Serangan Balik AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Bergejolak
Baca dalam 60 detik
- Serangan udara AS ke Iran pada Selasa memicu rentetan rudal dan drone balasan Teheran, mengakhiri gencatan senjata singkat yang hanya bertahan sebulan.
- Konflik yang telah berlangsung enam bulan ini kembali menekan harga minyak mentah global, yang telah melonjak lebih dari 50% sepanjang tahun ini.
- Di tengah eskalasi, Presiden Iran menyatakan siap kembali ke kesepakatan gencatan senjata jika AS memenuhi komitmennya, namun ancaman serangan yang lebih besar masih menggantung.

Militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran pada Selasa (1/9/2026), dan Teheran segera membalas dengan meluncurkan rudal balistik serta drone ke berbagai lokasi di kawasan Timur Tengah. Eskalasi ini menandai babak baru dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari enam bulan, sekaligus memicu kekhawatiran akan meluasnya perang terbuka di kawasan penghasil minyak utama dunia.
Serangan terbaru AS menyusul aksi militer pada Minggu yang secara mendadak mengakhiri periode tenang selama sebulan. Sebelumnya, pemerintahan Trump sempat mengindikasikan pergeseran strategi dengan mengandalkan tekanan ekonomi melalui sanksi untuk melumpuhkan Iran. Namun, pilihan jalur militer kembali diambil, memicu gejolak di pasar energi global dan menempatkan Partai Republik dalam posisi sulit menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons atas upaya Iran menyerang kapal-kapal dagang dan personel Amerika di Timur Tengah. Presiden Trump, dalam wawancara dengan Fox News, menambahkan bahwa pasukannya menargetkan radar Iran yang tengah dibangun ulang. "Mereka mencoba membangun kembali radar karena mereka tidak bisa melihat apa pun. Kami menunggu hingga hampir selesai, lalu kami menghancurkannya," ujarnya.
Pembalasan Iran tidak lama datang. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menembakkan rudal balistik ke pangkalan AS di dekat Teluk Aqaba, Yordania. Militer Yordania mengonfirmasi berhasil mencegat sepuluh rudal, sementara tiga lainnya jatuh di area tak berpenghuni. Ledakan yang diduga merupakan intersepsi juga terlihat di langit Aqaba. Sementara itu, Kuwait melaporkan pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh serangan drone, dan Iran juga mengaku melancarkan serangan drone ke pangkalan AS di Bahrain, meski belum ada konfirmasi resmi dari negara tersebut.
Di tengah baku tembak, laporan korban sipil mulai bermunculan. Ahmad Nafisi, wakil gubernur Provinsi Hormozgan, kepada televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa serangan AS menghantam sebuah rumah yang tengah menggelar pesta pernikahan di Kuhestak, menewaskan lima orang termasuk seorang anak, dan melukai sedikitnya 68 lainnya. CENTCOM melalui juru bicaranya, Kapten Tim Hawkins, mengatakan pihaknya mengetahui laporan tersebut namun meragukan kredibilitasnya karena berasal dari media pemerintah Iran. "Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC," tegas Hawkins.
Militer Iran, melalui pernyataan resmi yang dikutip IRNA, mengancam akan memberikan "pukulan yang menghancurkan dan dahsyat" terhadap AS. IRGC juga menegaskan bahwa serangan tersebut hanya akan memperkuat tekad Republik Islam dan semakin memperketat penutupan Selat Hormuz. Ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah pesisir selatan Iran, termasuk Bandar Abbas yang menjadi markas angkatan laut dan udara, serta Pulau Qeshm. Saksi mata di Bandar Abbas menggambarkan ledakan lebih kuat dibanding serangan Minggu, dengan kepulan asap terlihat dari bagian timur kota.
Ketegangan ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang tampaknya mandek. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sebelum serangan terbaru menyatakan kesiapan negaranya untuk kembali mematuhi kesepakatan gencatan senjata sementara yang ditandatangani pada Juni, jika AS juga melakukannya. "Jika AS kembali pada komitmennya dalam nota kesepahaman, Republik Islam Iran akan segera membalas," ujarnya dalam KTT Shanghai Cooperation Organization di Kirgistan. Namun, kesepakatan Juni yang mencakup gencatan senjata segera dan negosiasi 60 hari itu telah runtuh tak lama setelah ditandatangani.
Bagi Indonesia, gejolak di Timur Tengah ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga minyak mentah global akan membebani anggaran subsidi energi dan berpotensi mendorong inflasi. Pemerintah perlu mencermati pergerakan harga minyak dan menyiapkan langkah antisipasi, seperti memperkuat cadangan strategis dan mengoptimalkan transisi energi. Selain itu, ketidakstabilan di kawasan tersebut juga berdampak pada keamanan jalur pelayaran dan rantai pasok global, yang pada akhirnya memengaruhi harga barang-barang impor di pasar domestik.
Dengan persediaan interceptor canggih AS yang semakin menipis dan perang yang tidak populer di kalangan warga Amerika, pertanyaan besarnya adalah: akankah eskalasi ini berhenti pada serangan terbatas, atau justru berubah menjadi konflik terbuka yang lebih luas? Trump sendiri telah mengisyaratkan kemungkinan serangan lanjutan, sementara Iran tampaknya tidak akan tinggal diam. Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari kedua negara adidaya militer tersebut, dengan harga minyak dan stabilitas kawasan yang dipertaruhkan.



