Dolar Menguat di Tengah Ketegangan AS-Iran, Yen Terus Melemah Tembus 160
Baca dalam 60 detik
- Ketegangan AS-Iran memicu aksi jual obligasi global dan mendorong dolar menguat, sementara yen jatuh ke level terlemah dalam beberapa dekade.
- Imbal hasil obligasi Jepang 10 tahun menembus 3% untuk pertama kalinya dalam 30 tahun, menekan Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga.
- Pasar kini berspekulasi Federal Reserve akan menaikkan suku bunga bulan ini, dengan probabilitas mencapai 66%, menyusul pernyataan hawkish Ketua Fed.

Dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan dominasinya di pasar valuta asing pada Selasa (1/9), didorong oleh eskalasi konflik antara Washington dan Teheran yang memicu kekhawatiran inflasi dan aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global. Di saat yang sama, yen Jepang kembali terpuruk menembus level psikologis 160 per dolar, meskipun tekanan terhadap Bank of Japan (BoJ) untuk mengetatkan kebijakan moneter semakin kuat.
Ketegangan di Timur Tengah memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan serangan lanjutan terhadap Iran, menyusul baku tembak langsung pertama dalam sebulan terakhir. Ancaman tersebut langsung mendorong harga minyak mentah Brent menembus 92 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran inflasi yang berujung pada aksi jual obligasi pemerintah di berbagai negara. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun bahkan sempat menyentuh 3 persen, level yang belum pernah terjadi dalam tiga dekade terakhir, sementara imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun juga melonjak ke titik tertinggi sejak Januari 2025.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah dan bank sentral Jepang akan mengambil langkah yang mengarah pada penguatan yen. Meskipun pelaku pasar sudah memperkirakan BoJ akan menaikkan suku bunga pada September, pernyataan Bessent dinilai dapat mengunci bank sentral tersebut untuk benar-benar melakukannya dan bahkan meningkatkan tekanan untuk mempercepat kenaikan. Namun, baik lonjakan imbal hasil maupun komentar Bessent tidak mampu menghentikan pelemahan yen. Mata uang Jepang tersebut diperdagangkan di level 160,150 per dolar, menembus 160 untuk sesi ketiga berturut-turut, sebuah level yang selama ini dianggap sebagai pemicu potensial intervensi otoritas Jepang.
Menurut Joel Kruger, ahli strategi pasar di LMAX Group London, investor masih fokus pada selisih suku bunga yang tidak menguntungkan bagi Jepang dibandingkan AS, serta keraguan tentang seberapa agresif BoJ akan mengetatkan kebijakannya. "Pasar tampaknya tidak yakin bahwa tekanan verbal saja akan membalikkan pelemahan yen, membuat mata uang ini rentan kecuali BoJ memberikan sinyal yang jelas lebih hawkish atau otoritas melakukan intervensi langsung," ujarnya. Intervensi bersama yang langka dari AS dan Jepang pada akhir Juli lalu memang sempat memberikan bantuan jangka pendek bagi yen, menariknya dari level terendah 40 tahun di 163,99, namun mata uang tersebut telah kehilangan sebagian besar keuntungan dari aksi bersama tersebut.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan pemerintah akan terus menjalin dialog yang erat dengan pasar ketika ditanya tentang kenaikan imbal hasil obligasi. Namun, pernyataan tersebut tidak banyak mengubah sentimen pasar. Di luar yen, dolar tetap didukung secara luas karena para trader meningkatkan taruhan pada kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September, menyusul pernyataan hawkish dari Ketua Fed Kevin Warsh dalam pidato perdananya di simposium Jackson Hole. Warsh menegaskan bahwa Fed "akan memiliki pekerjaan rumah" jika inflasi tidak mendingin, sebuah sinyal terkuat bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan.
Sementara itu, euro melemah 0,2 persen ke 1,1592 dolar AS, setelah inflasi zona euro kembali naik di atas 3 persen pada Agustus akibat biaya energi yang lebih tinggi, memperkuat kasus untuk kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) bulan ini. Sterling juga turun tipis 0,1 persen ke 1,3532 dolar AS. Indeks dolar, yang mengukur pergerakan mata uang AS terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,2 persen ke 99,637. Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia dan Selandia Baru mencapai level tertinggi multi-bulan, masing-masing di 0,7152 dan 0,5900 dolar AS.
Analis memperingatkan bahwa prospek kebijakan moneter AS masih belum pasti, dengan bank sentral kemungkinan akan bergantung pada data ekonomi yang masuk. Jefferies, bank investasi global, menilai bahwa meskipun Warsh ingin menegaskan komitmen Fed pada mandat inflasi, hal itu tidak serta merta berarti siklus kenaikan suku bunga. "Fed akan bergantung pada data, dan kami memperkirakan cetakan inflasi dalam beberapa bulan mendatang akan tetap jinak," kata Mohit Kumar, kepala ekonom Eropa Jefferies. Rangkaian data ekonomi AS pekan ini, yang berpuncak pada laporan nonfarm payrolls Jumat, akan menjadi penentu arah kebijakan Fed selanjutnya.
Bagi Indonesia, gejolak di pasar keuangan global ini membawa implikasi yang tidak bisa diabaikan. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi global berpotensi meningkatkan tekanan pada nilai tukar rupiah dan memicu arus keluar modal asing dari pasar obligasi domestik. Bank Indonesia (BI) perlu mencermati pergerakan ini dan kesiapan untuk melakukan stabilisasi, mengingat ketergantungan pasar keuangan Indonesia pada sentimen global. Di sisi lain, kenaikan harga minyak Brent dapat memperburuk defisit transaksi berjalan dan mendorong inflasi impor, yang pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah BoJ akan benar-benar mengambil tindakan tegas untuk menghentikan pelemahan yen, atau justru membiarkan pasar berjalan hingga intervensi langsung diperlukan. Sementara itu, pasar akan mencermati data ketenagakerjaan AS pada akhir pekan ini sebagai penentu arah kebijakan Fed. Jika data menunjukkan pasar tenaga kerja yang masih kuat, probabilitas kenaikan suku bunga akan semakin besar, yang dapat memperpanjang penguatan dolar dan menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Akankah otoritas moneter di kawasan ini siap menghadapi gelombang berikutnya?



