Debut Lesu di Hong Kong: Shein Terpuruk di Bawah Tekanan Tarif dan Regulasi
Baca dalam 60 detik
- Saham Shein langsung melemah 4% pada hari pertama perdagangan di Hong Kong, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap biaya dagang dan pengawasan regulasi yang meningkat.
- Valuasi perusahaan kini sekitar US$25,3 miliar, jauh di bawah puncak US$100 miliar pada 2022, menyusul berakhirnya pengecualian bea masuk di AS dan Eropa yang menjadi tulang punggung model bisnisnya.
- IPO ini lebih merupakan restrukturisasi modal untuk mengkompensasi investor awal daripada murni penggalangan dana, dengan pembayaran tunai mencapai US$3,5 miliar.

Saham raksasa fast-fashion asal China, Shein, langsung terperosok 4% pada debut perdagangannya di Bursa Hong Kong, Selasa (1/9). Investor tampak resah oleh kombinasi biaya perdagangan yang membengkak dan pengawasan regulasi yang semakin ketat, yang telah mengikis daya saing perusahaan yang sempat digadang-gadang bernilai hampir US$100 miliar pada 2022 itu.
Perusahaan yang dikenal dengan produk murah seperti atasan seharga US$5 dan gaun US$10 ini kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit: kebijakan tarif dan bea masuk baru di Amerika Serikat dan Eropa telah memangkas valuasinya secara drastis. Pada perdagangan sesi tengah, saham Shein berada di level HK$46,62, turun dari harga IPO HK$48,56, setelah sempat merosot hingga 10%. Angka ini menempatkan valuasi perusahaan di kisaran US$25,3 miliar, jauh dari puncaknya pada 2022.
Perjalanan Shein menuju bursa tidaklah mulus. Setelah gagal melantai di New York dan London, perusahaan yang bermarkas di Singapura ini akhirnya memilih Hong Kong sebagai panggung pencatatan sahamnya. Namun, proses yang memakan waktu empat tahun itu diwarnai oleh sorotan tajam terhadap praktik bisnisnya, yang bahkan sempat dihambat oleh otoritas China. Kini, dengan statusnya sebagai perusahaan publik, Shein harus membuktikan diri di tengah skeptisisme investor.
Analis menilai debut yang lemah ini menunjukkan bahwa investor masih belum melihat Shein sebagai saham yang murah, bahkan setelah penurunan valuasi yang signifikan. Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo, menyoroti bahwa Shein diperdagangkan pada 15 kali laba masa depan, lebih dari dua kali lipat kelipatan PDD Holdings, induk dari pesaing utamanya Temu. "Investor diminta membayar premi meskipun prospek pertumbuhan lemah dan risiko regulasi serta perdagangan besar," ujarnya.
Permintaan saham Shein pada IPO juga terbilang lesu dibandingkan penawaran umum perdana di sektor AI dan robotika yang lebih bergengsi. Tranche ritel hanya tersubskripsi 5,63 kali, sementara porsi internasional 2,59 kali. Padahal, beberapa IPO di Hong Kong sering kali mengalami kelebihan permintaan hingga ratusan kali lipat, terutama dari investor ritel yang sangat aktif.
Meski demikian, sejumlah nama besar tetap ikut serta dalam IPO ini. Filing menunjukkan partisipasi Willett Advisors, keluarga miliarder Michael Bloomberg, investor Perancis Xavier Niel, Microsoft, serta konglomerat India Reliance milik Mukesh Ambani. SoftBank Vision Fund dan Claure Group juga tercatat membeli saham. Jumlah saham yang dilepas setara 6,6% dari modal diperbesar, dengan investor inti mengunci sekitar seperlima saham selama enam bulan, menyisakan hanya 5% saham yang bebas diperdagangkan.
Di balik hiruk-pikuk IPO, ada persoalan mendasar yang menggerogoti model bisnis Shein. Tahun lalu, AS mengakhiri pengecualian bea masuk untuk kiriman e-commerce di bawah US$800, yang selama ini menjadi mesin penggerak model pengiriman langsung Shein. Uni Eropa kemudian mengikuti dengan mengenakan biaya pada paket bernilai rendah. Dampaknya terasa nyata: laba bersih Shein merosot 39% tahun lalu dan perusahaan mencatat kerugian pada kuartal pertama tahun ini. Josh Gilbert, analis utama Asia-Pasifik di eToro, mengungkapkan bahwa pengguna harian aktif Shein di Eropa turun sekitar 45% sejak UE menghapus pengecualian bea masuk untuk paket kecil. "Ini bukan hanya masalah Shein, tapi akhir dari era pengiriman lintas batas yang murah," katanya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Model bisnis e-commerce lintas batas yang mengandalkan harga murah kini berada di ujung tanduk. Regulasi yang semakin ketat di pasar utama, seperti AS dan Eropa, memaksa platform seperti Shein dan Temu untuk beradaptasi. Di sisi lain, pasar Indonesia yang besar dan tumbuh pesat menjadi incaran ekspansi, namun juga menuntut kepatuhan terhadap aturan lokal yang semakin matang. Pertanyaannya, apakah platform seperti Shein mampu bertahan dengan mengorbankan margin demi pangsa pasar, atau justru akan semakin terpinggirkan oleh pemain lokal yang lebih memahami dinamika pasar?
Ke depan, Shein berupaya melebarkan sayap di luar lini produk ultra-murahnya. Perusahaan telah memperluas pasar pihak ketiga dan mengakuisisi merek pakaian AS, Everlane, pada Mei lalu. Namun, bayang-bayang investigasi Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) terkait perlindungan konsumen, serta pemeriksaan Komisi Eropa terhadap penanganan produk ilegal dan desain platform yang berpotensi adiktif, masih menggantung. IPO ini, seperti diungkapkan Jianggan Li, CEO konsultan Momentum Works, bukan sekadar penggalangan dana, melainkan lebih merupakan peristiwa restrukturisasi modal untuk mengkompensasi investor awal yang telah menunggu lama. Dengan segala tantangan yang ada, akankah Shein mampu membuktikan bahwa valuasinya saat ini adalah titik terendah, atau justru awal dari penurunan yang lebih dalam?



