BMKG Catat 1.299 Titik Panas di Kalsel, Seluruh Wilayah Masuk Kategori Sangat Mudah Terbakar
Baca dalam 60 detik
- Pemantauan satelit BMKG pada Rabu pagi mengidentifikasi 1.299 titik panas yang tersebar di 12 kabupaten/kota Kalimantan Selatan, dengan Banjarmasin menjadi satu-satunya wilayah yang bersih.
- Indeks Fire Weather Index menunjukkan seluruh Kalsel berada pada level merah, mengindikasikan vegetasi kering dan lahan gambut yang ekstrem siap tersulut api.
- Konsentrasi titik api terbesar berada di Kabupaten Banjar (286 titik), disusul Hulu Sungai Selatan (254 titik) dan Barito Kuala (179 titik), menuntut kesiapsiagaan darurat karhutla.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 1.299 titik panas yang tersebar di 12 kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan pada Rabu pagi, sebuah sinyal bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi itu tengah berada pada level paling mengkhawatirkan. Data yang diperoleh melalui pemantauan satelit pada pukul 07.00 Wita itu sekaligus menempatkan seluruh wilayah Kalsel dalam kategori "sangat mudah terbakar" berdasarkan indikator Fire Weather Index (FWI) yang dirilis BMKG.
Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor Banjarbaru, Adhitya Prakoso, mengungkapkan bahwa dari total titik panas tersebut, 231 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 993 titik pada tingkat sedang, dan 75 titik pada tingkat tinggi. Artinya, hampir 83 persen titik api terdeteksi memiliki probabilitas akurasi yang cukup kuat, sehingga tidak bisa dianggap sebagai alarm palsu belaka. "Total 1.299 titik panas terdeteksi di 12 kabupaten dan kota, sementara Banjarmasin tidak ditemukan titik panas," ujarnya di Banjarbaru, Rabu.
Distribusi titik api menunjukkan pola yang tidak merata. Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, mencapai 286 titik, yang terdiri atas 41 titik berisiko rendah, 220 titik sedang, dan 25 titik tinggi. Menyusul di belakangnya, Hulu Sungai Selatan mencatat 254 titik, dengan dominasi kategori sedang sebanyak 196 titik. Barito Kuala berada di urutan ketiga dengan 179 titik, sementara Tapin dan Hulu Sungai Utara masing-masing mencatat 149 dan 120 titik. Wilayah lain seperti Tanah Laut, Tanah Bumbu, Banjarbaru, Hulu Sungai Tengah, Kotabaru, Balangan, dan Tabalong mencatat angka yang lebih rendah, berkisar antara 7 hingga 73 titik.
Yang membuat situasi ini kian genting adalah status FWI yang menunjukkan seluruh Kalimantan Selatan didominasi warna merah. Kondisi itu, menurut Adhitya, dipicu oleh tingkat kekeringan ekstrem pada vegetasi seperti semak belukar, serasah kering, serta lapisan tanah gambut yang tersebar luas. "Vegetasi yang sangat kering itu rentan tersulut api dan memicu penyebaran kebakaran secara cepat," kata dia. Dengan kata lain, bukan hanya jumlah titik panas yang tinggi, melainkan juga karakteristik bahan bakar alami yang membuat api mudah membesar dan sulit dikendalikan.
Fenomena ini bukan sekadar catatan meteorologis. Bagi Indonesia, karhutla di Kalimantan Selatan memiliki efek ganda: selain merusak ekosistem gambut yang sulit pulih, asap yang dihasilkan kerap menembus batas provinsi dan mengganggu kesehatan masyarakat hingga aktivitas penerbangan. Pada tahun-tahun El Nino kuat, kebakaran lahan di wilayah ini pernah menyebabkan kerugian ekonomi miliaran rupiah serta memicu konflik sosial akibat kabut asap lintas batas. Data BMKG ini menjadi pengingat bahwa musim kemarau 2026 belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dan kesiapsiagaan daerah menjadi taruhan utama.
Pemerintah pusat sebenarnya telah merespons dengan berbagai langkah, termasuk instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk membangun sumur bor di setiap titik rawan karhutla. Namun, efektivitas kebijakan tersebut masih diuji oleh realitas lapangan: ratusan titik api baru muncul setiap hari, dan koordinasi antara pemerintah provinsi, kabupaten, serta aparat penegak hukum kerap berjalan lambat. Adhitya menggarisbawahi bahwa data satelit ini harus segera ditindaklanjuti dengan patroli darat dan modifikasi cuaca bila diperlukan, bukan sekadar dijadikan laporan rutin.
Pertanyaan yang kini menggantung adalah apakah aparat dan masyarakat mampu menahan laju api sebelum mencapai puncak kekeringan pada Agustus-September mendatang. Dengan 75 titik panas berisiko tinggi yang tersebar di wilayah padat gambut, setiap kelalaian kecil bisa berubah menjadi bencana ekologis yang berlarut. Data BMKG hari ini bukan sekadar angka, melainkan alarm yang menuntut respons cepat dan terkoordinasi dari semua pemangku kepentingan.



