Gagal Rekrut Julian Alvarez, Arsenal Terancam Kehilangan Gelar Premier League?
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan transfer Julian Alvarez senilai £102 juta batal karena sang pemain menolak pindah ke Emirates.
- Kegagalan mendatangkan striker elite membuat lini depan Arsenal kembali bergantung pada Kai Havertz yang inkonsisten.
- Tanpa tambahan amunisi di lini serang, ambisi Arsenal mempertahankan gelar juara Premier League musim ini diragukan.

LONDON – Dua kemenangan beruntun di awal Premier League seakan menutupi kegelisahan yang menyelimuti tubuh Arsenal. Namun, di balik raihan empat gol tanpa kebobolan, ada lubang menganga yang gagal ditambal manajemen pada bursa transfer musim panas lalu: ketiadaan striker kelas dunia. Kini, publik Emirates mulai bertanya-tanya, akankah kelalaian ini menghancurkan mimpi mempertahankan mahkota juara?
Musim lalu, Arsenal akhirnya mengakhiri puasa gelar liga selama 22 tahun. Euforia itu seharusnya menjadi modal untuk mendatangkan pemain-pemain bintang. Direktur olahraga Andrea Berta dan pemilik klub, keluarga Kroenke, digadang-gadang akan memboyong talenta-top dunia ke London Utara. Kenyataannya, perburuan pemain justru berubah menjadi rentetan kekecewaan.
Target pertama, Morgan Rogers, melayang ke Chelsea dengan nilai transfer £117 juta. Arsenal menolak menebusnya semahal itu. Selanjutnya, Vinicius Junior menjadi incaran, tetapi Real Madrid bergerak cepat memperpanjang kontrak pemain Brasil tersebut. Bradley Barcola dari Liverpool dan Kenan Yildiz dari Juventus juga gagal direkrut karena berbagai kendala, termasuk cedera yang dialami Yildiz di akhir Agustus.
Di tengah kegagalan itu, Arsenal sebenarnya tetap berhasil mengamankan beberapa nama, seperti Bruno Guimaraes (£75 juta) dan Ezri Konsa (£55 juta). Namun, kebutuhan paling mendesak—seorang penyerang haus gol—tidak pernah terpenuhi. Mikel Arteta, pelatih asal Spanyol itu, bahkan telah memberikan peringatan tegas seusai kekalahan di final Liga Champions melawan PSG pada akhir Mei. "Kami akan mengambil keputusan penting jika ingin mencapai level lain," ujarnya. "Kami harus menunjukkan ambisi itu, karena kami mampu, tetapi butuh kecepatan dan kecerdasan."
Salah satu saga transfer paling dramatis musim panas ini melibatkan Julian Alvarez. Penyerang Argentina itu menginginkan pindah ke Barcelona, tetapi Atletico Madrid menolak menjualnya ke rival satu liga. Arsenal pun menjadi satu-satunya peminat serius. Menurut jurnalis Spanyol Pedro Morata, kedua klub sebenarnya telah mencapai kesepakatan senilai £102 juta. Namun, Alvarez bersikukuh tidak ingin bergabung dengan Arsenal. Kegagalan ini dinilai sebagai pukulan telak, karena Alvarez dianggap sebagai pemain yang bisa membawa Arsenal meraih gelar Premier League kedua beruntun sekaligus mimpi pertama di Liga Champions.
Perbandingan antara Alvarez dan Kai Havertz, yang kini menjadi pilihan utama di lini depan, memang mencolok. Havertz tampil impresif saat melawan Manchester City dan Coventry, tetapi gagal total di Villa Park. Ia lima kali terjebak offside dan hanya menyelesaikan 73% umpannya. Sementara itu, Viktor Gyokeres, rekrutan anyar, bahkan belum dimainkan satu menit pun di Premier League. Ketidakmampuan Havertz untuk konsisten menjadi alasan utama mengapa Arsenal membutuhkan sosok seperti Alvarez.
Alvarez bukan nama asing di Inggris. Sebelum pindah ke Atletico, ia sempat menjadi pelengkap di belakang Erling Haaland di Manchester City, namun tetap mencatatkan 19 gol dan 13 assist di musim terakhirnya. Rekan setimnya di timnas Argentina, Franco Mastantuono, bahkan menyebutnya sebagai "salah satu pemain terbaik di dunia". Dengan harga di atas £100 juta, Alvarez dianggap sebagai investasi yang sepadan untuk mengubah permainan Arsenal.
Kegagalan mendatangkan striker elite ini meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi Arteta. Ia harus memutar otak untuk meracik strategi agar lini serang tetap tajam sepanjang musim. Apakah ia akan memberi kesempatan lebih banyak kepada Gyokeres? Atau memaksa Havertz untuk tampil lebih konsisten? Keputusan inilah yang akan menentukan apakah Arsenal mampu bersaing di papan atas, atau kembali menjadi tim penghuni zona Liga Champions tanpa gelar. Bagi penggemar di Indonesia yang mengikuti Premier League, musim ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ambisi Arsenal.



