Gagal Audisi Mad Max, Gal Gadot Justru Tak Menyesal: 'Wonder Woman Bukan Milikku'
Baca dalam 60 detik
- Gal Gadot dan Tom Hiddleston menjalani audisi empat jam untuk Mad Max: Fury Road, namun sutradara George Miller memilih Charlize Theron dan Tom Hardy.
- Kegagalan itu justru membuka jalan bagi Gadot untuk memerankan Wonder Woman, meski kini ia enggan kembali karena prioritas keluarga.
- Gadot mengkritik cara DC Studios menangani kepergian aktor seperti Henry Cavill, namun tetap bersyukur pernah menjadi bagian dari waralaba tersebut.

Gal Gadot mengungkapkan pengalaman pahitnya saat mengikuti audisi selama empat jam untuk film Mad Max: Fury Road bersama Tom Hiddleston, namun keduanya harus rela ditolak oleh sutradara George Miller. Kini, sang aktris justru merasa bersyukur karena kegagalan tersebut membawanya pada peran ikonik Wonder Woman, meski ia mengakui bahwa karakter itu bukanlah miliknya.
Dalam podcast Happy Sad Confused yang dipandu Josh Horowitz, Gadot menceritakan momen menegangkan itu. Ia dan Hiddleston menjalani screen test di sebuah rumah mewah di London pada musim dingin. "Saya datang dengan pakaian tebal, tapi keluar hanya mengenakan tank top. Kami bekerja sangat intens dan banyak mengambil gambar. Sungguh luar biasa," kenang Gadot. Meski merasa telah memberikan yang terbaik, Miller akhirnya memilih Charlize Theron sebagai Imperator Furiosa dan Tom Hardy sebagai Max Rockatansky.
Keputusan Miller sempat membuat Gadot kecewa, terutama karena ia merasa chemistry-nya dengan Hiddleston sangat kuat. "Dia aktor teater hebat di Inggris. Kami tidak saling kenal sebelumnya, tapi kerja sama kami terasa luar biasa," ujarnya. Namun, Gadot memahami visi sang sutradara. "Dia punya gambaran jelas tentang apa yang dia inginkan. Itu luar biasa," tambahnya.
Kegagalan itu justru menjadi pintu masuk bagi Gadot ke dunia superhero. Ia kemudian memerankan Wonder Woman dalam empat film, termasuk dua film solo yang sukses besar. Namun, rencana sekuel ketiga batal setelah James Gunn dan Peter Safran mengambil alih DC Studios dan mengubah arah alam semesta sinematik DC. Gadot mengaku tidak akan kembali memerankan karakter tersebut karena alasan keluarga. "Dengan empat anak dan sekolah yang berbeda, saya tidak bisa meninggalkan mereka terlalu lama. Itu tidak cocok lagi dengan hidup saya," tegasnya.
Gadot juga menyoroti cara DC Studios memperlakukan aktor-aktornya, termasuk Henry Cavill dan sutradara Patty Jenkins. "Situasi Henry tidak ditangani dengan elegan, begitu juga Patty. Kami semua dewasa dan baik-baik saja," ujarnya. Meski demikian, ia tetap bersyukur pernah menjadi bagian dari waralaba tersebut. "Karakter ini sangat berarti bagi banyak orang. Itu tidak pernah milikku. Saya hanya wadah. Ini Hollywood," pungkasnya.
Kisah Gadot ini menarik untuk dicermati di tengah industri hiburan Indonesia yang juga kerap diwarnai perebutan peran dan perubahan arah kreatif. Bagi sineas dan aktor Tanah Air, pengalaman Gadot mengajarkan bahwa kegagalan bukan akhir segalanya, melainkan bisa menjadi batu loncatan menuju kesuksesan yang lebih besar. Selain itu, pernyataan Gadot tentang pentingnya keseimbangan antara karier dan keluarga relevan dengan tren aktor Indonesia yang mulai berani menolak proyek demi prioritas pribadi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana DC Studios akan mengembangkan karakter Wonder Woman tanpa Gadot. Akankah mereka mencari pengganti yang mampu membawa warisan karakter tersebut, atau justru menguburnya dalam waktu lama? Sementara itu, para penggemar di Indonesia yang selama ini mengidolakan Gadot sebagai Wonder Woman tentu berharap ia tetap terlibat dalam proyek-proyek besar lainnya, meski bukan sebagai pahlawan super Amazon.



