal hasil obligasi pemerintah Jepang yang melonjak dan kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh eskalasi konflik AS-Iran membuat investor berbondong-bondong melepas saham. Indeks Nikkei 225 ambles 1.742,18 poin atau 2,63 persen ke level 64.473,16, sementara indeks Topix yang lebih luas terkoreksi 91,58 poin atau 2,19 persen ke posisi 4.090,28.
Penurunan ini terjadi di tengah imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun yang sempat menyentuh 3,015 persen, level tertinggi sejak September 1996. Kenaikan imbal hasil ini memicu spekulasi bahwa Bank of Japan (BoJ) akan menaikkan suku bunga pada September mendatang, terutama setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent berulang kali mendesak Jepang untuk mengetatkan kebijakan moneternya. Para dealer menilai tekanan dari AS ini semakin memperkuat ekspektasi pasar akan perubahan sikap BoJ.
Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah yang kembali memanas mendorong harga minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) menembus level US$90 per barel. Bagi Jepang yang sangat bergantung pada impor minyak, kenaikan harga komoditas ini menjadi risiko inflasi yang serius. Akibatnya, yen melemah ke kisaran 160 yen per dolar AS, level yang jarang terlihat dan memicu kekhawatiran akan intervensi pemerintah. Pada tengah hari, dolar diperdagangkan di kisaran 160,27-28 yen, sementara euro berada di level 185,61-62 yen.
Seluruh sektor di bursa Tokyo mengalami penurunan, dengan saham-saham yang terkait kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor menjadi yang paling terpukul. Investor khawatir bahwa kombinasi suku bunga yang lebih tinggi dan biaya energi yang melonjak akan menekan margin keuntungan perusahaan teknologi, yang selama ini menjadi motor penggerak pasar saham global.
Bagi Indonesia, gejolak di pasar keuangan Jepang ini memiliki implikasi yang perlu dicermati. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia juga akan merasakan dampak kenaikan harga energi yang dapat mendorong inflasi dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Selain itu, penguatan dolar terhadap yen dan mata uang Asia lainnya dapat memberikan tekanan pada rupiah, yang pada akhirnya mempengaruhi kebijakan moneter Bank Indonesia. Investor domestik juga perlu waspada terhadap potensi capital outflow dari pasar saham dan obligasi Indonesia jika sentimen risiko global memburuk.
Para analis memperkirakan bahwa volatilitas di pasar keuangan global akan terus berlanjut dalam jangka pendek, seiring dengan ketidakpastian kebijakan moneter di Jepang dan AS serta eskalasi konflik geopolitik. Pertanyaannya, apakah BoJ akan benar-benar menaikkan suku bunga pada September, dan bagaimana dampaknya terhadap aliran dana global? Sementara itu, pasar akan terus memantau perkembangan di Timur Tengah dan data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini.



