Bento Beku Jepang Menggurita: Pasar Diproyeksi Tembus Rp21 Triliun, Pelajaran bagi Industri Makanan Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Nilai pasar bento beku Jepang tahun ini diperkirakan mencapai 217,4 miliar yen, tumbuh 7,9 persen berkat layanan berlangganan.
- Pemain besar seperti Ajinomoto dan Watami ikut meramaikan, sementara pendatang baru seperti Greenspoon menawarkan paket kaya sayur dan layanan korporat.
- Tren ini mengindikasikan pergeseran preferensi konsumen Jepang ke arah kepraktisan dan kesehatan, yang bisa menjadi sinyal bagi pasar Asia Tenggara.

Pasar makanan beku siap saji Jepang, khususnya bento, tengah mengalami lonjakan permintaan yang signifikan. Riset dari Fuji Keizai Co. memperkirakan nilai pasar bento beku tahun ini mencapai 217,4 miliar yen (sekitar Rp21 triliun), tumbuh 7,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini tidak lepas dari menjamurnya layanan berlangganan yang mengirimkan makanan beku langsung ke rumah konsumen.
Fenomena ini mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat Jepang yang semakin sibuk namun tetap ingin mengonsumsi makanan bergizi. Beragam pilihan bento beku kini tersedia, mulai dari yang kaya sayuran hingga yang dirancang khusus untuk penderita penyakit kronis atau lansia. Perusahaan-perusahaan besar seperti Ajinomoto Co. dan operator pub ala Jepang Watami Co. pun ikut terjun ke pasar ini, menunjukkan potensi bisnis yang menggiurkan.
Salah satu pemain baru yang mencuri perhatian adalah Greenspoon Inc., perusahaan asal Tokyo yang sebelumnya fokus pada sup beku kaya sayur. Pada Desember lalu, mereka meluncurkan DELI BENTO, rangkaian makanan beku dengan porsi sayur melimpah. Presiden Greenspoon, Ren Kurosaki, mengaitkan pertumbuhan ini dengan rencana pemerintah Jepang memangkas tarif pajak konsumsi untuk makanan dan minuman dari 8 persen menjadi 1 persen mulai April tahun depan. "Kebijakan ini akan mendorong orang untuk lebih banyak makan di rumah," ujarnya.
Setiap paket DELI BENTO terdiri dari hidangan utama, lauk, dan salad. Konsumen bisa memilih dari sekitar 35 menu utama, seperti green curry. Untuk paket berlangganan 12 kali makan, harga per porsi dibanderol 886 yen (sekitar Rp90 ribu). Greenspoon juga mulai merambah layanan korporat dengan menyediakan freezer di kantor-kantor, sehingga karyawan bisa membeli makanan beku langsung dari tempat kerja.
Di segmen makanan khusus, Dr. Tsurukame Kitchen, layanan yang diawasi dokter spesialis dan ahli gizi, menawarkan lima program diet untuk membatasi garam, karbohidrat, kalori, dan nutrisi lainnya. Misalnya, bagi yang menjalani diet rendah garam, tersedia menu dengan kandungan garam tidak lebih dari 2 gram. Harga satu set tujuh porsi dibanderol 5.184 yen (sekitar Rp520 ribu). Layanan ini lahir sebagai respons atas meningkatnya jumlah penderita hipertensi, diabetes, dan dislipidemia di Jepang. Hingga akhir Juni, penjualan kumulatifnya telah menembus 3 juta porsi.
Sementara itu, Wellness Dining Co. fokus pada makanan bertekstur lunak untuk lansia atau pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan. Konsumen dapat memilih tiga tingkat kelembutan: mudah dikunyah, dapat dihaluskan dengan gusi, dan dapat dihaluskan dengan lidah. Perusahaan ini juga meluncurkan layanan Omoide Irodori pada Mei lalu, yang dirancang untuk mendukung fungsi kognitif dengan profil nutrisi seimbang. Satu set tujuh porsi dijual seharga 7.884 yen (sekitar Rp790 ribu).
Fenomena bento beku ini menawarkan pelajaran berharga bagi industri makanan Indonesia, yang juga menghadapi tren urbanisasi dan mobilitas tinggi. Meski pasar Indonesia belum sebesar Jepang, minat terhadap makanan praktis dan sehat terus tumbuh, terutama di kalangan pekerja perkotaan. Pelaku usaha lokal dapat belajar dari model bisnis langganan dan inovasi produk yang disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan spesifik.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tren ini akan bertahan setelah stimulus pajak berakhir, atau justru semakin mengakar karena perubahan preferensi konsumen yang fundamental. Bagi Indonesia, adopsi teknologi pembekuan dan rantai dingin yang andal menjadi kunci untuk mengembangkan segmen serupa. Jika tidak, kita mungkin hanya akan menjadi penonton dari revolusi makanan beku yang sedang terjadi di negara tetangga.



