SoftBank Sukses Uji Stasiun Pangkalan Terbang: Konektivitas Bencana di Jepang Makin Dekat
Baca dalam 60 detik
- SoftBank mencatat uji coba perdana di Jepang untuk platform HAPS, pesawat berbentuk airship yang melayang di ketinggian 20 km dan mampu menjadi menara seluler terbang.
- Uji coba yang berlangsung di atas Kochi ini membuktikan panggilan suara, video, hingga kendali drone berjalan stabil, membuka peluang pemulihan komunikasi saat bencana.
- Kompetitor NTT Docomo menyusul dengan uji coba di wilayah terdampak gempa Noto, menandakan persaingan komersialisasi HAPS di Jepang kian memanas.

SoftBank Corp., salah satu raksasa telekomunikasi Jepang, mengumumkan keberhasilan uji coba stasiun pangkalan telepon seluler terbang yang beroperasi di ketinggian sekitar 20 kilometer. Ini merupakan uji coba pertama di Jepang untuk platform bernama High-Altitude Platform Station (HAPS), sebuah terobosan yang diharapkan mampu menjaga konektivitas saat bencana alam melanda.
Dalam uji coba yang berlangsung pada 23โ24 Agustus lalu di wilayah Muroto, Prefektur Kochi, Jepang bagian barat, perangkat berbentuk airship yang diluncurkan dari New Mexico, Amerika Serikat, ini berhasil menjalankan panggilan suara, video, hingga panggilan darurat secara stabil. Tidak hanya itu, HAPS juga terbukti mampu mengendalikan drone dari jarak jauh, sebuah fungsi yang kelak dipakai untuk menilai kerusakan infrastruktur seperti jalan dan jembatan pascagempa atau badai.
Keunggulan utama HAPS terletak pada daya tahannya. Berbeda dengan balon udara biasa, airship ini dirancang untuk mengudara selama beberapa bulan hingga setengah tahun tanpa perlu turun. Dengan demikian, wilayah terdampak bencana yang jaringan selulernya lumpuh dapat segera memperoleh sinyal komunikasi, tanpa harus menunggu perbaikan menara darat yang bisa memakan waktu berhari-hari. SoftBank menargetkan perluasan area operasi dan durasi penerbangan pada 2027, sekaligus membuka layanan komersial bagi korporasi pada masa normal.
Langkah SoftBank ini tidak berjalan sendiri. NTT Docomo, operator seluler terbesar di Jepang, dijadwalkan menggelar uji coba serupa pada bulan ini di wilayah Noto, Prefektur Ishikawa, yang hancur akibat gempa dahsyat pada awal 2024. Berbeda dengan SoftBank yang menggunakan airship, NTT Docomo akan menerbangkan pesawat berbentuk balon. Fokus uji coba NTT Docomo adalah efisiensi tenaga kerja di sektor pertanian dan penilaian kerusakan gempa, dengan harapan menarik minat pemerintah daerah dan pelaku bisnis setempat.
Persaingan menggarap HAPS ini terjadi di tengah upaya kedua perusahaan yang juga telah memiliki layanan komunikasi satelit langsung ke ponsel. Sebelumnya, SoftBank, NTT Docomo, dan KDDI telah menyediakan fungsi yang memungkinkan ponsel tetap mengirim pesan meski menara BTS rusak. Namun, investasi pada HAPS dinilai sebagai langkah strategis untuk menjangkau aplikasi masa depan, seperti integrasi dengan kecerdasan buatan (AI) dan pengoperasian drone otonom.
Bagi Indonesia, teknologi ini menawarkan secercah harapan di tengah tantangan geografis yang berat. Dengan ribuan pulau dan wilayah rawan gempa, membangun infrastruktur telekomunikasi darat yang tangguh membutuhkan biaya besar. HAPS dapat menjadi solusi alternatif untuk menjangkau daerah terpencil atau pulau-pulau kecil yang selama ini sulit mendapatkan sinyal. Meski demikian, adopsi teknologi ini di Indonesia masih memerlukan kajian regulasi dan investasi yang tidak sedikit.
โHAPS bukan sekadar solusi darurat, tetapi juga peluang untuk membuka layanan baru di bidang AI dan drone,โ demikian analisis yang berkembang di kalangan pengamat telekomunikasi.
Pertanyaan besar yang kini menggantung adalah apakah model bisnis HAPS mampu mencapai titik impas. Kunci utamanya terletak pada kemampuan SoftBank dan NTT Docomo dalam menarik pelanggan korporat. Jika berhasil, bukan tidak mungkin teknologi ini akan diekspor ke negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang memiliki kebutuhan serupa akan ketahanan komunikasi.



