IPO Shein di Hong Kong Kebanjiran Pesanan, Valuasi Anjlok 70% dari Puncaknya
Baca dalam 60 detik
- Permintaan investor memenuhi total penawaran IPO Shein senilai hingga US$1,8 miliar, menandai langkah maju menuju pencatatan saham di bursa Hong Kong.
- Valuasi perusahaan anjlok dari hampir US$100 miliar pada 2022 menjadi maksimal US$27 miliar, mencerminkan tekanan regulasi dan persaingan di pasar utama.
- Keberhasilan IPO ini menjadi ujian bagi model bisnis fast-fashion di tengah meningkatnya pengawasan lingkungan dan tata kelola di AS dan Eropa.

Penawaran umum perdana (IPO) Shein di Bursa Hong Kong yang menargetkan dana hingga US$1,8 miliar telah kebanjiran pesanan dari investor. Dua sumber yang mengetahui proses tersebut mengungkapkan bahwa buku pemesanan (order book) sudah terisi penuh, membawa perusahaan mode cepat asal China ini selangkah lebih dekat ke debut pasar yang telah lama dinanti, di tengah tantangan bisnis dan regulasi yang kian kompleks.
Shein resmi meluncurkan penjualan sahamnya pada Senin (24/8) dengan valuasi perusahaan mencapai US$27 miliar. Angka ini merosot lebih dari 70% dibandingkan valuasi pasar swasta yang sempat menyentuh hampir US$100 miliar pada 2022. Penurunan drastis ini mencerminkan perubahan sentimen investor terhadap sektor fast-fashion yang kini berada di bawah sorotan tajam regulator global.
Perusahaan yang berbasis di Singapura namun berakar dari China ini melepas 280 juta saham dengan rentang harga HK$47,60 hingga HK$49,50 per saham. Pada kisaran tertinggi, dana yang terkumpul mencapai US$1,8 miliar. Harga final dijadwalkan diumumkan pada Senin, dan saham diperkirakan mulai diperdagangkan di bursa Hong Kong pada 1 September. Sejumlah investor lama seperti Boyu, Tiger Global, dan General Atlantic telah berkomitmen membeli saham senilai sekitar US$383 juta sebagai investor inti (cornerstone).
Minat investor terhadap IPO ini datang dari berbagai kalangan, termasuk pemegang saham eksisting serta dana-dana yang fokus pada pasar China dan strategi multi-manajemen. Meski demikian, analis memperingatkan bahwa hambatan di pasar utama Shein, yakni Amerika Serikat dan Eropa, dapat membebani prospek pertumbuhan perusahaan ke depan. Shein dikenal luas dengan produk-produk murah seperti gaun seharga US$5 dan celana jeans US$10 yang dipasarkan ke konsumen di sekitar 160 negara.
IPO ini menjadi ujian penting bagi Shein yang selama empat tahun terakhir gagal melantai di New York dan London akibat kritik tajam terhadap standar lingkungan, ketenagakerjaan, dan tata kelola. Saat ini, perusahaan masih dalam penyelidikan Komisi Eropa dan Komisi Perdagangan Federal AS. Sebelumnya, Shein pernah didenda di Prancis karena dugaan diskon palsu dan di Italia atas praktik greenwashing, atau klaim manfaat lingkungan yang berlebihan. Juru bicara Shein membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa perusahaan memegang standar tinggi dalam tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas.
Bagi pasar Indonesia, IPO Shein menjadi sinyal penting tentang arah industri mode global. Dengan penetrasi e-commerce yang tinggi di Indonesia, kehadiran Shein di bursa Hong Kong dapat mempengaruhi dinamika persaingan platform belanja daring, termasuk melawan pemain lokal seperti Shopee dan Tokopedia. Namun, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu keberlanjutan juga menjadi pelajaran bagi pelaku industri dalam negeri untuk lebih transparan dalam rantai pasok dan praktik bisnisnya.
Ke depan, kesuksesan IPO Shein akan sangat bergantung pada kemampuannya menyeimbangkan pertumbuhan dengan tuntutan regulasi. Pertanyaan besarnya: apakah investor akan terus mendukung model bisnis yang mengandalkan produksi massal murah, atau justru mendorong transformasi menuju praktik yang lebih berkelanjutan? Jawabannya akan menentukan apakah Shein mampu mempertahankan posisinya sebagai raksasa fast-fashion global atau justru kehilangan relevansi di tengah perubahan lanskap industri.



